8 Maret 2010
Pemimpin Perubahan

Pada setiap waktu, banyak orang menginginkan menjadi pemimpin. Motif mereka itu bermacam-macam. Ada yang sebatas ingin mendapatkan prestise, fasilitas, penghormatan, dan nama besar. Namun di balik itu, sesungguhnya ada juga yang benar-benar tulus, ingin membuat perubahan supaya lembaga atau masyarakat yang dipimpinnya menjadi lebih baik.

Motivasi yang berbeda-beda itu biasanya juga melahirkan model atau gaya kepemimpinan yang beraneka ragam. Mereka yang menjadi pemimpin dengan motif agar mendapatkan prestise, fasilitas, dan kehiormatan, biasanya hati-hati, tidak banyak mengambil keputusan yang beresiko, agar posisinya tetap bertahan. Kepemimpinan seperti ini biasanya menginginkan suasana stabil dan tenang. Pemimpin seperti ini membutuhkan anak buah yang loyal sekalipun tidak pintar. Sebaliknya, orang-orang yang beroposisi diwaspadai dan dilemahkan. Bahkan , kalau perlu dibuang jauh-jauh. Istilah adanya orang-orang buangan, sesungguhnya muncul dari adanya pemimpin yang menghendaki rasa aman dan hanya mengejar kenikmatan itu.

Pemimpin seperti itu biasanya membutuhkan orang-orang yang loyal atau yang selalu menurut perintahnya. Anak buah lemah sedikit tidak mengapa, dan itulah bahkan yang dicari. Orang seperti itu dianggap mengamankan dirinya, karena tidak akan menganggu dan apalagi merebut posisinya. Sebaliknya, pemimpin seperti itu tidak suka dengan orang yang lebih pintar, khawatir akan menjadi saingannya. Oleh karena itu melihat kehebatan pemimpin, secara sederhana bisa dilihat dari orang-orang yang berada di sekitarnya. Jika yang mengelilinginya adalah orang yang tidak pernah berprestasi, penurut, bahkan ngatok, maka kualitas pemimpin itu rendah dan, begitu juga sebaliknya.

Beberapa kali saya ketemu dengan beberapa bupati. Dalam kesempatan itu, saya menanyakan tentang ukuran apa yang utama digunakan, tatkala mengangkat bawahannya. Saya sangat terkejut, mendapatkan jawabannya. Bupati yang saya anggap hebat-hebat itu, ternyata tatkala memilih anak buah, mereka mencari yang loyal. Saya tanyakan apakah tidak memilih di antara yang cakap dan pintar. Bupati tersebut masih berdalih, bahwa orang cakap dan pintar, jika tidak loyal, malah akan merepotkan. Birokrasi tidak akan jalan, katanya, jika terdapat orang pintar atau cerdas tetapi tidak loyal.

Beberapa kepala daerah yang saya maksudkan mengatakan bahwa membuat orang loyal sangat sulit, dan berbeda dengan menjadikan orang pintar. Untuk menjadikan para staf meningkat kepintarannya, cukup disuruh kursus atau disekolahkan. Tetapi untuk menjadikan mereka loyal, ternyata tidak ada sekolahnya. Memintarkan seseorang oleh bupati dianggap gampang, tetapi membuat orang loyal, menurut mereka, sulitnya bukan main. Oleh karena itu, ternyata orang bodoh pun masih beruntung, ada orang yang mencarinya, asal loyal.

Pemimpin seperti itu, biasanya menghendaki suasana stabil. Mereka mencari cara-cara agar kedudukannya aman, sekalipun tidak maju. Pemimpin tersebut tidak mau mengambil resiko. Untuk mempertahankan kedudukannya, mereka membangun kharisma di tengah-tengah masyarakat yang dipimpinnya. Caranya, mereka mematut-matutkan diri sebagai orang yang berwibawa. Kalau perlu ruangan kantor dan tempat duduknya dipilih yang sekiranya mendatangkan kewibawaan itu. Apa saja, pemimpin model seperti itu, minta dilayani, hingga yang terkecil, misalnya kaca mata bacanya saja harus dibawakan.

Model kepemimpinan seperti itu, biasanya institusi atau masyarakatnya tidak maju, tetapi stabil. Mereka berhasil mendapatkan banyak fasilitas, presitse, dan kehormatan sebagaimana yang diinginkan, sekalipun sebatas kehormatan yang berasal dari para anak buahnya. Pemimpin seperti itu tidak banyak resiko. Namun sesungguhnya juga banyak merugikan, karena biasanya akan melahirkan sikap munafik atau loyal semu, stagnan, dan bahkan juga mental korup.

