Urip iku urup



Loading ...

IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Tawaran Model Pendidikan Islam Untuk Masyarakat Aceh Masa Depan


Pendahuluan Sebenarnya saya tidak terlalu mengerti tentang pendidikan di Aceh yang sekarang ini dijalankan. Yang saya tahu bahwa di Aceh masih bertahan lembaga pendidikan Islam yang dirintis dan dikembangkan oleh para ulama Aceh terdahulu, seperti Dayah dan Rangkang yang ada di kampung-kampung hingga saat ini. Namun, di Aceh juga ada madrasah, sekolah umum, IAIN yang sekarang menjadi UIN, STAIN, universitas Syiah Kuala, dan perguruan tinggi yang berstatus swasta yang menurut informasi yang saya terima, jumlahnya cukup banyak.

Buah dari lembaga pendidikan di Aceh itu menjadikan keberagamaan masyarakatnya dikenal lebih mendalam dibanding masyarakat di provinsi-provinsi lainnya. Provinsi Aceh disebut sebagai daerah Istimewa. Syari'at Islam diterapkan di provinsi ini. Pengetahuan saya seperti yang saya gambarkan ini, kiranya bukan sesuatu yang baru. Banyak orang mengenal misalnya, wanita Aceh tidak boleh berpakaian sembarangan, harus menutup aurat.

Syari'at Islam juga sudah beberapa lama dilaksanakan di provinsi ini. Siapa saja yang melanggar ajaran Islam, seperti mencuri, berjudi, berzina, dan lain-lain diberlakukan hukuman sebagaimana petunjuk Islam. Saya pernah melihat photo, bagaimana seseorang dihukum cambuk, dan lain-lain. Artinya, masyarakat Aceh sebagaimana identitas yang disandang sebagai serambi mekah akan ditunjukkan secara konsisten.

Namun demikian, saya masih mendengar bahwa para tokoh, utamanya yang sedang bergelut dengan pengembangan pendidikan di Aceh, masih mencari model atau bentuk pendidikan yang khas, dan atau sejalan dengan cita-cita masyarakat yang ingin dikembangkan itu. Tentu semangat ini sangat baik dan perlu diapresiasi. Seminar yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Tamiyang adalah salah satu bentuk upaya untuk mencari konsep yang dianggap ideal itu.



Manusia Ideal Yang Seharusnya Dibentuk Oleh Pendidikan Islam

Sebenarnya pendidikan dijalankan bukan hanya sekedar memberikan informasi, keterangan, penjelasan, atau ilmu pengetahuan kepada para peserta didik, melainkan kegiatan itu dijalankan untuk membentuk perilaku, watak, karakter atau kepribadian seseorang. Demikian pula pendidikan Islam, bukan sekedar bermaksud memberi wawasan kepada peserta didik tentang imu pengetahuan, ayat suci al Qur'an, hadits nabi, cara-cara menjalankan kegiatan ritual, melainkan adalah untuk membentuk watak, karakter, atau perilaku, dan bahkan juga cara kerja profesional, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasul, para sahabat, dan para ulama di masa kemudian. Tegasnya, melalui kegiatan pendidikan, orang-orang dididik menjadi manusia ideal.

Salah satu konsep atau sebutan manusia ideal yang dapat diambil dari al Qur'an adalah ulu albaab. Bagi saya, konsep ini tatkala dikaitkan dengan pendidikan sedemikian jelas. Di dalam al Qur'an terdapat penjelasan yang sedemikian rinci, siapa sebenarnya orang yang disebut sebagai penyandang identitas ulul albaab itu. Al Qur'an menjelaskan bahwa ulul albaab adalah orang-orang yang selalu mengingat Allah tatkala sedang berdiri, duduk, dan berbaring. Artinya, salah satu ciri ulul albaab adalah orang yang tidak pernah berhenti dari bertauhid. Ciri berikutnya adalah orang yang selalu memikirkan penciptaan langit dan bumi. Sedangkan yang ketiga adalah kesaksian atau penyataan bahwa apa saja yang diciptakan oleh Allah adalah tidak ada yang sia-sia.

Manakala ayat al Qur'an dimaksud dipahami secara saksama, maka manusia ideal, adalah orang yang selalu beriman, berilmu pengetahuan secara luas, dan juga selalu menjadikan ciptaan Allah membawa manfaat sebesar-besarnya bagi kehidupan. Beriman ditunjukkan dari kegiatan sehari-hari, di antaranya berupa kegiatan ritual seperti misalnya banyak berdzikir, shalat lima waktu, menjalankan puasa, zakat, puasa, dan haji. Sementara itu, kegiatan merenungkan atau memikirkan penciptaan langit dan bumi, maka sebenarnya adalah melakukan kajian ilmu-ilmu alam, ilmu social, dan humaniora. Oleh karena itu, belajar fisika, kimia, biologi, matematika, sosiologi, psikologi, sejarah dan lain-lain adalah merupakan implementasi dari perintah al Qur'an.

