IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Umpama Guru Bebas Berkreasi


Hal yang terkait dengan berkreasi, maka para gurulah seharusnya yang memiliki. Guru harus kreatif. Para pengajar yang tidak kreatif tidak akan menghasilkan anak didik yang kreatif. Selama ini dipahami bahwa profesi guru bukan sekedar sebagai tukang. Ada sebutan tukang kayu, tukang las, tukang batu dan sebagainya. Pekerjaan itu memerlukan kreatifitas, tetapi tidak terlalu tinggi. Semakin kreatif, para tukang itu tidak akan segera berhasil menyelesaikan tugasnya.

Guru berbeda dengan tukang. Pekerjaan guru sehari-hari adalah menjadikan para siswanya semakin kreatif Orang yang tidak kreatif mustahil melahirkan pribadi kreatif. Oleh karena itu, agar guru berhasil menjalankan tugas sebaik-baiknya, maka berikanlah kepada mereka suasana yang dimungkinkan mampu melahirkan kreatifitas itu, ialah kebebasan, keterbukaan, keberaniani, tetapi tetap harus bertanggung jawab. Jangan sampai guru selalu dikekang dengan berfbagai peraturan, rambu-rambu, atau apa saja yang menghilangkan kebebasan, keterbukaan, dan keberaniannya itu.

Pekerjaan mengajar dan sekaligus mendidik adalah bermuatan seni. Tidak akan ada seni yang diatur. Manakala seni diatur, maka yang terjadi adalah bukan seni lagi. Hal yang dibutuhkan oleh apa saja yang bernuansa seni adalah sebatas pola atau ketentuan yang bersifat umum atau garis besar. Misalnya, seni tari jawa akan mengikuti pola tertentu sebagaimana pada umumnya, dan begitu pula jenis tari lainnya. Biasanya orang yang paham tentang seni tertentu, akan paham betul pola yang dimaksud. Jika gerakan yang dimainkan itu menyimpang sedikit saja dari pola yang harus diikuti, maka akan segera diketahui dan tidak dirasakan keindahannya.

Memang mendidik dan mengajar bukan sepenuhnya merupakan seni. Akan tetapi dalam kegiatan itu selalu ada nuansa seninya. Namun juga sebaliknya, kegiatan mendidik dan mengajar bukan sebagaimana cara kerja mesin yang berlangsung serba mekanis, tetap, seragam, dan monoton. Jika mengajar dipersamakan dengan gerak mesin sebagaimana ciri-cirinya disebutkan di muka, maka semua saja yang terlibat dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran itu, baik guru dan para muridnya, akan merasa bosan dan mungkin juga tersiksa. Akibatnya, dari kegiatan itu tidak akan diperoleh hasil maksimal.


Oleh karena kegiatan mendidik dan mengajar juga terdapat aspek seninya, maka yang diperlukan adalah sekedar pedoman yang bersifat garis besar atau polanya saja. Tentang bagaimana secara teknis dan detailnya tugas itu dijalankan, seharusnya diserahkan saja kepada para guru yang bersangkutan. Hal-hal yang bersifat teknis, biasanya masing-masing orang memiliki cara dan bahkan seni tersendiri. Bagi orang yang sehari-hari sudah terbiasa menjalankan sesuatu akan lebih tahu daripada mereka yang hanya berada di belakang meja, atau sebagai konseptor.

Umpama saja seorang guru dalam menunaikan tugasnya mendapatkan kesulitan, maka biasanya ia akan berusaha sendiri, misalnya dengan cara membaca buku, berdiskusi, atau bertukar pengalaman di antara sesama guru lainnya. Tidak seharusnya, guru dipaksa menggunakan cara tertentu menurut keinginan orang lain. Sekali lagi, dalam proses mendidik dan mengajar, terdapat seni. Sebagai sebuah seni, maka masing-masing orang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan di antara masing-masing guru seharusnya dipelihara. Dalam hal mendidik atau mengajar, yang terpenting adalah hasil yang bisa diraih dan bukan sekedar mengedepankan tahap-tahap, proses atau cara yang dilakukan. Selain itu, tidak perlu guru diperlakukan sebagaimana orang buta, sehari-hari harus dituntun dengan tongkat.

Guru harus diberi keleluasaan untuk berkreasi, agar mereka menjadi semakin cerdas, kreatif, dan berkembang. Sebagaimana seniman, guru membutuhkan kebebasan untuk mengekspresikan jiwa, bakat dan tanggung jawabnya. Seorang dalang, penyanyi, penari, pelukis, dan seterusnya akan menghasilkan produk yang indah dan menarik tatkala mereka diberi kebebasan untuk mengekspresikan jiwa seninya. Hal demikin itu kiranya sama saja dengan guru. Jika mereka terlalu banyak dikendalikan, diatur, dan apalagi dituntun-tuntun sebagaimana orang buta yang tidak mengetahui jalan yang harus dilalui, maka guru juga tidak akan menghasilkan anak didik yang kreatif.

Sudah lama saya merenungkan, tatkala mendengar bahwa para lulusan lembaga pendidikan di berbagai jenjang dirasakan kurang memenuhi harapan, misalnya mereka miskin ide, imajinasi atau kemampuan berkhayalnya rendah, kurang berani atau tidak percaya diri, dan lain-lain, bahkan seolah-olah sekolah dianggap menjadi bagaikan penjara, maka yang saya pikirkan adalah, jangan-jangan kenyataan seperti itu disebabkan oleh para guru sendiri yang mengajar. Para guru terlalu banyak terbebani oleh berbagai ketentuan atau aturan yang membelenggu atau mengekang, sehingga akibatnya kreatifitas mereka tidak berkembang.

Para guru yang terlalu dibebani atau tidak diberi otoritas atau kedaulatan, maka sama halnya dengan para seniman yang juga terlalu banyak diarahkan. Keduanya menjadi tidak mampu menghasilkan sesuatu yang maksimal. Para siswa yang diajar mirip apa yang dialami oleh gurunya, oleh karena miskin kebebasan maka juga mengakibatkan miskin kreatifitas. Akhirnya, sekolah bukan lagi menjadi taman ilmu atau tempat yang indah dan menyenangkan bagi semua pihak. Buktinya, tatkala para siswa dinyatakan lulus pada ujian akhir, mereka bersama-sama merayakannya dängan berbagai cara dan bentuk hingga kadangkala berlebih-lebihan. Kegembiraan itu diekspresikan bagaikan orang yang baru saja keluar dari penjara, atau ayam yang baru keluar dari sangkar. Umpama sekolah merupakan tempat yang menyenangkan, maka sikap mereka tidak akan seperti yang digambarkan itu. Wallahu a'lam

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait