6 Maret 2010
Para Koruptor Itu Sebenarnya Siapa ?
Tulisan singkat ini saya buat, dengan maksud mengajak, bersama-sama melihat secara jernih, hati-hati, dan sungguh-sungguh, siapa sebenarnya para koruptor itu. Jawaban ini penting diketahui, agar tidak ada pihak-pihak yang sebenarnya benar tetapi disalahkan dan atau sebaliknya, salah tetapi selalu dibenarkan. Dengan mengetahui latar belakang pelaku koruptor itu, maka tidak terjadi anggapan yang salah, dan begitu pula peta dan pelaku koruptor itu menjadi jelas.
Saya sangat sedih mendengar ungkapan yang tidak semestinya, dilontarkan secara sembrono atau gegabah, misalnya, sebagai berikut : “Bangsa ini paling banyak penduduknya yang muslim, tetapi koruptornya juga paling banyak”. Kalimat yang bernada sama dikatakan : “ Negeri ini setiap tahun paling banyak penduduknya yang naik haji, tetapi juga paling parah korupsinya”. Ungkapan lainnya, masjidnya banyak tetapi korupnya juga begitu banyak.
Kalimat-kalimat senada itu seringkali terdengar dalam berbagai kegiatan, seperti dalam ceramah, diskusi, pembicaraan tidak resmi, dan lain-lain. Seolah-olah kalimat itu benar, atau mungkin juga dengan maksud benar, sebagai peringatan agar yang telah naik haji, rajin ke masjid, sholat lima waktu, dan seterusnya tidak melakukan korupsi lagi. Ungkapan seperti itu, seolah-olah bahwa ibadah haji, sholat lima waktu, dan sejenisnya tidak berdampak apa-apa terhadap perilaku seseorang. Padahal, yang korupsi dan yang mengemplang dan membobol bank itu orangnya berbeda dengan yang naik haji dan juga yang ada di masjid-masjid atau di tempat ibadah lainnya.
Ungkapan secara sembrono dan gegabah seperti tersebut di muka, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa keberagamaan, seperti sholat, haji, tidak ada kaitannya dengan perbaiki karakter, watak, dan perilaku seseorang. Memang pada kenyataannya, ada orang-orang yang pernah berhaji tetapi juga melakukan korupsi, rajin sholat, teapi juga masih menyimpang tatkala bekerja di kantor dan seterusnya. Tetapi yang rupanya tidak pernah dilihat adalah siapa sesungguhnya pihak-pihak yang paling banyak melakukan korupsi itu, apalagi dalam ukuran besar, hingga triliyunan rupiah selama ini.
Secara lebih jelas, jika terdengar ada bank bangrut, karena sengaja dibangkrutkan oleh pemiliknya, dan uangnya dilarikan ke luar negeri, atau ada pengemplang, dan bahkan ada cukong, dan apalagi terakhir ada markus atau makelar kasus tingkat kakap, sesungguhnya siapa mereka itu. Saya belum pernah mendengar, bahwa kejahatan ekonomi kelas kakap itu dilakukan oleh para jamaáh haji, atau orang yang rajin ke masjid, apalagi seorang takmir masjid. Dalam kasus yang paling hangat, bank centrury misalnya, siapa yang membobol dana sekian triliyun, dan akhirnya pemerintah merasa harus menalangi itu. Pelaku kejahatan keuangan itu, jelas bukan orang yang rajin ke tempat ibadah.
Melihat secara jelas pelaku kejahatan itu adalah sangat penting, apalagi di tengah-tengah upaya meperbaiki perilaku, watak, karakter bangsa yang akhir-akhir ini mulai disadari dan dianggap mendesak dilakukan. Perlu dikhawatirkan jangan-jangan, mereka yang sekedar terkena pengaruh budaya jahat itu, justru yang dijadikan kambing hitam, sedangkan sumber utama pelakunya tidak pernah mendapatkan perhatian, apalagi akhirnya dianggap sebagai pahlawan.
Saya meyakini, bahwa orang-orang yang melakukan kejahatan korupsi, apalagi korupsi kelas kakap, pembobolan dana bank triliyiunan rupiah, juga mereka yang menjadi cukong termasuk cukong politik di mana-mana, menjadi markus atau makelar kasus, mereka itu adalah bukan orang-orang yang dekat dengan tempat ibadah, dekat dengan kitab suci, dan juga dekat dengan kegiatan-kegiatan keagamaan -----agama apapun. Saya meyakini bahwa seseorang yang memiliki keimanan yang kokoh, selalu mendekatkan kepada Tuhannya, memegangi kitab suci-Nya secara sungguh-sungguh, mereka tidak akan melakukan korupsi atau kejahatan lainnya.
