28 Juli 2010
Kebersamaan Pintu Keberhasilan

Masih terlalu banyak penduduk di Indonesia yang mengalami kesulitan dalam hidup. Mereka hidup miskin, tingkat pendidikannya rendah, dan pekerjaan mereka sehari-hari kurang mendatangkan keuntungan. Demikian pula secara politik dan sosial kurang teruntungkan. Kondisi seperti itu juga masih diperparah oleh pribadi atau kelompok yang mengambil keuntungan dari kelemahan dan kesengsaraan itu.


Para pemimpinnya sampai saat ini juga masih belum menemukan jalan keluar dari kesengsaraan itu. Rupanya tidak banyak orang yang memikirkan untuk mencari jalan keluar. Bahkan kebanyakan sudah tidak hirau lagi. Para tokoh sudah memikirkan kepentingan diri mereka sendiri, sekalipun sekali-kali dalam berbicara tidak sedikit yang mengatas-namakan untuk kepentingan umat. Rupanya tidak jelas siapa yang dimaksudkan dengan umat itu.


Sekalipun dalam al Qur’an terdapat peringatan keras bahwa orang yang tidak me mperhatikan orang miskin dan anak yatim adalah sama artinya dengan berbuat bohong terhadap agama, tokh masih sangat terbatas orang yang mau memperhatikan rang-orang yang sengsara itu. Orang miskin dan juga anak yatim yang amat sengsara masih banyak berkeliaran di pinggir-pinggir jalan, di perempatan jalan meminta-minta kepada pengendara kendaraan tatkala lampu merah yang mengaharuskan semua kendaraan berhenti. Mereka merasa cukup dengan hanya memberikan sekeping rupiah berangka kecil. Tidak ada yang berpikir bahwa manusia-manusia miskin itu perlu uluran tangan yang bermakna mengentaskan dari dunia yang menyengsarakan itu.


Organisasi sosial keagamaan rupanya sudah mulai tidak memiliki kekuatan untuk ikut menyelesaikan persoalan itu. Yang mereka lakukan sebatas mengadakan pengajian di antara kelompok-kelompok setara. Pikiran maupun pandangan yang diperoleh dari pengajian juga belum mampu menggerakkan hati sanubari mereka untuk melakukan langkah-langkah kongkrit, misalnya menggalang dana yang sekiranya diperlukan untuk mengatasi persoalan itu. Dalam pengajian biasanya dirasa cukup jika pembicaranya menarik, dan di sana-sini diselingi lelucon yang mengundang tawa. .


Pintu keluar dari kesengsaraan itu sesungguhnya telah tersedia dalam al Qur’an, yaitu (1) bertolong menolonglah dalam kebaikan, (2). Ajaklah ke agama Islam dengan sebenarnya, artinya ke suasana keselamatan, yaitu selamat dari kebodohan, kemiskinan, dari niat batin dan perilaku buruk, perkukuh silaturrakhiem, (3) lakukan kebaikan itu melalui jalan yang baik, (4) bersikaplah ikhlas, syukur, tawakkal dan istiqomah.


Ajaran itulah yang disebut Islam dan sesungguhnya semua itu merupakan pintu keluar dari kegelapan menuju kehidupan yang lebih damai, luhur dan bermartabat bagi semua dan bukan hanya secara kelompok apalagi sendirian. Islam tidak mengajarkan hidup dan bahagia sendirian melainkan selalu mengajak berjama’ah. Kebersamaan dalam kebaikan itulah sebenarnya pintu segala keberhasilan. Wallahu a’lam

1 komentar

fathul ulum
artikelnya cukup bagus (fathul ulum MA BU jatisari tajinan) guru biologi dan qur'an hadis


Nama :
Email :
Komentar :
Kalender
Berita Terbaru
Web Polling