IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Semangat Mengaji Al Qur'an




Tanggal 10 sampai 12 Maret 2017, saya ke Ambon, diundang oleh Kakanwil Kementerian Agama dan Rektor IAIN. Menghadiri undangan ke tempat yang jauh itu untuk mengaji al Qur’an secara bersama-sama. Kegiatan itu dilakukan selama dua hari. Hari pertama, diselenggarakan oleh Kakanwil Kementerian Agama bersama para pejabatnya dengan mengikut sertakan para kepala madrasah, guru, dan lain-lain. Sedangkan hari ke dua dikhususkan bagi para dosen pimpinan dan dosen IAIN Ambon.



Kergiatan tersebut terasa  sederhana, yakni mengaji al Qur’an. Kesan  sederhana itu terasa  oleh karena, mengaji  merupakan  kegiatan rutin,  di mana dan kapan saja dapat dilaksanakan. Namun sebenarnya, menjadi tidak sederhana, oleh karena setidaknya  dihadiri oleh para undangan dari berbagai kota di Indonesia  dan bahkan  dari Malaysia, Singapura, dan Brunai Darussalam.



Mereka yang datang misalnya dari Medan, Palembang, Padang, Riau, Bengkulu, Jakarta, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Makassar, dan lain-lain. Para peserta yang hadir  juga  berasal dari berbagai latar belakang, misalnya sebagai Guru Besar, pengusaha, dan juga birokrasi pemerintah. Perbedaan itu juga menyangkut  latar belakang organisasi sosial keagamaan. Di antara mereka ada yang berasal dari warga NU, Muhammadiyah, al Wasliyah, Tarbiyah Islamiyah, Nahdlatul Wathan, al Irsyad, dan lain-lain.




Mengaji al Qur’an adalah hal biasa, akan tetapi apa yang dilalukan di Ambon menjadi luar biasa, setidaknya  dilihat dari dua aspek. Pertama, dalam pengajian  secara bersama-sama itu,  al Qur’an diusahakan dipahami melalui hati. Pada umumnya, orang memahami sesuatu menggunakan  nalar ide, sehingga yang terjadi adalah perdebatan dan bahkan perbantahan di antara peserta. Sementara itu, memahami melalui hati,  hal demikian tersebut  tidak terjadi.



Melalui  kajian al Qur’an dimaksud, khususnya yang diselengarakan oleh Kakanwil Kementerian Agama, ingin mendapatkan pemahaman sederhana tetapi ternyata  tidak mudah dilakukan, yaitu bagaimana menjalankan  pendidikan sehari-hari. Sementara itu, yang diselenggarakan oleh IAIN adalah menggali bagaimana membangun peradaban unggul melalui al Qur’an dan sunnahnya.  



Keistimewaan yang kedua, kajian al Qur’an itu dipimpin atau diberikan oleh seorang dokter yang tidak pernah mengikuti pendidikan di pesantren, madrasah, atau juga di perguruan tinggi Islam.  Sekalipun demikian, pemahaman yang disampaikan ternyata amat luas dan mendalam. Semua uraian yang disampaikan mendasarkan pada al Qur’an dan Sunnah Nabi. 



Oleh karena penjelasan yang diberikan benar-benar memenuhi suara hati, maka kajian al Qur’an tersebut  tidak saja  menarik bagi kalangan akademisi yang berasal dari perguruan tinggi agama Islam, tetapi juga oleh para guru besar dari berbagai kampus, para pengusaha, pejabat pemerintah, dan lain-lain.  Melalui kajian itu, pada umumnya para peserta merasa memperoleh sesuatu yang menyenangkan dan menyejukkan yang dapat digunakan sebagai bekal kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan itu, Al Qur’an benar-benar terasa menjadi petunjuk dalam kehidupan. Wallahu a’lam  



Iklan

Terbaru

Sumber Perilaku



Hingga kini kiranya belum banyak orang yang mempertanyakan secara serus, apakah sebenarnya ya ...




Terkait

Kiblat itu Satu



Islam mengenal kiblat hanya satu, ialah ka’bah yang berada di tengah-tengah masjid al haram, ...