IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Semangat Berbagi Di Bulan Ramadhan


Sekalipun tidak memiliki uang sepeser pun misalnya, ketika sedang berada di Majidil Haram pada Bulan Ramadhan jangan takut tidak dapat berbuka puasa. Menjelang datangnya adzan maghrib, banyak orang sudah mulai berbagi kue, kurma, kopi, air, dan lain-lain yang diperlukan untuk berbuka. Di berbagai bagian masjid itu keadaannya adalah sama, yaitu diwarnai oleh kegiatan orang berbagi takjil.

Jutaan orang seisi masjid itu, mereka melaksanakan berbuka puasa bersama-sama. Seakan-akan pada saat berbuka puasa tidak boleh ada orang yang tidak memiliki sesuatu untuk dimakan. Kebutuhan itu ternyata dipenuhi oleh orang-orang yang berlebih dan menyukai bershadaqah. Untuk kepentingan berbuaka puasa tidak ada jual beli atau transaksi. Bahkan, keadaannya seperti berbalik, jika pada hari-hari lainnya, orang bersemangat berjualan, maka pada Bulan Ramadhan, sekedar rupa makanan, orang bersemangat untuk memberi.

Kira-kira satu jam sebelum datang waktu berbuka, sudah banyak orang menata tempat takjil. Di sela-sela shaf atau barisan shalat, ditaruh plastik memanjang yang akan digunakan tempat untuk meletakkan makanan dan atau minuman yang akan dibagi dan dimakan bersama waktu berbuka itu. Bahkan di halaman luar masjid, ada saja orang yang menawarkan untuk bergabung bersamanya. Rupanya, memberi saja harus bersaing dengan kelompok lainnya.

Kebersamaan, kepedulian, dan berbagi menjadi pemandangan umum di dalam dan di sekitar Masjidil Haram. Terkait makanan, sekedar untuk takjil, orang tidak melakukan transaksi atau berjual beli. Kebutuhan sesama menjadi tanggungan orang yang berpunya. Di antara mereka yang sedang berbuka bersama itu juga tidak menunjukkan ada strata sosial, sehingga yang tampak adalah persis ketika dalam shalat berjama'ah. Siapapun yang datang terdahulu, berhak menempati shaf paling depan, dan sebaliknya yang datang kemudian.


Begitu pula di dalam acara berbuka bersama itu, tidak kelihatan kelompok elite, kelompok menengah, dan orang-orang kelas bawah. Semua orang dipandang sama. Siapapun tidak memandang warna kulit atau rambutnya, bentuk dan atau potongan pakaiannya, asal muasalnya, dan lain-lain. Semuanya yang berada di tempat itu diajak berbuka bersama. Ajaran berpuasa dan juga Islam ternyata mampu menghilangkan sekat atau batas sosial, baik terkait latar belakang etnis, warna kulit, sosial ekonomi, dan lain-lain.

Dalam Islam di mana saja, ketika sedang berada di tempat ibadah, atau di masjid, semua orang diberlakukan secara sama. Perbedaan sebagai buah dari kehidupan sosial sehari-hari berhasil dihilangkan. Sudah barang tentu, pelajaran penting dari masjid itu jika saja bisa dijalankan di tengah masyarakat, maka hasilnya akan menjadi luar biasa. Namun sayangnya, keindahan itu hanya terjadi di masjid atau di tempat ibadah. Sedangkan di luar tempat itu, selalu diciptakan perbedaan yang menguntungkan bagi kepentingan tertentu, para elite misalnya.

Keindahan selalu tampak manakala terjadi adanya kebersamaan, saling mengenal, saling mengasihi, dan juga saling tolong menolong. Islam mengajarkan yang demikian itu. Seseorang baru dipandang sempurna imannya manakala sanggup mencintai orang lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Islam mengajarkan bahwa, masyarakat seharusnya diupamakan bagaikan sebuah bangunan atau sebuah pohon, yaitu masing-masing bagian memperkukuh bagian lainnya. Maka, betapa indahnya sebenarnya ajaran Islam itu jika berhasil dilaksanakan. Apa yang terjadi pada waktu berbuka puasa di Masjidil Haram adalah menggambarkan konsep ideal itu.

Dalam memandang harta kekayaan, Islam tidak boleh melupakan orang lain. Pada harta seseorang terdapat hak orang lain yang harus dibayarkan. Konsep tentang keharusan berzakat, infaq, shadaqah, hibah, berkurban, dan lain-lain adalah merupakan ajaran kebersamaan, persaudaraan, dan persatuan dalam Islam. Manakala ajaran itu berhasil ditunaikan, maka masyarakat Islam akan kokoh. Namun sayangnya, ajaran yang indah itu ternyata masih harus diperjuangkan agar benar-benar bisa dijalankan. Wallahu a'lam

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait