Ojo gumunan
Ojo getunan
Ojo kagetan
Ojo aleman



Loading ...

IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Tentang Ka'bah Dan Kepemimpinan


Bisa jadi judul tulisan ini tidak akan menarik pembaca. Sebab, kedua kata tersebut, yakni Ka'bah dan Kepemimpinan dalam judul tulisan ini seperti tidak ada kaitannya. Ka'bah adalah kiblat bagi umat Islam di seluruh dunia, berada di Makkah Mukarromah. Bangunan yang dibuat kembali oleh Nabi Ibrahim bersama anaknya, Isma'il berupa bangunan segi empat yang terletak di tengah-tengah Masjidil Haram, adalah benda mati. Bentuknya bagaikan bangunan rumah. Ka'bah itu disebut Baitullah, atau rumah milik Allah.

Sedangkan kepemimpinan adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu kegiatan untuk mempengaruhi orang agar melakukan sesuatu dalam mencapai tujuan bersama. Dengan pengertian ini memang terasa tidak menyambung antara keduanya. Tetapi, justru di sinilah letak menariknya, yakni sesuatu yang sebenarnya tidak terkait menjadi memiliki kaitan yang erat.

Ka'bah yang berupa bangunan yang dijadikan arah kiblat bagi umat Islam seluruh dunia ini ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa. Umat Islam yang berada di berbagai penjuru dunia di manapun mereka berada menghadapkan wajahnya ke arah ini untuk menjalankan ibadah sholat setiap hari. Ka'bah sebagai kiblat, oleh seluruh kaum muslimin, baik bagi yang sudah pernah melihatnya atau pun bagi mereka yang belum pernah melihatnya, diingat sepanjang hari. Pada setiap sholat, semua kaum muslimin ingat nama ka'bah ini.

Lebih dari itu, ka'bah memiliki daya tarik yang luar biasa. Seolah-olah bangunan tua memiliki kekuatan yang mampu memanggil dan bahkan menyedot kaum muslimin yang beriman dan berkuasa hadir, datang mendekatnya. Sesampai di tempat itu Masjidil Haram, mereka dengan patuh, haru, kagum dan bahkan hingga menangis, berjalan sebanyak tujuh kali putaran mengelilinginya. Mereka yang berthawaf ini merasakan seolah-olah sedemikian dekat dengan Yang Maha Pencipta.


Di antara mereka yang sanggup didorong oleh keyakinan dan rasa cintanya kepada benda mulia ini berusaha mendekat, berdoa sambil merapat kea rah bangunan, dan bahkan berebut untuk mencium bagian dari Ka'bah itu, ialah Hajar Aswad. Benda berupa batu hitam yang terletak di salah satu sudut bangunan ini diperebutkan oleh semua yang hadir, berziarah ke Masjidil Haram ini. Mereka yang tidak mencoba mencium, bukan karena tidak menyukai, melainkan merasa tidak kuasa mendekat dan berebut sehubungan dengan banyaknya orang.

Memperhatikan kekuatan Ka'bah ini saya kemudian berpikir tentang pemimpin dan kepemimpinan. Andaikan para pemimpin memiliki kekuatan seperti itu, yakni memiliki kekuatan untuk menarik emosi siapapun yang dipimpinnya datang padanya, mendekat dan mencitainya maka masyarakat yang dipimpinnya akan bersatu dan menjadi kokoh. Seorang pemimpin berdiri di tengah-tengah manusia, secara tegak dan kokoh. Semua yang dipimpinnya berharap mendapatkan sesuatu darinya. Antara yang dipimpin dan yang memimpin memiliki ikatan emosional yang tinggi. Karenanya apa yang menjadi garis kebijakannya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas.

Apa yang dilakukan, sekalipun berat, harus berjalan tujuh kali putaran dilakukan dengan cara dan hitungan yang benar. Sekalipun berthawaf tidak memerlukan pengawas oleh siapapun, karena dilakukan dengan keyakinan 'keimanan, keikhlasan dan semata-mata untuk mengabdi kepada Allah, maka tugas itu ditunaikan dengan penuh kesungguhan tanpa manipulasi sedikitpun. Tidak akan ada orang thawaf mengurangi jumlah putaran sebagaimana yang disyari'ahkan. Mereka akan melakukan tujuh kali putaran dengan cara apapun melakukannya.

Membayangkan Ka'bah, pikiran saya tertuju pada ihwal kepemimpinan, yakni sebuah tugas yang amat sulit dilakukan. Akan tetapi, andaikan para pemimpin memiliki kekuatan seperti itu, maka sesungguhnya tidak perlu ada kontrol dari manapun datangnya. Pemimpin seperti itu ,juga tidak diperlukan lagi pihak-pihak yang berperan sebagai oposisi. Semua berada pada posisi sama, yaitu menjalankan tugas thawaf itu. Bahkan tatkala thawaf, terjadi kerja sama. Bagi mereka yang memiliki kelebihan berupa pengalaman atau fasikh dan banyak hafalannya, membimbing terhadap mereka yang lemah.

Akhirnya, Ka'bah dan kepemimpinan sekalipun agaknya memiliki interelasi yang jauh, sesungguhnya bisa ditarik sebuah makna, hingga keduanya bisa dihubungkan. Tokh, kehidupan Nabi Ibrahim dengan anaknya, juga memiliki nilai sejarah tentang pendekatan kepemimpinan yang luar biasa. Yaitu tatkala utusan Allah ini mendapatkan wahyu lewat mimpi agar menyembelih anaknya, Isma'il, tidak segera dijalankan. Nabi Ibrahim menyampaikan terlebih dahulu kepada anaknya, bagaimana hal itu disikapi bersama. Penyikapan Ibrahim ini, menurut hemat saya adalah pelajaran yang amat mulia, jika dipedomani dalam kehidupan sehari-hari. Seorang ayah atau pemimpin dalam menjalankan sesuatu, selalu mengajak bermusyawarah terlebih dahulu, agar semua keputusan yang diambil bisa diterima dengan ikhlas. Lazimnya, seorang pemimpin memiliki daya tarik atau magnet dan pusat pusaran umat, seperti yang dimiliki Ka'bah. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Ternak Sapi Donggala