Tidak perlu menutup mata, bahwa memang ada orang yang pernah naik haji, sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan tetapi masih melakukan kesalahan, dan mungkin juga korupsi, yang akhirnya masuk penjara. Tetapi juga tidak selalu demikian, bahwa yang haji itu korup dan jahat. Sama halnya, orang sekolah dan kuliah, tidak selalu berhasil menjadi pintar. Ada pula yang gagal dan tidak lulus. Demikian pula baik orang-orang yang naik haji, sholat, puasa dan lain-lain, tidak semua mabrur atau diterima ibadahnya itu.
Secara sederhana, saya tidak yakin bahwa orang yang pernah haji tetapi masih melakukan korupsi , adalah orang-orang yang hatinya benar-benar dekat dengan ka’bah, dekat dengan masjid, atau dekat dengan jenis tempat-tempat ibadah lainnya. Orang-orang yang masih berani mengabaikan ajaran agamanya, pertanda bahwa keberagamaannya tidak sungguh-sungguh. Tetapi saya yakin, agama merupakan instrument strategis untuk menjaga kualitas diri bagi pemeluknya. Para koruptor dan pelaku kejahatan adalah orang-orang yang sesungguhnya jauh dari agama, sehingga hatinya kering, atau hampa dari nilai-nilai luhur itu. Wallahu a’lam.
Saya sangat sedih mendengar ungkapan yang tidak semestinya, dilontarkan secara sembrono atau gegabah, misalnya, sebagai berikut : “Bangsa ini paling banyak penduduknya yang muslim, tetapi koruptornya juga paling banyak”. Kalimat yang bernada sama dikatakan : “ Negeri ini setiap tahun paling banyak penduduknya yang naik haji, tetapi juga paling parah korupsinya”. Ungkapan lainnya, masjidnya banyak tetapi korupnya juga begitu banyak.
Kalimat-kalimat senada itu seringkali terdengar dalam berbagai kegiatan, seperti dalam ceramah, diskusi, pembicaraan tidak resmi, dan lain-lain. Seolah-olah kalimat itu benar, atau mungkin juga dengan maksud benar, sebagai peringatan agar yang telah naik haji, rajin ke masjid, sholat lima waktu, dan seterusnya tidak melakukan korupsi lagi. Ungkapan seperti itu, seolah-olah bahwa ibadah haji, sholat lima waktu, dan sejenisnya tidak berdampak apa-apa terhadap perilaku seseorang. Padahal, yang korupsi dan yang mengemplang dan membobol bank itu orangnya berbeda dengan yang naik haji dan juga yang ada di masjid-masjid atau di tempat ibadah lainnya.
Ungkapan secara sembrono dan gegabah seperti tersebut di muka, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa keberagamaan, seperti sholat, haji, tidak ada kaitannya dengan perbaiki karakter, watak, dan perilaku seseorang. Memang pada kenyataannya, ada orang-orang yang pernah berhaji tetapi juga melakukan korupsi, rajin sholat, teapi juga masih menyimpang tatkala bekerja di kantor dan seterusnya. Tetapi yang rupanya tidak pernah dilihat adalah siapa sesungguhnya pihak-pihak yang paling banyak melakukan korupsi itu, apalagi dalam ukuran besar, hingga triliyunan rupiah selama ini.
Secara lebih jelas, jika terdengar ada bank bangrut, karena sengaja dibangkrutkan oleh pemiliknya, dan uangnya dilarikan ke luar negeri, atau ada pengemplang, dan bahkan ada cukong, dan apalagi terakhir ada markus atau makelar kasus tingkat kakap, sesungguhnya siapa mereka itu. Saya belum pernah mendengar, bahwa kejahatan ekonomi kelas kakap itu dilakukan oleh para jamaáh haji, atau orang yang rajin ke masjid, apalagi seorang takmir masjid. Dalam kasus yang paling hangat, bank centrury misalnya, siapa yang membobol dana sekian triliyun, dan akhirnya pemerintah merasa harus menalangi itu. Pelaku kejahatan keuangan itu, jelas bukan orang yang rajin ke tempat ibadah.
Melihat secara jelas pelaku kejahatan itu adalah sangat penting, apalagi di tengah-tengah upaya meperbaiki perilaku, watak, karakter bangsa yang akhir-akhir ini mulai disadari dan dianggap mendesak dilakukan. Perlu dikhawatirkan jangan-jangan, mereka yang sekedar terkena pengaruh budaya jahat itu, justru yang dijadikan kambing hitam, sedangkan sumber utama pelakunya tidak pernah mendapatkan perhatian, apalagi akhirnya dianggap sebagai pahlawan.
