Ojo ketungkul marang kalungguhan
Kadonyan lan kemareman



Loading ...

IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Umum


Direktur Pendidikan Agama di Sekolah Umum Departemen Agama pada hari Ahad kemarin menyelenggarakan pertemuan guna merancang Penulisan Buku Agama Islam di Sekolah mulai dari TK, SD, SMP, dan SMA. Diundang dalam acara itu beberapa tokoh, seperti misalnya Prof.Malik Fadjar, Prof.Tholkhah Hasan, Prof. Said Agil Sirodj, Prof. Azyumardi Azra, Prof. Nur Syam, Prof. Athok Mudzhar, dan saya sendiri. Selain itu juga diundang beberapa Rektor UIN/IAIN, pimpinan Pondok Pesantren, dan para ulama lainnya sebagai peserta.

Buku pelajaran agama yang akan ditulis itu diharapkan bisa memberikan pedoman atau arah untuk memperkenalkan Islam yang rakhmatan lil alamien. Sesuatu yang dirasakan memprihatinkan oleh sementara kalangan bahwa, akhir-akhir ini ditengarahi sudah mulai muncul pemahaman Islam yang beraneka ragam di kalangan pelajar. Bahkan juga sudah mulai ada siswa yang mulai bersimpatik dengan cara-cara keras dalam memperkenalkan Islam, kurang menghormati, dan toleran terhadap kepercayaan agama lain. Jika gejala ini tumbuh dan apalagi berkembang, maka dikhawatirkan akan merugikan Islam sendiri sebagai agama yang penuh rakhmah.

Dalam kesempatan itu, saya mengajak peserta pertemuan untuk melakukan evaluasi dan perenungan kembali terhadap apa yang disebut sebagai pelajaran agama Isam selama ini. Pelajaran agama Islam di sekolah biasanya dijabarkan menjadi pelajaran aqidah, fiqh, akhlak, tarekh dan Bahasa Arab. Pelajaran yang hanya dua jam seminggu itu digunakan untuk menjelaskan tentang materi tersebut. Sehingga hasilnya kurang maksimal, dan hal yang lebih memprihatinkan adalah bahwa pelajaran agama kurang memiliki daya tarik dan bahkan tidak sedikit yang menganggapnya hanya sebagai beban belaka.

Selama ini, saya belum mendapatkan jawaban, mengapa pelajaran agama Islam dipilah-pilah menjadi aqidah, fiqh, akhlak, tarekh dan Bahasa Arab itu. Mungkin logikanya, dengan pelajaran aqidah ingin ditanamkan akidah pada peserta didik. Lewat pelajaran fiqh, diharapkan para siswa mengerti tentang hukum Islam. Melalui pelajaran akhlak, dimaksudkan agar para memiliki akhlak yang luhur. Pelajaran tarekh diharapkan bisa memberi pemahaman tentang sejarah Nabi dan para sahabat dalam memperkenalkan Islam. Sedangkan pelajaran Bahasa Arab dimaksudkan agar para siswa menguasai bahasa itu dan selanjutnya digunakan untuk memahami kitab suci al Qurán.

Pertanyaan yang selalu muncul dalam hati saya, mengapa pelajaran agama Islam tidak langsung mengacu saja pada al Qurán dan sejarah hidup Nabi Muhammad. Saya membayangkan jika pelajaran agama Islam secara langsung mengacu pada al Qurán, katakan misalnya, dimulai dari Surat al Fatekhah maka akan diperoleh gambaran tentang Islam secara lebih utuh. Para siswa diberi penjelasan tentang isi surat dalam al Qurán yang harus dibaca oleh setiap kaum muslimin setidak-tidaknya 17 kali setiap sehari semalam. Pertanyaan yang mendasar yang seharusnya diajukan adalah ada rahasia apa pada tujuh ayat yang juga disebut sebagai pembuka dan sekaligus juga induk al Qurán itu.

Secara singkat, saya menangkap bahwa tujuh ayat dalam surat al Fatekhah tersebut jika direnungkan secara mendalam, dan itu dijadikan sebagai pedoman hidup, maka rasanya sudah cukup bisa mengantarkan orang meraih kebahagiaan. Surat itu dimulai dengan bacaan basmallah. Dua sifat Allah yang amat mulia ialah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang diungkapkan pada pembukaan surat tersebut. Bahkan sekalipun hanya sebanyak tujuh ayat, dua ayat di antaranya memperkenalkan kedua Sifat Allah Yang Maha Mulia ini, yakni Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


Selanjutnya, hal yang menarik, ternyata seluruh surat dalam al Qurán yang berjumlah 114 surat, semuanya dimulai dengan kalimat basmallah, kecuali satu surat saja, ialah surat at Taubah. Dalam surat at Taubah ini, terdapat beberapa ayat yang menerangkan tentang perang. Rasanya menjadi logis, untuk mengingatkan bahwa hanya dalam keadaan perang saja dibolehkan tidak mengembangkan kasih sayang. Jika perang dilakukan dengan dasar kasih sayang, apalagi terhadap musuh, maka akan kalah. Kita akan diserang dan bahkan dibunuh, jika tidak mau menyerang atau membunuh musuh. Pengulang-ulangan ayat ini, dapat ditangkap, ialah betapa pentingnya sifat kasih sayang, seharusnya dikembangkan dan selalu mewarnai kehidupan kaum muslimin.