Selanjutnya, masih merupakan bagian dari ayat dimaksud yang menyatakan bahwa semua ciptaan Allah tidak ada yang sia-sia, maka bukankah ayat itu seharusnya dimaknai bahwa intervensi tangan manusia untuk menciptakan teknologi adalah merupakan keharusan. Batu, tanah, air, udara, dan apa saja adalah menjadi tidak sia-sia setelah benda-benda mentah itu diolah melalui proses teknologi. Atau, tegasnya kaum muslimin harus berusaha menciptakan teknologi untuk mengolahnya. Dulu, sebelum ditemukan mesin, listrik, dan akhir-akhir ini nano teknologi, kehidupan manusia sedemikian berat. Sekarang ini, dengan teknologi, maka persoalan jarak, waktu, dan lain-lain ditaklukkan oleh manusia. Dengan teknologi itu, maka kehidupan manusia menjadi semakin mudah. Suatu misal perjalanan naik haji tidak memerlukan waktu lama-lama.

Berangkat dari penjelasan yang bersumber dari al Qur'an ini, maka saya memberanikan diri untuk mengajak atau menyatakan di hadapan para peserta seminar, bahwa bukankah sebenarnya pembagian ilmu yang selama ini dikembangkan sudah waktunya untuk dilihat kembali. Pembagian ilmu secara dikotomis, yaitu menjadi ilmu agama dan ilmu umum, menurut hemat saya, sudah waktunya untuk ditinjau ulang. Ajaran Islam melalui al Qur'an dan hadits nabi, mendorong umat manusia untuk menggali ilmu, baik yang bersumber dari ayat-ayat qawliyah maupun ayat-ayat kawniyah. Masyarakat Aceh, menurut hemat saya, harus menjadi pelopor, dalam memandang ilmu yang utuh dan komprehensif agar tidak terjadi dikotomi seperti sekarang ini.

Ketika tidak terjadi cara pandang dikotomik terhadap ilmu, maka semua lembaga pendidikan di Aceh, apapun statusnya, baik negeri atau swasta, beridentitas Islam atau bukan, -asalkan masih berada di wilayah serambi Makkah ini, semestinya mengajarkan ilmu fisika, biologi, kimia, sosiologi, psikologi, sejarah, dan juga teknologi. Hanya saja, kajian sains di Aceh harus berbeda dari kajian yang sama di tempat lain. Kajian sains di wilayah provinsi Aceh harus bersumberkan ayat-ayat qawliyah dan sekaligus ayat-ayat kawniyah.

Dengan demikian, maka al Qur'an dan hadits nabi seharusnya dijadikan sebagai sumber pokok ilmu pengetahuan, selain sumber lainnya, yaitu hasil penalaran logis, observasi, dan eksperimentasi. Selain itu, yang membedakan lagi, bahwa tatkala mengkaji biologi, fisika,kimia, matematika, sosiologi, psikologi, sejarah, dan lain-lain, maka harus dimaknai sebagai upaya dalam mengenali Tuhan. Belajar sains bukan sekedar agar lulus ujian dan memperoleh ijazah, melainkan dalam rangka memahami Kebesaran dan Kemaha-Sucian Allah swt. Itulah sebabnya, dalam setiap melakukan kajian ilmu harus memulai dan mendasari dengan ucapan basmallah, hingga sampai berhasil meraih puncak religiusitas, ialah dengan mengucapankan subhanallah.

Al Qur'an Memberi Petunjuk Tentang Cara Mendidik

Akhir-akhir ini rupanya pemerintah mulai menyadari tentang betapa semakin perlunya konsep pendidikan yang mampu melahirkan manusia Indonesia seutuhnya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan selalu menjelaskan tentang perlunya pendidikan karakter. Ditegaskan bahwa tanpa karakter, maka manusia akan kehilangan segala-galanya. Oleh karena itu, pendidikan harus berhasil melahirkan karakter unggul bagi semua peserta didik.


Pemberlakuan kurikulum tahun 2013 yang sekarang ini mulai dilaksanakan sebenarnya dengan mudah dapat dibaca, merupakan respon atau keinginan untuk melahirkan manusia cerdas dan terampil, tetapi juga harus yang berkarakter itu. Konsep pendidikan untuk membuat manusia berkarakter ternyata tidak mudah. Masyarakat Aceh, yang telah bertekad memberlakukan syari'at Islam, sebenarnya telah memiliki konsep tentang bagaimana membangun manusia berkarakter atau manusia seutuhnya itu.

