18 Februari 2010
Mitos Yang Melahirkan Etos

Kalau kita ingin tahu di antara negara di dunia ini yang tidak punya hutang, itu di antaranya adalah Iran. Negeri yang dipimpin oleh Ahmad Dinejad, sekalipun mitos tetap jalan tetapi justru melahirkan etos. Bangsa ini dikenal sebagai pemberani. Isu terakhir, negeri ini berkonfrontasi terus dengan Amerika, terutama soal pengembangan nuklir di negeri itu.

Selain keberaniannya itu, yang terkesan bagi saya, tatkala teringat negeri yang dipimpin oleh orang sederhana, -------selalu pakai jas tapi tidak pernah dilengkapi dengan dasi itu, adalah cara berdeplomasi, menghadapi larangan pengembangan nuklir itu. Ahmad Dinejad, Presiden Iran itu selalu merespon dengan kalimat sederhana tapi menyentuh. Ia mengatakan, kalau nuklir itu berbahaya dan jelek, kenapa Amerika Serikat mengembangkannya. Sebaliknya, jika nuklir itu baik, kenapa kami dilarang mengembangkannya.

Masyarakat Iran pada umumnya hidupnya sederhana. Memasuki negeri itu tidak banyak terlihat gambar-gambar reklame sebagaimana di berbagai negeri lainnya. Di banyak tempat, yang selalu tampak adalah gambar-gambar atau foto para tokoh yang dicintainya. Selain itu, di banyak tempat juga dipampang tulisan-tulisan untuk mengingatkan siapa saja pada Tuhan, seperti misalnya Allahu akbar, Alhamdulillah, subhanallah, dan seterusnya.

Di Iran, tempat yang biasa ramai, selain pasar dan pertokoan adalah masjid dan kuburan. Saya lihat di masjid-masjid pada waktu sholat selalu ramai didatangi oleh para jamaŠh. Ketika berkunjung ke Iran, saya belum pernah melihat ada masjid di waktu sholat sepi, atau hanya didatangi oleh sedikit jamaŠh. Biasanya masjid pada waktu-waktu sholat selalu dipenuhi oleh orang berjamaŠh.

Tempat lainnya yang ramai adalah kuburan. Apalagi kuburan orang-orang yang dianggap sebagai tokoh suci, seperti makam Imam Ali Ridho di Masyhad, makam Fatimah, putri Rasulullah di Qum, makam Ayatullah Khumaini di Teheran dan lain-lain. Dua kuburan yang disebut pertama sehari-hari sangat ramai. Orang selalu berdesak-desakan di sekitar tempat itu, berebut untuk mendekat makam. Makam Imam Khumaini, sekalipun banyak didatangi orang, tetapi karena lokasinya sedemikian luas, tidak tampak berjejal-jejal.

Saya melihat di Iran, kuburan seperti dijadikan sebagai tempat rekreasi spiritual. Di tempat-tempat itu orang berdoa. Laki-laki maupun perempuan, sehari-hari tampaknya belum merasa cukup, kalau belum berdoa ke masjid dan juga di makam. Pemandangan seperti itu tidak banyak terlihat di Indonesia, sekalipun mayoritas penduduknya muslim. Jika ada seperti itu, hanya terbatas di tempat-tempat tertentu, misalnya di makam Wali Songo. Terakhir, kabarnya juga ramai para peziarah di makam Gus Dur, di Tebu Ireng, Jombag.

Apa yang terjadi di Iran itu, agak terasa kontras. Pada satu sisi, orang Iran menyukai hal yang bersifat mitos, tetapi pada sisi lain, Iran ternyata dalam pengembangan ilmu dan teknologi juga maju. Selain berani mengembangkan teknologi nuklir yang sangat beresiko itu, mereka juga berhasil mengembangkan berbagai penelitian lainnya. Melihat ramainya kuburan, seolah-olah bangsa Iran hanya mengembangkan mitos-mitos sebagai simbol ketertinggalan. Tetapi ternyata, di negeri itu pusat-pusat penelitian maupun perguruan tinggi cukup maju.

Hal menarik, terkait dengan perguruan tingggi di sana, ada sesuatu yang aneh dan perlu dihargai, yaitu tentang fakultas kedokterannya. Khusus fakultas kedokteran dan Sastra Parsi, di kampus-kampus di IIran, mahasiswanya tidak perlu membayar biaya apapun. Semua harus digratiskan. Alasannya, jika mahasiswa fakultas kedokteran harus membayar, dikhawatirkaika setelah lulus akan mencari kembalian uang yang telah dibayarkan sebelumnnya. Apalagi, sebagaina profesinya, uang itu dipungut dari orang sakit atau lagi kesusahan.

Orang-orang Iran selain aktif berkunjung ke kuburan, juga ke pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Di Iran masjid-masjid selalu dilengkapi dengan perpustakaan. Jumlah koleksi perpustakaan masjid itu pada umumnya cukup banyak, puluhan ribu judul. Bahkan perpustakaan di masjid Masyhad, ------terletak di sebuah kota sebelah timur Teheran, koleksi bukunya tidak kurang dari dua juta lima ratus ribu judul. Setiap hari, perpustakaan yang pelayanannya sudah menggunakan robot itu, didatangi oleh ribuan pengunjung.

Oleh karena itu, di Iran menurut hemat saya terjadi gabaran yang aneh, yaitu mitos ternyata bisa melahirkan etos. Bisa saja orang ke kuburan sebagai perilaku yang mungkin dianggap tidak rasional, tetapi di balik itu ternyata juga melahirkan etos yang tinggi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pusat-pusat studi di Iran tidak saja di kampus-kampus perguruan tinggi, tetapi juga dikembangkan oleh para ulama di luar kampus. Banyaknya kajian ilmiah itu, maka menjadikan di Iran selalu terbit buku-buku baru, temuan ilmiah, yang jumlahnya cukup banyak. Itulah maka, saya katakan ternyata mitos bisa melahirkan etos. Wallahu aílam.

0 komentar



Nama :
Email :
Komentar :

Security code: (Huruf besar dan kecil dibedakan)

Input code:

Rekor MURI
Berita Terbaru
Web Polling