Setelah basmallah, dalam surat al Fatekhah diperkenalkan bahwa pemilik atau Dzat yang memiliki segala puji-pujian hanyalah Allah swt. Selainnya tidak berhak memilikinya. Padahal secara naluri, setiap orang dengan berbagai caranya berusaha memiliki pujian. Maka, lewat ayat itu manusia diingatkan bahwa pemilik puji-pujian hanyalah Tuhan sendiri. Setelah mengulangi ayat yang menunjukkan tentang kedua sifat Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dilanjutkan dengan statemen tentang penguasa di hari pembalasan (Maaliki yaumiddin). Ayat ini mempertegas tentang keharusan bagi manusia untuk selalu berusaha sekuat tenaga menampilkan kualitas hidup yang sebenarnya, yaitu kualitas iman, amal, dan akhlak.

Ayat berikutnya adalah petunjuk tentang kepada siapa seharusnya penyembahan dan permintaan pertolongan ditujukan. Secara naluriah manusia memiliki rasa beragama, yakni melakukan penyembahan. Ayat ini memberikan tuntunan secara tegas tentang itu, yakni kepada siapa seharusnya menyembah atau berbakti dan meminta pertolongan. Ayat tersebut kemudian disusul dengan bimbingan, agar selalu memohon petunjuk pada jalan yang benar. Manusia akan merasakan dan menyadari bahwa hidup di dunia ini tidaklah mudah. Sedemikian labil hati manusia dan juga banyak pilihan jalan hidup yang ditawarkan. Maka melalui ayat ini makhluk yang disebut paling mulia ini diingatkan agar selalu memohon petunjuk, minimal 17 kali sehari semalam. Dan akhirnya, masih melalui surat al Fatekhah ini pula, pada ayat yang paling akhir, manusia diingatkan tentang pentingnya kesadaran sejarah.

Isi Surat al Fatekhah yang sedemikian mendalam dan comprehensive itu, bukankah seharusnya dijadikan pedoman dalam hidup ini. Namun ternyata masih jarang diperkenalkan melalui pendidikan. Suat itu hanya sebatas dihafal dan dijadikan sebagai bacaan dalam setiap sholat. Akibatnya, nilai-nilai yang amat mulia yang seharusnya menjadi petunjuk dalam berperilaku bagi kaum muslimin sehari-hari luput dari padanya. Misalnya, membaca basmallah sedemikian fasikh dan dilakukannya berulang-ulang. Namun sebentar saja berhenti membaca ayat itu, perilakunya berlawanan dengan isi ayat yang baru saja dibacanya berulang-ulang itu.

Saya membayangkan, umpama pelajaran agama Islam di lingkungan sekolah umum, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, diorientasikan untuk menanamkan nilai-nilai dalam surat al Fatekhah yang sedemikian indah itu, maka rasanya maksud Direktur Pendidikan Agama di Sekolah Umum untuk memperkenalkan Islam yang Rakhmatan lil alamien, insya Allah terwujud. Sebaliknya, jika kemudian tetap tidak berani meninggalkan cara berpikir lama, yaitu hanya memperkenalkan Islam melalui pelajaran aqidah, fiqh, akhlak, tarekh dan Bahasa Arab sebagaimana yang berjalan selama ini, maka niat baik itu tidak akan terlaksana.

Melalui renungan yang panjang, saya menyimpulkan bahwa salah satu resiko mendidik agama, dengan memperkenalkan aqidah, fiqh, tarekh pada taraf awal, seolah-olah sama halnya dengan memperkenalkan perbedaan dan bahkan pertikaian kepada para peserta didik. Saya menganggap bahwa beberapa jenis pelajaran itu tetap perlu diberikan, tetapi harus diletakkan pada tempat yang tepat. Sebab menurut hemat saya, perbedaan dan bahkan perpecahan di kalangan umat Islam selama ini, jika diteliti lebih mendalam, sesungguhnya banyak bersumber dari perbincangan tentang ketiga hal itu.

Lain halnya jika Islam diperkenalkan dengan makna yang mendalam dan luas tentang ayat-ayat al Fatekhah, akan ditangkap keindahan ajaran Islam. Melalui berbagai diskripsi, ilustrasi dan bahkan juga sejarah perjalanan kehidupan manusia di sepanjang waktu dan tempat, maka akan bisa ditunjukkan tentang kemulia dan keindahan risalah yang dibawa oleh Muhammad saw. Kemuliaan dan indahan itulah yang selanjutnya diharapkan berhasil mewarnai pikiran, perasaan, dan mindset para siswa di sekolah umum, sehingga melahirkan perilaku yang digambarkan dalam kalimat sebagai rakhmatanan lil alamien itu. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Ternak Sapi Donggala