Tidak sebagaimana di provinsi lain, di Aceh dengan bertekad memberlakukan syari'ah Islam, maka konsep pendidikan itu sudah tersedia di dalam al Qur'an dan hadits nabi. Di dalam al Qur'an ada empat hal yang seharusnya dilakukan di dalam mendidik manusia, yaitu melalui kegiatan sebagai berikut: (1) mengajak untuk bertilawah, (2) tazkiyah, (3) taklimul al Qur'an, dan (4) hikmah. Betapa sempurnanya konsep pendidikan Islam, sekalipun tentu tidak mudah dijalankan dan diimplementasikan di tengah masyarakat. Inilah konsep pendidikan prophetik yang seharusnya dijadikan anutan bagi kaum muslimin.

Konsep itu dikembangkan oleh Nabi dalam membangun masyarakat ideal di Madinah. Memang pendidikan pada zaman nabi belum semodern seperti sekarang ini. Akan tetapi hasilnya adalah luar biasa. Keberhasilan suatu usaha harus diukur dari waktu dan zamannya. Lewat konsep itu, nabi mampu mengubah pribadi jahiliyah menjadi pribadi yang beriman dan bertaqwa secara kokoh. Seorang bernama Umar bin Khattab yang sebelumnya berperilaku kasar kepada siapapun, termasuk kepada nabi dan juga keluarganya, melalui pendidikan yang dikembangkan oleh Nabi, maka berubah menjadi sosok pribadi yang memiliki integritas yang amat tinggi terhadap ajaran Islam hingga ia menjadi seorang khalifah.

Contoh keberhasilan lain dari pendidikan yang dikembangkan oleh Nabi yang sangat spektakuler ketika itu adalah sosok Usamah bin Zaid. Ia seorang yang baru berumur 17 tahun tetapi sudah dipercaya menjadi panglima perang dan ternyata cakap. Pendidikan yang dikembangkan oleh Nabi itu adalah mengajak bertilawah, tazkiyah, taklimul al Qur'an dan memperkenalkan nilai-nilai hikmah. Dalam kontek sekarang ini, bertilawah adalah mengkaji biologi, fisika, kimia, sosiologi, psikologi, sejarah, antropologi, dan lain-lain. Akan tetapi, pendidikan Islam, sebagaimana dikemukakan di muka, dalam proses pencaharian ilmu selalu memilih yang mendatangkan manfaat dan diniatkan untuk mengenal Tuhan.

Demikian pula, bahwa bagian penting dari pendidikan adalah mengajak peserta didik untuk melakukan tazkiyah. Pikiran, hati, dan jasmani harus dijauhkan dari hal-hal yang tidak semestinya diterima dan dikembangkan. Dalam suasana serba bersih itu, kemudian para siswa diajak untuk memahami al Qur'an. Al Qur'an adalah kitab suci, tentu hanya akan mungkin bisa diterima oleh orang-orang yang selalu menjaga pikiran, hati, dan jasmani agar selalu jauh dari hal yang merusak, termasuk mengkonsumsi makanan haram.

Terakhir, lewat konsep pendidikan Islam, mengantarkan seseorang ke puncak tertinggi, yaitu hikmah atau kearifan. Bersikap arif tidak sebatas berada pada wilayah ilmiah yang hanya bertumpu pada obyektifitas, rasionalitas, dan mendasarkan fakta. Kearifan atau hikmah berada di atas itu semua. Menyelesaikan persoalan manusia, kadangkala tidak cukup hanya bertumpu pada kebenaran ilmiah, melainkan hingga di atas itu semua. Lukman al Hakim dan juga Nabi Khidir disebut-sebut dalam sejarah adalah sosok manusia yang kaya kearifan dan hikmah itu. Pendidikan Islam mengajarkan mulai dari berthilawah hingga pada tingkat kebenaran puncak, ialah kearifran atau hikmah.

Islam dalam hal memberikan tuntunan terhadap pendidikan sebenarnya jauh lebih sempurna dari berbagai konsep atau teori-teori lainnya. Sayangnya, konsep pendidikan Islam belum banyak mendapatkan perhatian, termasuk dari kalangan umat Islam sendiri. Oleh karena itulah, tatkala masyarakat Aceh yang dipandu oleh para ulama', dan ditopang oleh kekuatan pemerintahnya, maka saya yakin konsep yang bersumber dari al Qur'an dan hadits nabi akan berhasil diimplementasikan dan akan menjadi contoh atau eksemplar sebagai pendidikan terbaik di kalangan umat Islam.

Buah Pendidikan Islam Yang Lebih Utuh Dan Komprehensif

Konsep pendidikan yang bersumber dari al Qur'an dan hadits Nabi adalah amat sempurna. Ilmu pengetahuan yang dikembangkan bersumber dari ayat-ayat qawliyah dan sekaligus ayat-ayat kauniyah. Untuk mengimplementasikan konsep ideal itu, tentu tidak mudah. Akan tetapi, manakala sudah berjalan dan apalagi mentradisi, maka akan menjadi sesuatu yang dicari dan sekaligus dibanggakan. Negara-negara Islam yang dalam sejarahnya dahulu berhasil melahirkan ulama-ulama besar adalah oleh karena menjalankan konsep pendidikan Islam ini.

