IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Santri Berprestasi


Sudah beberapa tahun terakhir ini, kementerian agama memberikan perhatiaan kepada para santri yang berprestasi. Perhatian itu diwujudkan melalui kerjasama dengan perguruan tinggi ternama sekaligus memberikan beasiswa kepapada para santri pondok pesantren , menempuh pendidikan di beberapa perguruan tinggi ternama, seperti UI, UGM, ITB, IPB, Unair, ITS, Unram, UIN Jakarta, UIN Malang, IAIN Sunan Ampel, IAIN Semarang dan lain-lain. Para santri, melalui seleksi khusus diberi peluang belajar di beberapa program studi apa saja yang diminati, seperti kedokteran, teknik, fisika, farmasi, biologi dan lain-lain.

Pada saat ini, kebijakan yang diambil oleh kementarian agama tersebut telah membuahkan hasil. Beberapa di antara mereka sudah lulus. Hal yang barangkali agak mengejutkan, ternyata di antara mereka lulus tepat waktu dan mendapatkan prestasi unggul. Hal ini menggambarkan bahwa para santri yang sehari-hari belajar di pesantren dengan keadaan yang tidak terlalu teratur, sebagaimana yang dilaksanakan di sekolah formal, ternyata tidak kalah prestasinya disbanding teman-temannya yang berasal dari sekolah umum.

Saya mendapatkan informasi tentang itu dari pertemuan yang diselenggarakan oleh Direktorat Pesantren Kemeterian Agama bekerjasama dengan Universitas Airlangga, pada hari Sabtu tanggal 6 Nopember 2010 di Surabaya. Pada pertemuan itu hadir pimpinan perguruan tinggi, di antaranya dari ITS, ITB, UGM, IAIN Semarang, IAIN Surabaya, UIN Malang, IPB, Unram dan lain-lain. Para pimpinan perguruan tinggi tersebut memberikan laporan tentang prestasi yang diraih oleh para mahasiswa di kamp[usnya masing-masing yang berasal dari pesantren.

Umumnya para santri ini tidak mengalami ketertinggalan, baik dari akademik maupun kegiatan kemahasiswaan lainnya. Bahkan, sudah barang tentu, dari aspek keagamaan, mereka memiliki kelebihan. Pengetahuan mereka yang diperoleh dari pesantren sebelumnya, tentu tidak akan dimiliki oleh mahasiswa lain yang berasal dari sekolah umum. Sehingga dari aspek pengetahuan keagamaan, mereka sudah unggul terlebih dahulu.

Melalui pertemuan itu, juga diperoleh informasi bahwa tidak sedikit lulusan perguruan tinggi terkemuka yang berasal dari pesantren, ternyata mendapatkan peluang studi lanjut (S2), baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Peluang itu diperoleh dari prestasi mereka, masuk kategori lulusan unggul. Di antara mereka sudah ada yang diterima di perguruan tinggi di Jepang, Philipina, Amerika Serikat. Sedangkan bagi mereka yang tidak studi lanjut, kembali ke pondok pesantren untuk melakukan pengabdiannya.


Fenomena tersebut, mungkin oleh sementara orang dianggapnya sederhana. Saya menganggapnya tidak demikian, adalah justru merupakan hal penting dan luar biasa. Sebab sebelumnya, pesantren oleh sementara kalangan dipandang sebagai lembaga pendidikan tradisional, para santri hanya belajar kitab kuning yang berisi tentang seluk beluk keagamaan. Selain itu, selalu saja ada anggapan bahwa pendidikan di pesantren dilaksanakan dengan cara tidak teratur dan sederhana, sehingga hasilnya kelak dianggap tidak akan bisa mengikuti pendidikan formal dan modern. Para santri pesantren diaggap tidak memiliki kompetensi dan pengetahuan apa-apa tentang ilmu modern seperti ilmu fisika, kimia, biologi, kedokteran, ekonomi dan lain-lain.

