31 Juli 2010
Tilawah Merupakan Bagian Tugas Kerasulan
Tilawah yang artinya adalah membaca, adalah merupakan tugas yang pertama di antara tugas-tugas kerasulan lainnya, yauitu tazkiyah, taklim dan hikmah. Tugas membaca ayat-ayat Allah dipandang sedemikian penting, oleh karena membaca adalah merupakan pintu mendapatkan ilmu pengetahuan. Tidak akan mungkin diperoleh ilmu pengetahuan tanpa melalui kegiatan membaca.
Dalam bahasa ilmu pengetahuan, kegiatan membaca terhadap alam, sosial dan humaniora disebut observasi, eksperimen, dan penalaran logis. Apa yang dibaca atau dieksperimentasikan adalah ayat-ayat Allah, yaitu alam semesta. Sedangkan alam semesta, dalam hazanah ilmu pengetahuan dibedakan menjadi tiga, yaitu pertama, alam fisik yang selanjutnya disebut ilmu-ilmu alam, kedua, perilaku manusia disebut ilmu sosial, dan ketiga, humaniora.
Bagian dari ilmu alam adalah fisika, biologi, kimia dan matematika, sedangkan ilmu-ilmu sosial adalah sosiologi, psikologi, sejarah dan antropologi atau budaya dan adapun yang termasuk dalam kategori humaniora adalah filsafat, bahasa dan sastra, dan seni. Semua itu adalah ayat-ayat Allah yang diperintahkan untuk dibaca yang dalam bahaya al Qurán disebut dengan tilawah.
Mengikuti pemahaman tersebut, maka sebenarnya tatkala para siswa di sekolah atau madrasah belajar biologi, fisika, kimia, matematika, sosiologi, psikologi, sejarah, antropologi, filasafat, bahasa dan sasstra, dan seni, manakala kegiatan itu diniati untuk melakukan tilawah yang didasari oleh niat karena Allah, maka kegiatan itu adalah mebjadi bagian penting dari menjalankan perintah Islam.
Bertilawah terhadap ayat-ayat Allah adalah bagian dari menjalankan Islam. Di antara tugas Rasul pun adalah mengajak umatnya bertilawah. Oleh karena itu, sebenarnya tidak ada yang harus dibedakan antara ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu Islam. Islam sendiri mengajurkan umat manusia untuk membaca jagad raya ini. Bahkan juga, ayat al Qurán yang pertama kali diturunkan, adalah perintah membaca.
Perintah tersebut dalam riwayatnya diulang-ulang oleh Malaikat Jibril. Padahal saat itu, di sekitar Nabi tidak tersedia buku, atau bahan bacaan lainnya. Sedangkan yang ada adalah pemandangan yang luas yang dapat dilihat dari atas bagian gunung di mana utusan Allah itu sedang berada. Selain itu, betapa lagi terhadap pentingnya persoalan ilmu pengetahuan, maka di antara Nama-Nama Allah yang diperkenalkan pertama kali adalah juga Yang Maha Pencipta.
Kegiatan membaca adalah merupakan pintu atau awal bagi siapapun untuk memahami sesuatu, baik membaca tulisan yang telah dibuat orang lain, maupun membaca jagad raya ini. Sedangkan pada saat sekarang, ------oleh para ilmuwan, alam raya telah diformulasikan dalam berbagai jenis ilmu sebagaimana dikemukakan di muka. Sehingga, dengan kemajuan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini, maka kegiatan membaca bisa dilakukan secara langsung, melalui buku atau observasi di alam terbuka atau di laboratorium-laboratorium sebagai pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, pekerjaan para peneliti di berbagai bidang ilmu pengetahuan, sebenarnya adalah sangat tepat dimaknai sebagai wujud dalam memenuhi tugas-tugas, sebagaimana dilakukan oleh Rasul Allah, yaitu bertilawah. Kegiatan dalam bentuk mengkaji ilmu alam, ilmu-ilmu sosial, dan humaniora seharusnya sampai hingga berhasil mengantarkan seseorang untuk bertasbih. Hanya pada kenyataannya, selama ini kegiatan itu terputus atau berhenti pada tatkala sebatas tahu, dan atau sekedar dinyatakan lulus ujian.