Berbicara tentang konsep pendidikan ideal ini, saya menjadi teringat ulama besar, yaitu Imam al Ghazali misalnya, baru berumur 8 tahun sudah hafal al Qur'an secara sempurna. Tradisi itu, akhir-akhir ini, saya lihat kembali di Thehran, di sana muncul madrasah-madrasah yang membiasakan anak-anak sejak dini menghafal al Qur'an. Baru setelah itu, mereka diajari fisika, kimia, biologi, sosiologi, sejarah, dan lain-lain. Lewat konsep ini, saya membayangkan ke depan, lewat gerakan pembaharuan pendidikannya, maka dari masyarakat Provinsi Aceh akan lahir pemimpin dan ulama besar seperti yang saya bayangkan itu.

Pendidikan Islam yang lebih utuh dan komprehensif itu, akan melahirkan orang-orang yang kaya ilmu pengetahuan, meraih kualitas pribadi unggul, mampu menciptakan tatanan sosial yang adil dan jujur, menjalankan kegiatan ritual untuk memperkaya spiritual sebagai bagian dari upaya mendekatkan diri pada Tuhan, dan selalu beramal shaleh atau bekerja secara profesional. Sebutan sebagai seorang kaya ilmu, dalam konsep pendidikan ini, oleh karena sumber rujukannya adalah ayat-ayat qawliyah dan sekaligus ayat kawniyah, maka yang bersangkutan tepat disebut sebagai seorang ulama dan intelek profesional dan atau intelek profesional yang ulama'.

Sementara itu, sebutan manusia unggul adalah orang yang setidaknya menyandang ciri-ciri sebagai berikut: 1) memahami tentang dirinya sendiri, (2) mampu menjaga kepercayaan yang diamanahkan kepadanya, (3) selalu menjaga hati, akal pikiran, dan juga jasmaninya. Selain itu, sebagai pertanda seorang yang unggul, adalah (4) selalu berpikir dan berbuat bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk orang lain, atau di dalam, hadits nabi disebutkan 'khoirunnas anfa'uhum linnas'.

Pendidikan Islam juga seharusnya melahirkan orang-oang yang mencintai keadilan. Betapa pentingnya keadilan itu di dalam Islam harus ditegakkan. Rasulullah, pernah bersabda bahwa andaikan Fathimah binti Muhammad mencuri, maka saya (Nabi) sendiri yang akan memotong tangannya. Sabda nabi ini menunjukkan betapa pentingnya keadilan harus ditegakkan di antara umat manusia tanpa memandang bulu. Selain itu, pendidikan harus melahirkan orang yang selalu menjalankan kegiatan ritual secara sempurna, seperti banyak berdzikir, shalat, puasa, zakat, haji, dan semacam itu lainnya.

Ajaran Islam memiliki konsep yang lazim disebut beramal shaleh. Beramal artinya adalah bekerja, sedangkan shaleh adalah benar, tepat, dan lurus. Maka beramal shaleh artinya adalah bekerja secara benar, atau sesuai dengan keahliannya. Nabi pernah bersabda bahwa pekerjaan yang diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulan kehancurannya. Dengan demikian pendidikan Islam, seharusnya melahirkan manusia profesional atau beramal shaleh itu. Akhirnya disimpulkan bahwa, manakala melalui pendidikan Islam berhasil melahirkan orang yang kaya ilmu, pribadi unggul, berhasil membangun keadilan, selalu menjalankan ritual, dan mampu bekerja secara profesional, maka umat Islam akan menjadi unggul di mana dan kapan saja.

Untuk mengimplementasikan konsep yang ditawarkan ini, tentu tidak mudah dan bisa dilaksanakan secara tiba-tiba. Ketika menjadi Pimpinan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, saya pernah merintis konsep yang saya tawarkan ini. Alhamdulillah, pada saat ini, kampus yang sebenarnya belum lama berkembang, tidak kurang 20% dari 11.000 mahasiswanya ikut menghafal al Qur'an. Mereka itu, berasal dari berbagai program studi, misalnya matematika, fisika, kimia, biologi, teknik, bahasa dan santra, ekonomi, psikologi, selain dari bidang ilmu pendidikan Islam dan syari'ah. Maka artinya, konsep pendidikan Islam amat feasible untuk di implementasikan, apalagi di masyarakat Aceh yang dikenal amat religius ini. Wallahu a'lam *) Bahan Seminar di Univ.Islam Tamiyang Langsa tgl. 16 Pebruari 2014

Iklan

Terbaru

Ternak Sapi Donggala