Urip iku urup



Loading ...

IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Meraih Kekhusu'an Dalam Shalat


Banyak orang bertanya-tanya tentang bagaimana agar ketika menjalankan shalat bisa dilaksanakan secara khusu'. