IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Rsbi Dan Pemikiran Mendasar Tentang Pengelolaan Pendidikan


Penyelenggaraan RSBI yang sudah sekian lama berjalan akhirnya harus berakhir oleh adanya keputusan Mahkamah Konstitusi yang melarangnya. Keputusan MK tersebut, tentu disambut gembira oleh mereka yang selama ini menolak konsep itu dan sebaliknya menyesali bagi mereka yang sudah lama mendukung dan mengetahui hasil kongkrit dari implementasi konsep itu.

Sudah barang tentu semua pihak, apapun sikap atau penilaian yang selama ini dikembangkan harus menghormati keputusan Mahkamah Kosntitusi. Sebagai warga negara yang harus mentaati hukum, siapapun harus mengikhlaskan program RSBI dihentikan. Ke depan, RSBI yang jumlahnya ternyata di seluruh Indonesia ada sekitar 1300 harus mengubah dirinya menjadi sekolah biasa sebagaimana sekolah pada umumnya.

Dilihat dari semangat dan niat para pencetus RSBI, kiranya tidak ada yang salah. RSBI dimaksudkan sebagai pendekatan untuk meningkatkan kualitas lembaga pendidikan. Saya yakin bahwa mereka yang merencanakan konsep itu adalah didorong oleh semangat dan niat agar Indonesia ini memiliki lembaga pendidikan yang maju dan tidak kalah bilamana dibandingkan dengan sekolah-sekolah di negara lain.

Siapapun yang mencintai bangsa ini, tidak terkecuali orang-orang yang bergerak di dunia pendidikan, merasa sedih manakala mendengar berita bahwa lembaga pendidikan di luar negeri sudah sedemikian maju, dan sebaliknya Indonesia disebut sudah mulai kalah. Selain itu, orang-orang yang merasa bertanggung jawab terhadap pendidikan juga merasa gelisah manakala menyaksikan bahwa sudah mulai banyak orang-orang kaya berbondong-bondong menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri.

Mereka tahu dan menyadari bahwa tatkala mulai banyak orang kaya, sekedar menyekolahkan anaknya pada tingkat dasar dan menengah saja sudah ke luar negeri, maka akan mengkhawatirkan terhadap budaya bangsa ini ke depan. Manakala anak-anak Indonesia tidak dididik menjadi bangsa dan pemimpin yang benar-benar mengerti tentang Indonesia, maka bangsa ini akan kehilangan jati dirinya sendiri. Pendidikan dasar dan menengah adalah sangat strategis untuk membentuk perilaku, watak, dan karakter ke-Indonesiaan. Hal itu memang berbeda misalnya, untuk pendidikan tinggi.


Atas dasar pandangan dan perasaan seperti itulah kiranya kemudian RSBI muncul dan berkembang selama ini hingga berjumlah sedemikian banyak. Akan tetapi niat mulia dan tulus seperti itu, dalam perjalanan selanjutnya, tidak mustahil terjadi distorsi, dan atau dipandang terdapat sesuatu yang menyimpang dari aspirasi masyarakat. Misalnya, RSBI menjadi mahal sehingga tidak semua orang bisa menikmati dan kemudian melahirkan diskriminasi. Sementara orang lain mungkin juga melihat bahwa, semestinya masyarakat tidak terbebani biaya lagi setelah mendengar bahwa pemerintah sudah menganggarkan 20%, untuk pendidikan dari APBN.

Akan tetapi apapun argumentasinya, sekali lagi bahwa palu untuk mengentikan RSBI sudah dibunyikan oleh Mahkamah Konstitusi. Hal yang perlu dijawab kemudian adalah, bagaimana sekalipun tidak ada RSBI, pendidikan tetap maju, semua pihak, terutama bagi pengambil keputusan dan penggerak pendidikan tidak putus semangat, dan bahkan ke depan harus berhasil melahirkan lembaga pendidikan yang berkualitas, sehingga orang kaya, sekedar menyekolahkan anaknya pada tingkat dasar dan menengah tidak harus berbondong-bondong ke luar negeri. Oleh karena itu masih perlu dicarikan terobosan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di dalam negeri sendiri.

Kiranya siapapun warga negara ini akan bercita-cita, agar Indonesia mampu membuat dan mengimplementasikan konsep pendidikan unggul atau bermutu. Dengan prestasi itu, tidak saja orang kaya berhenti menyekolahkan anaknya ke luar negeri, tetapi bahkan berbalik, banyak orang luar negeri mengirim anak-anaknya ke Indonesia untuk sekolah. Indonesia tidak lagi dianggap oleh siapapun gagal membangun sekolah berkualitas, tetapi justru sebaliknya. Banyak orang dari luar negeri datang ke Indonesia belajar membuat sekolah unggul dan bahkan mereka dalam jumlah banyak datang untuk mencarikan sekolah bagi anak-anaknya.

Cita-cita itu bagi saya tidak berlebih-lebihan, asalkan mau. Sebagai contoh sederhana, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yang dulu dianggap sebagai perguruan tinggi kelas pingiran dan tidak dihitung oleh banyak orang, ternyata setelah dikembangkan beberapa tahun saja, sekarang berhasil dikenal banyak orang. Banyak anak-anak luar negeri kuliah di perguruan tinggi Islam ini. Para mahasiswanya selain berasal dari seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua, juga banyak yang berasal dari luar negeri. Menurut laporan dari kemahasiswaan yang saya terima, ternyata mahasiswa yang berasal luar negeri sudah tidak kurang dari 17 negara.

Para mahasiswa yang berasal dari luar negeri tersebut, sekalipun jumlahnya belum terlalu banyak, mereka itu antara lain dari Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina, Madagaskar, Papua New Ginie, Libya, Yaman, Sudan, Aljazair, Rusia, Ukraia, Slowakia, Bulgaria, Australia, Kamboja, dan Siria. Beberapa hari yang lalu, juga sudah ada permohonan yang dilampiri data lengkap, ada pendaftar dari Amerika Serikat. Hal sederhana ini kiranya bisa dijadikan pelajaran bahwa ternyata, manakala mau serius, bangsa ini bisa membuat sesuatu yang berhasil dinilai unggul oleh bangsa lain.

Sebagai bangsa yang, selain majemuk juga memiliki rentang kemampuan yang sedemikian lebar, maka tatkala menyusun konsep pengelolaan pendidikan harus memperhatikan kepentingan yang lebih luas dan menyeluruh, adil atau tidak diskriminatif, tidak memberatkan bagi mereka yang tidak mampu, tetapi juga tetap menghargai dan juga memberi peluang bagi siapa dan dari kelompok manapun yang berprestasi. Bangsa ini tidak saja ingin maju, tetapi juga harus memberikan rasa keadilan dan kebersamaan. Prinsip-prinsip itu memang berat diimplementasikan, tetapi semua harus yakin bisa mewujudkannya. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait