Urip iku urup



Loading ...

IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Tiga Kali Berturut Turut Wisuda Di Uin Malang


Tiga kali berturut-turut wisuda di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dirasakan ada yang istimewa. Mereka yang mendapatkan prestasi akademik unggul ternyata beberapa di antaranya adalah hafal al Qur'an genap tiga puluh juz. Prestasi akademik unggul pada wisuda tiga semester yang lalu, diraih oleh mahasiswa jurusan fisika, kemudian dua semester lalu, diraih mahasiswa matematika dan psikologi dan pada wisuda hari Sabtu tanggal 2 Mei 2009 yang lalu diraih oleh mahasiswa fakultas Syari'ah. Semua lulusan terbaik tersebut hafal al Qur;an 30 juz. Selain itu, sekalipun tidak termasuk berprestasi akademik unggul, pada wisuda terakhir ini, masih ada tiga mahasiswa yang hafal al Qur'an, dua di antaranya adalah lulus jurusan Bahasa dan Sastra Arab, sedang seorang lagi jurusan matematika.

Untuk memberikan penghargaan kepada mereka yang hafal al Qur'an 30 juz itu, maka mereka diberikan peluang untuk meneruskan studi lanjut di program S2 dengan biaya dari kampus. Tiga penghafal al Qur'an 30 juz, diberi peluang masuk pascasarjana kampus ini. Sedang seorang lagi dari jurusan matematika, dipersilahkan mencari sendiri perguruan tinggi yang diminati, karena UIN Maulana Malik Ibrahim Malang belum menyelenggarakan program itu.

Terus terang, saya pernah beranggapan salah terhadap para penghafal al Qur'an ini. Saya mengira bahwa mahasiswa penghafal al Qur'an akan tidak bisa maksimal mengikuti kuliah bidang studi pilihannya. Saya menganggap menghafal al Qur'an dan sekaligus belajar bidang ilmu yang geluti tidak akan berhasil kedua-duanya. Sekalipun saya tidak pernah berkomentar secara terbuka tentang itu, tetapi pandangan saya mengatakan demikian. Pikiran saya mengatakan bahwa bagaimana seseorang pada saat yang sama memikul beban sedemikian berat. Pandangan pesimis itu, saya dasarkan pada kenyataan bahwa mahasiswa yang mengambil kuliah dengan bobot 24 sks saja sudah dirasa terlalu berat. Sehingga, tidak semua mahasiswa sanggup menjalaninya dengan baik. Pikiran saya mengatakan bahwa setiap orang memiliki kapasitas tertentu, dan jika seseorang menanggung beban melebihi kapasitasnya, maka tidak akan mampu dan jika dipaksakan tidak akan mendapatkan hasil maksimal.

Pandangan saya itu ternyata sangat keliru. Setelah saya amati dalam waktu lama, ternyata mahasiswa yang menghafal al Quran, prestasi akademik mereka tidak kalah bilamana dibandingkan dengan mereka yang tidak mengikuti kegiatan itu. Para mahasiswa penghafal al Qur'an yang tergabung dalam organisasi JQH UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ternyata memiliki banyak keunggulan. Melalui organisasi itu mereka dibimbing oleh para seniornya dan juga beberapa dosen pembimbing yang kebetulan juga khaafidz. Mahasiswa yang masuk dalam organisasi ini, justru menyandang banyak kelebihan, misalnya, dalam hal kegiatan spiritual mereka lebih aktif berjama'ah di masjid, dalam hal sosial tampak hubungan mereka dengan para dosen dan penampilan sebagai mahasiswa lebih mencerminkan sebagai mahasiswa muslim.

Atas dasar penglihatan saya seperti itulah kemudian, sebagai pimpinan kampus, tergerak untuk memberikan penghargaan kepada mereka itu. Penghargaan yang selama ini bisa saya berikan ialah mereka yang hafal al Qur'an minimal 10 juz saya bebaskan dari seluruh biaya pendidikan di kampus ini. Jumlah mereka yang masuk kategori ini cukup banyak. Namun demikian, ternyata tidak semua dari mereka yang hafal al Qur'an itu mau menerimanya. Ada beberfapa mahasiswa penghafal al Qur'an yang tidak diijinkan oleh orang tuanya menerima pembebasan biaya pendidikan itu, dengan alasan khawatir mengganggu keikhlasannya, yakni menghafal al Qur'an hanya agar mendapatkan penghargaan dari kampus.