Akan tetapi ternyata melalui program kerjasama antara Kementerian Agama dan beberapa Perguruan Tinggi ternama tersebut, akhirnya dibuktikan bahwa anggapan itu tidak semua benar. Para santri pondok pesantren yang diberi peluang belajar di perguruan tinggi ternama, sebagaimana disebutkan di muka, ternyata berhasil mengikuti dan prestasinya tidak selalu rendah, dan bahkan beberapa di antaranya justru unggul. Fenomena ini kiranya bisa dijadikan bahan kajian menarik, -yang bisa jadi, akan bisa mnengubah pandangan atau pemikiran tentang pendidikan selama ini.

Banyak ahli pendidikan yang berpandangan bahwa, proses belajar mengajar harus selalu mengikuti aturan tertentu, di antaranya harus dijalankan dari tahap ke tahap, mengikuti kurikulum, menggunakan buku teks, guru dengan kualifikasi tertentu, dilaksanakan secara formal, dan juga dilakukan evaluasi, baik oleh sekolah yang bersangkutan maupun ujian yang diselenggarakan oleh pemerintah, yang disebut dengan ujian nasional. Seolah-olah pendidikan yang dilaksanakan di luar aturan itu tidak bermutu dan tidak akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Oleh karena itu, dengan bukti yang diraih oleh para santri berprestasi ini akan menjadi bukti, bahwa pendidikan bisa ditempuh oleh cara lain, semisal yang dilakukan oleh pesantren.

Melalui program tersebut, bagi pesantren sendiri juga akan mendapatkan keutungan yang amat penting. Sementara pesantren, masih beranggapan bahwa untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan seseorang harus ditempuh melalui belajar kitab-kitab kuning, yaitu kitab yang berisi tentang tauhid, fiqh, akhlaq, tarekh dan tasawwuf. Padahal dengan belajar fisika, kimia, biologi, matematika, sosiologi, psikologi dan lain-lain ternyata juga bisa melahirkan kesadaran keagamaan bagi seseorang. Seseorang yang mendalami ilmu-ilmu yang oleh sementara orang disebut sebagai ilmu sekuler, ternyata juga terbukti berhasil mendekatkan seseorang pada Tuhannya.

Pemahaman seperti ini, kiranya bisa digunakan untuk menjelaskan mengapa sementara mahasiswa perguruan tinggi umum, berhasil menjukkan sikap keberagamaannya yang tinggi. Tampak misalnya, sementara mahasiswa kedokteran, MIPA, teknik di kampus-kampus perguruan tinggi umum, memiliki aktivitas keagamaan yang menonjol. Mereka membangun gerakan atau melakukan aktivitas keagamaan di kampus-kampus. Melalui kajian-kajian kitab suci, -al Qur'an dan hadits nabi, mereka memperkaya pengetahuan keagamaannya dan kemudian mengembangkankannya lebih lanjut melalui disiplin ilmunya masing-masing. Dengan cara itu, mereka akan mendapatkan kebenaran baiik dari sumber ayat qawliyah sekaligus ayat-ayat kawniyah.

Dengan melihat kenyataan seperti itu, -santri berprestasi berhasil meraih prestasi di perguruan tinggi umum, maka kiranya akan terbangun suasana saling menghargai di antara berbagai jenis lembaga pendidikan yang ada selama ini. Pesantren tidak lagi menganggap rendah bagi orang yang belajar ilmu umum dan demikian pula sebaliknya, lembaga pendidikan umum tidak menganggap rendah terhadap lembaga pendidikan pesantren. Semua jenis institusi pendidikan itu adalah sebagai wahana untuk menumbuh-kembangkan peserta didik meraih kedewasaan, baik kedewasaan intelektual, spiritual, dan sosialnya. Bahkan ke depan dengan melakukan kolaborasi atau kerjasama di antara institusi pendidikan yang berbeda-beda jenisnya itu, akan diperoleh hasil yang lebih sempurna, yakni sosok manusia yang lebih sempurna dan utuh, yaitu manusia beriman, gemar beramal shaleh dan berakhlakul karimah. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait