IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Ternak Sapi Donggala




Dalam kesempatan berkunjung ke Palu beberapa hari yang lalu, saya diajak oleh Pak Rektor IAIN melihat lokasi kampus baru yang segera akan dibangun. Lokasinya tidak terlalu jauh dari  kampus lama, kira-kira sekitar 12 km saja. Hanya oleh karena jumlah penduduk di provinsi itu belum  sepadat di Jawa, maka di sekitar lokasi kampus masih belum ramai.

Hal memprihatinkan yang saya lihat di lokasi kampus baru tersebut adalah banyaknya ternak sapi yang dilepas secara bebas. Ratusan sapi dilepas dan bebas memakan rumput yang sebenarnya sudah tidak tumbuh lagi. Sekalipun seharian, tidak putus-putusnya, sapi-sapi dimaksud makan, oleh karena rumputnya sudah tidak tumbuh, maka perut ternak  itu tidak akan penuh. Akibatnya, tidak ada sapi yang kelihatan gemuk yang seharusnya menjadi kebanggaan masyarakatnya

Sapi yang berada di provinsi itu dikenal dengan sebutan sapi donggala berukuran besar, sehingga umpama dirawat dan diberi makan cukup, maka ukurannya semakin besar dan harganya juga akan semakin mahal. Namun oleh karena  ternak itu dibiarkan hidup alami saja, sekalipun ukuran badannya besar tetapi kurus, sehingga dagingnya pasti tidak banyak. Hampir semua sapi yang ada di tempat itu tidak ada yang tampak gemuk, menandakan kurang makan. Umpama dijual, harganya mungkin juga tidak terlalu tinggi, karena kurus itu.


Melihat keadaan ternak  sapi di Palu tersebut,  saya teringat  peternakan sapi yang pernah saya lihat di as-Shafi, Riyadh, Saudi Arabia. Pusat peternakan sapi di padang pasir yang pernah  saya kunjungi beberapa tahun  lalu tersebut, kira-kira jaraknya 200 km dari kota Riyadh. Proyek peternakan tersebut dikelola secara profesional. Di tempat itu, sapi tidak dibiarkan bebas mencari rumput sendiri.

Agar dapat digunakan untuk beternak sapi, padang pasir yang sedemikian luas diubah menjadi kebun, sekalipun tidak terlalu subur. Dengan teknologi yang diciptakan, lahan dimaksud   berhasil ditanami rumput  diperuntukkan makanan sapi. Semula, di atas pasir  ditaruh tanah,  dan selanjutnya  dilengkapi  dengan pipa-pipa untuk menyalurkan air untuk mengairi padang  pasir yang di atasnya  telah dilapisi tanah. Rumput yang ditanam di tanah itu digunakan untuk menghidupi jutaan ekor sapi yang juga dipelihara di tempat itu.

Ternak sapi di Ashofi Riyadh tidak dibiarkan berkreatif mencari  makanan sendiri. Pengelola ternak itu yang berusaha kreatif, yaitu mengelola padang pasir yang semula tandus menjadi lahan yang berhasil ditanami rumput. Selain itu, oleh karena sapi pada umumnya tidak tahan udara panas, maka pada masing-masing kandang sapi yang mampu menampung ribuan ekor, dilengkapi dengan AC.  Cara memerah  susu sapi dan juga mengolahnya, semuanya menggunakan teknologi modern, semua serba menggunakan komputer.

Akhirnya saya menjadi terbayang,  umpama di Indonesia, sebagai misal di Palu,  dikembangkan usaha peternakan  dan dikelola secara modern seperti yang ada  di Riyadh, maka bangsa ini tidak akan mengimport daging, tetapi justru sebaliknya, akan mengeksport. Akan tetapi, jika kreatifitas untuk menghidupi ternak,  tidak dikembangkan, maka hingga kapan pun tidak akan berhasil mencukupi kebutuhan daging. Akhirnya, negeri ini terdengar aneh, yakni memiliki tanah luas, suhu udara yang tepat untuk usaha peternakan dan pertanian, memiliki banyak ahli, tetapi kebutuhan daging saja masih mendatangkan dari luar negeri.

Keanehan tersebut menjadi bertambah, seumpama import daging pada setiap tahun berasal  dari padang pasir, Riyadh misalnya. Maka yang diperlukan pada saat ini adalah, bagaimana sapi unggul sejenis donggala, tidak dibiarkan mencari makan sendiri, tetapi para peternaknya yang seharusnya kreatif, yaitu  menyediakan rumput hingga cukup untuk keperluan semua ternaknya. Wallahu a’lam


Iklan

Terbaru

Sumber Perilaku



Hingga kini kiranya belum banyak orang yang mempertanyakan secara serus, apakah sebenarnya ya ...




Terkait