Bertilawah untuk mengantarkan seseorang pada kesadaran, hingga menyatakan pengakuan terhadap Ke-Maha Sucian Allah atau bertasbih inilah sesungguhnya merupakan puncak atau buah dari ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, semestinya kaum muslimin dengan semangat bertilawah tersebut, selalu berada di depan, menjadi pelopor pengembangan ilmu pengetahuan. Tidak semestinya kaum muslimin, ------sebagaimana keadaannya sekarang ini, mengalami keter tertinggalan dari umat lain. Ketertinggalan itu, kiranya disebabkan oleh kurang atau terbatasnya dalam bertilawah terhadap ayat-ayat Allah, berupa alam semesta. Wallahu a’lam.
Dalam bahasa ilmu pengetahuan, kegiatan membaca terhadap alam, sosial dan humaniora disebut observasi, eksperimen, dan penalaran logis. Apa yang dibaca atau dieksperimentasikan adalah ayat-ayat Allah, yaitu alam semesta. Sedangkan alam semesta, dalam hazanah ilmu pengetahuan dibedakan menjadi tiga, yaitu pertama, alam fisik yang selanjutnya disebut ilmu-ilmu alam, kedua, perilaku manusia disebut ilmu sosial, dan ketiga, humaniora.
Bagian dari ilmu alam adalah fisika, biologi, kimia dan matematika, sedangkan ilmu-ilmu sosial adalah sosiologi, psikologi, sejarah dan antropologi atau budaya dan adapun yang termasuk dalam kategori humaniora adalah filsafat, bahasa dan sastra, dan seni. Semua itu adalah ayat-ayat Allah yang diperintahkan untuk dibaca yang dalam bahaya al Qurán disebut dengan tilawah.
Mengikuti pemahaman tersebut, maka sebenarnya tatkala para siswa di sekolah atau madrasah belajar biologi, fisika, kimia, matematika, sosiologi, psikologi, sejarah, antropologi, filasafat, bahasa dan sasstra, dan seni, manakala kegiatan itu diniati untuk melakukan tilawah yang didasari oleh niat karena Allah, maka kegiatan itu adalah mebjadi bagian penting dari menjalankan perintah Islam.
Bertilawah terhadap ayat-ayat Allah adalah bagian dari menjalankan Islam. Di antara tugas Rasul pun adalah mengajak umatnya bertilawah. Oleh karena itu, sebenarnya tidak ada yang harus dibedakan antara ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu Islam. Islam sendiri mengajurkan umat manusia untuk membaca jagad raya ini. Bahkan juga, ayat al Qurán yang pertama kali diturunkan, adalah perintah membaca.
Perintah tersebut dalam riwayatnya diulang-ulang oleh Malaikat Jibril. Padahal saat itu, di sekitar Nabi tidak tersedia buku, atau bahan bacaan lainnya. Sedangkan yang ada adalah pemandangan yang luas yang dapat dilihat dari atas bagian gunung di mana utusan Allah itu sedang berada. Selain itu, betapa lagi terhadap pentingnya persoalan ilmu pengetahuan, maka di antara Nama-Nama Allah yang diperkenalkan pertama kali adalah juga Yang Maha Pencipta.
Kegiatan membaca adalah merupakan pintu atau awal bagi siapapun untuk memahami sesuatu, baik membaca tulisan yang telah dibuat orang lain, maupun membaca jagad raya ini. Sedangkan pada saat sekarang, ------oleh para ilmuwan, alam raya telah diformulasikan dalam berbagai jenis ilmu sebagaimana dikemukakan di muka. Sehingga, dengan kemajuan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini, maka kegiatan membaca bisa dilakukan secara langsung, melalui buku atau observasi di alam terbuka atau di laboratorium-laboratorium sebagai pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, pekerjaan para peneliti di berbagai bidang ilmu pengetahuan, sebenarnya adalah sangat tepat dimaknai sebagai wujud dalam memenuhi tugas-tugas, sebagaimana dilakukan oleh Rasul Allah, yaitu bertilawah. Kegiatan dalam bentuk mengkaji ilmu alam, ilmu-ilmu sosial, dan humaniora seharusnya sampai hingga berhasil mengantarkan seseorang untuk bertasbih. Hanya pada kenyataannya, selama ini kegiatan itu terputus atau berhenti pada tatkala sebatas tahu, dan atau sekedar dinyatakan lulus ujian.