Saya meyakini, bahwa orang-orang yang melakukan kejahatan korupsi, apalagi korupsi kelas kakap, pembobolan dana bank triliyiunan rupiah, juga mereka yang menjadi cukong termasuk cukong politik di mana-mana, menjadi markus atau makelar kasus, mereka itu adalah bukan orang-orang yang dekat dengan tempat ibadah, dekat dengan kitab suci, dan juga dekat dengan kegiatan-kegiatan keagamaan -----agama apapun. Saya meyakini bahwa seseorang yang memiliki keimanan yang kokoh, selalu mendekatkan kepada Tuhannya, memegangi kitab suci-Nya secara sungguh-sungguh, mereka tidak akan melakukan korupsi atau kejahatan lainnya.
Tidak perlu menutup mata, bahwa memang ada orang yang pernah naik haji, sholat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan tetapi masih melakukan kesalahan, dan mungkin juga korupsi, yang akhirnya masuk penjara. Tetapi juga tidak selalu demikian, bahwa yang haji itu korup dan jahat. Sama halnya, orang sekolah dan kuliah, tidak selalu berhasil menjadi pintar. Ada pula yang gagal dan tidak lulus. Demikian pula baik orang-orang yang naik haji, sholat, puasa dan lain-lain, tidak semua mabrur atau diterima ibadahnya itu.
Secara sederhana, saya tidak yakin bahwa orang yang pernah haji tetapi masih melakukan korupsi , adalah orang-orang yang hatinya benar-benar dekat dengan ka’bah, dekat dengan masjid, atau dekat dengan jenis tempat-tempat ibadah lainnya. Orang-orang yang masih berani mengabaikan ajaran agamanya, pertanda bahwa keberagamaannya tidak sungguh-sungguh. Tetapi saya yakin, agama merupakan instrument strategis untuk menjaga kualitas diri bagi pemeluknya. Para koruptor dan pelaku kejahatan adalah orang-orang yang sesungguhnya jauh dari agama, sehingga hatinya kering, atau hampa dari nilai-nilai luhur itu. Wallahu a’lam.
4 komentar
Badrun Munir
kehidupan manusia di alam nyata ini tidak pernah merasa puas dengan sesuatu yang telah didapatkan,sehingga dalam kehidupannya selalu merasa kurang dan kurang dalam artian bersifat rakus,terlebih menyangkut masalah harta,sehingga kadang harus merampas hak orang lain hanya untuk memenuhi keinginannya termasuk korupsi,hal itu terjadi bagi orang yang buta hati dan terasa jauh dari pantauan dzat yang yang maha kuasa,pelaku korupsi itu pada hakikatnya telah merampas kebahagiaan hidupannya yang tidak dibatasi zaman demi kebahagian yang bersifat sementara...mudah-mudahan kita semua dilinddungi dari segala larangan-larangan agama...Amin
Abdullah
saya melihat bahwa agama pada jaman sekarang ini sudah dijadikan bahan tameng bagi dirinya supaya terlihat rajin ibadah, khusu', dll. padahal sesungguhnya dibalik itu semua ada misi yang diembannya. tidak usah kita pungkiri, saya mengambil persamaan seperti yang dicontohkan oleh prof Imam dalam tulisan ini. dalam Islam, sesungguhnya sholat itu jika dilaksanakan dengan baik dan benar, maka akan terjadi perubahan pada diri manusia dari yang berkelakuan jahat kepada yang baik..kasus korupsi yang terjadi, mereka mungkin tidak saja karena jauh dari masjid atau tempat ibadah, tetapi mungkin juga walaupun sholatnya tiap hari, tapi dalam sholatnya belum menemukan kebenaran dan ketepatan dalam sholat..sehingga perbuatan-perbuatan jelek seperti korupsi, mencuri, dan perbuatan jahat lainnya tidak akan menjadi hilang..WALLAHUA'LAM
samsul munir
korupsi merupakan bagian dari sifat rakus manusia, dengan kerakusan manusia, kalaupun ia mampu maka seluruh bumi inipun akan dmakannya. pelaku itu kita sering menyebut dengan istilah koruptor. memang benar di negara kita umat muslim adlah umat terbesar dan kita juga sering mendengar bahwa orang yang rajin sholat kok masih saja korupsi. hal ini akan terlihat dilematis klo kita kaitkan dengan firman Allah bahwa sholat akan mencegah dari perbuatan buruk dan munkar. sedangkan sholat yg dimaksud disini tntunya
samsul munir
adalah sholat yang khusu'. Nabi SAW mengajarkan kpada kita bahwa sholat yang khusu' adalah sholat yang mana ketika kita melakukannya maka, seolah-olah kita sedang bertawajjuh denganNya, dan klaupun itu sulit untuk dilakukan maka, cukuplah kita meyakini bahwa segala apa yang kita lakukan maka Allah akan mengetahui kita. sehingga bagi seseorang yg mampu menjalankan konsep sholat yang demikian ini, saya sangat yakin bahwa orang tersebut tidak akan melakukan korupsi. semoga kita tergolong yg demikian amin....