Berbeda dengan model pemimpin tersebut di muka, adalah pemimpin perubahan. Pemimpin model ini sangat berbeda dengan pemimpin yang hanya ingin mendapatgkan fasilitas, prestise, dan kehormatan, sebagaimana dikemukakan di muka. Pemimpin seperti ini, biasanya kaya ide, mau memperjuangkan idenya itu agar terlaksana, dan yang paling penting lagi, adalah bahwa pemimpin perubahan selalu berani mengambil resiko atas segala pelaksanaan idenya itu.

Pemimpin perubahan biasanya akan memilih orang-orang yang memiliki kelebihan, bahkan kalau perlu melebihi kapabilitas dirinya. Mereka tidak takut kedudukannya diambil alih oleh teman dan bahkan oleh staf yang ternyata lebih pintar. Pemimpin seperti ini, melihat keberhasilan kepemimpinannya benar-benar akan terjadi, jika ditopang oleh orang-orang yang berkualitas tinggi, dan bukan sebatas orang-orang berbekalkan loyalitas semata. Kalaupun loyalitas itu dianggap perlu, maka bukan loyal terhadap orang, atau pribadi pemimpinnya, melainkan terhadap visi atau cita-cita besarnya.

Dalam kepemimpinan seperti ini, orang-orang pintar dan mereka yang memiliki keahlian tinggi sangat beruntung. Mereka akan mendapatkan kesempatan melakukan sesuatu untuk mengekspresikan kepintaran dan keahliannya. Bahkan, pemimpin perubahan, karena menyukai orang-orang pintar, akan selalu memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada siapapun untuk meningkatkan kemampuannya, dengan cara studi lanjut, kursus, dan lain-lain. Orang pintar dalam keadai ini mendapatkan tempat terhormat di bawah seorang pemimpin perubahan.

Hanya sayangnya, jenis pemimpin perubahan ini tidak selalu muncul di banyak tempat. Sebaliknya yang justru banyak adalah pemimpin yang hanya berorientasi agar mendapatkan fasilitas, prestise, kehormatan, rasa aman, dan berbagai kenikmatan lainnya. Oleh karena yang dikejar adalah hal yang bersifat kenikmatan yang sejenisnya itu, maka untuk meraih posisi kepemimpinan pun, mereka sanggup mengeluarkan uang berapapun yang mereka punyai. Namun akibatnya, jika institusi atau masyarakat dipimpin oleh orang seperti itu, maka resiko dan akibatnya tidak akan maju. Kapan dan di manapun pemimpin perubahan itu selalu diperlukan dan ditunggu-tunggu kehadirannya. Wallahu a’lam.

6 komentar

muttaqin
Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya, al Mu'minun 8. seharusnya seorang pemimpin harus bisa memikul amanah, mengembangkan organisasinya sebagai seorang visioner. itulah pemimpin bukan hanya meminta fasilitas dan menikmati jabatan yang diembanya. semoga kita selalu dijaga dari hal-hal yang dholim sebagai seorang pemimpin utama memimpin diri sendiri.
KHOIRUL ANWAR
Assalamu'alaikum...............
sebelumnya saya adalah salah satu santri di Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini Pasuruan, saya sangat kagum dengan bapak yang selalu menyempatkan diri untuk menulis artikel setiap pagi, itu awal mulanya bagaimana, saya ingin bisa setiap hari menulis artikel, sebelumnya terima kasih
Rayamangsi
setiap kita punya potensi jadi pemimpin, tapi kadang lupa makna atau hakikat pemimpin itu, maka jadilah pemimpin yang bukan untuk kemajuan dan perubahan, tapi staknan
ahmad muradi
saya ingin menambahkan apa yang bapak sampaikan mengenai gaya kepemimpinan. satu hal yang sering dijadikan perhitungan dalam memilih bawahan atau staf adalah segolongan apa tidak, satu organisasi apa tidak. hal ini juga menjadikan kemajuan dalam suatu lembaga apalagi lembaga pendidikan menjadi mandeg. tks. atas pencerahannya
Arif hidayat
aq sungguh salut dengan kepribadian prof. yang setiap harinya menuangkan waktu bwt menuliskan tinta yang bgitu membuat diriku sendiri berubah....
karna IBDA' BINAFSI....
QCCTJkIZpe
wpSLuP <a href="http://jxgcmphijuyt.com/">jxgcmphijuyt</a>, [url=http://twtgmuxnqqxw.com/]twtgmuxnqqxw[/url], [link=http://sygasidxoalc.com/]sygasidxoalc[/link], http://nxvguyhiaqmj.com/


Nama :
Email :
Komentar :
Kalender
Berita Terbaru
Web Polling