Bertilawah untuk mengantarkan seseorang pada kesadaran, hingga menyatakan pengakuan terhadap Ke-Maha Sucian Allah atau bertasbih inilah sesungguhnya merupakan puncak atau buah dari ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, semestinya kaum muslimin dengan semangat bertilawah tersebut, selalu berada di depan, menjadi pelopor pengembangan ilmu pengetahuan. Tidak semestinya kaum muslimin, ------sebagaimana keadaannya sekarang ini, mengalami keter tertinggalan dari umat lain. Ketertinggalan itu, kiranya disebabkan oleh kurang atau terbatasnya dalam bertilawah terhadap ayat-ayat Allah, berupa alam semesta. Wallahu a’lam.
5 komentar
Kang Kolis
Bagus dan menyadarkan!
Tks Prof.
Tks Prof.
Khairil Anwar
Kelemahan umat Islam tidak hanya dalam bidang tilawah (tala-yatlu), tapi juga qira'ahnya (qara'a-yaqra'u-iqra'). Tilawah, dalam konteks, membaca terhadap objek benda yang tertulis, seperti membaca Al-Qur'an. Berdasarkan survey, sekitar 100 juta penduduk Muslim yang tidak memiliki kitab suci Al-Qur'an. Hal ini dapat diartikan sejumlah itu pula kira-kira yang tidak mampu membaca Al-Qur'an. Hal ini juga terbukti semakin banyak anak-anak remaja kita yang belum fasih membaca Al-Qur'an. Oleh karena itu, agaknya perlu upaya penggalakan pembinaan membaca Al-Qur'an di rumah, masjid, dan mushallah. Bukankah Nabi mengatakan: "Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya". Artinya, yang terbaik bagi siswa adalah lebih dulu belajar Al-Qur'an dan menjunjung tinggi profesi guru yang mengajarkan Al-Qur'an. Khusus yang terakhir ini, profesi guru mengajarkan Al-Qur'an kurang diperhatikan oleh masyarakat dan pemerintah. Sedangkan qira'ah (Iqra bismirabbik), dalam kontek, membaca objek yang tertulis dan yang tidak tertulis, membaca ayat-ayat qur'aniyah dan ayat-ayat kawniyyah (alam semesta). Keduanya berasal dari Yang Satu. Oleh karena itu, tampaknya, tidaklah mungkin terjadi perbedaan antara keduanya. Di sinilah, yang diinginkan oleh Prof. Imam, tidak ada perbedaan (dikotomi) ilmu agama dan umum. Saya sungguh sangat mendukung keinginan tersebut. Kalau seperti ini yang terjadi, saya yakin tidak hanya aspek kognitif-intelektualnya yang maju, melainkan juga aspek emosional-spiritual (karakter) anak bangsa ini akan lebih baik.
fathul ulum
karya tulis harap dibukukan di bantukan Ke MAN/MAS se malang raya
Sarkowi
Pertama kali yang disinggung Alquran adalah ilmu. Ini terbukti bagaimana ayat pertama Alquran memberi perintah kepada umat Islam untuk 'membaca', yang tentunya memiliki keterkaitan dengan ilmu. Akan tetapi kini umat Islam mengalamai ketertinggalan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan dan tradisi keilmuan yang dirasakan pada masa keemasan seakan sirna tanpa bekas. Padahal sebelumnya umat Islam selalu menjadi trend setter peradaban, namun kini berubah menjadi penikmat atau bahkan korban peradaban. Kondisi tersebut disebabkan ditinggalkannya nilai-nilai fundamental Islam oleh umatnya sendiri. Ilmu, tradisi membaca dan menulis, serta sikap kritis tampaknya semakin menjauh. Kini tak ada lagi kemajuan-kemajuan yang secara fenomenal dicapai oleh umat Islam, terutama ilmuwan Muslim. Bahkan di dunia Islamtak ada sebuah lembaga ilmu pengetahuan pun yang mendunia. Mudah-mudahan UIN Maliki Malang menjadi trend setter peradaban dan lembaga ilmu pengetahuan yang mendunia. Amiin. Wallahu’alam
QvsRvBYRyN
EniUUb <a href="http://ywitgvfpvulu.com/">ywitgvfpvulu</a>, [url=http://nfbjpyijmeeq.com/]nfbjpyijmeeq[/url], [link=http://ppvszgscgtlb.com/]ppvszgscgtlb[/link], http://dkfachyifcnf.com/