Melihat kenyataan bahwa semakin lama ternyata prestasi akademik para penghafal al Qur'an jutru lebih baik, beberapa mahasiswa fisika, matematika, psikologi, syari'ah, tarbiyah, bahasa dan sastra dan lain-lain, maka saya menyimpulan sementara bahwa antara kekuatan fisik seseorang tidak sama dengan kekuatan nalar atau otak mereka. Kekuatan fisik hanya bisa bertahan pada usia tertentu dan juga memiliki kemampuan menanggung beban tertentu pula. Jika hal itu ditambah, maka tidak akan mampu lagi. Ada batas-batas maksimal yang mampu dilakukan. Seseotrang yang memiliki kemampuan memikul beban maksimal 60 kg misalnya, ia tidak akan mampu jika beban itu ditambah 10 kg lagi.

Hal itu berbeda dengan kemampuan nalar atau otak. Beban itu bisa ditambah, dan ternyata penambahan beban tersebut tidak akan selalu menganggu kemampuan ciptaan Allah yang sangat berharga, berupa otak itu. Bahkan sebaliknya, jika beban itu semakin sedikit, maka kemampuan otak tidak bertambah lebih baik. Para pemikir karena beban tugasnya sehari-hari, ternyata tidak kelihatan capek dan bahkan kemampuan otaknya jika selalu digunakan akan semakin kuat. Berbeda dengan orang yang tidak pernah berpikir, karena tidak mendapatkan tantangan apa-apa, maka pikiran mereka tidak tampak tangkas jika suatu ketika menghadapi persoalan. Berangkat dari kenyataan itu -sekalipun masih terbatas dan perlu penelitian lanjut, melakukan pembatasan beban belajar terhadap siswa/mahasiswa tidak selalu tepat. Orang-orang tertentu, tatkala diberi beban lebih banyak, justru tampak lebih cepat perkembangan pikirannya dan begitu juga sebaliknya.

Kembali pada kegiatan menghafal al Qur'an. Saya pernah melihat kegiatan menghafal al Qur'an, yang diikuti oleh sejumlah besar anak di Iran. Tidak kurang dari 300 an lembaga pendidikan tempat penghafal al Qur'an di Iran. Masing-masing diikuti oleh ratusan anak. Anak-anak pada umur 4 tahun biasa dikirim oleh orang tua mereka ke lembaga pendidikan penghafal al Qur'an itu. Melalui lembaga ini kemudian banyak sekali anak-anak Iran yang baru berumur 7, 8 atau 9 tahun sudah hafal al Qur'an 30 juz. Dahulu ketika guru mengaji saya menceritakan bahwa Imam al Ghazali dan juga Imam Syafi'i baru berusia 7 tahun sudah hafal al Qur'an, saya merasa terheran-heran. Akan tetapi, setelah saya datang sendiri ke Thus, tempat kelahiran Imam al Ghazali pengarang kitab ihya' Ulumuddin, ternyata di sana memang banyak anak-anak seusia itu sudah hafal al Qur'an 30 juz. Sehingga sesungguhnya, prestasi Imam al Ghazali itu di tempat kelahirannya, yakni di Thus sampai saat inipun bukan merupakan hal aneh. Banyak sekali anak-anak di sana yang umurnya belum genap 10 tahun sudah hafal al Qur'an secara lengkap.

Anak-anak Iran yang hafal al Qur'an tersebut, sesuai dengan perkembangan umurnya memasuki lembaga pendidikan pada umumnya di negeri itu. Pada usia perguruan tinggi, mereka masuk menjadi mahasiswa, mengambil program studi yang mereka minati, seperti kedokteran, teknik, ekonomi, psikologi, fisika, kimia, biologi dan seterusnya. Dengan demikian, banyak sekali mahasiswa kedokteran, fisika, kimia, biologi dan seterusnya hafal al Qur'an. Dan ternyata dengan hafal al Qur'an itu tidak menjadikan prestasi akademik mereka tertinggal dari mahasiswa lain yang tidak hafal kitab suci itu. Hal yang sama terjadi di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, sekalipun mahasiswa di kampus ini jumlah penghafal al Qur'an belum sebanyak di Iran, tidak sedikit yang prestasi akademiknya justru lebih unggul.

Melihat kenyataan tersebut, maka dalam rangka melahirkan generasai unggul di masa depan, saya berpendapat bahwa, setidak-tidaknya di kampus-kampus perguruan tinggi Islam, para mahasiswanya seharusnya didorong melakukan kegiatan menghafal al Qur'an. Tidak perlu lagi dikhawatirkan bahwa para penghafal al Qur'an akan lemah prestasi akademiknya. Pada kenyataannya, dalam banyak kasus ternyata para penghafal al Qur'an justru memiliki keunggulan, baik dalam kehidupan intelektual, social maupun spiritualnya. Calon pemimpin umat seperti inilah sesungguhnya yang diperlukan di masa depan. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Ternak Sapi Donggala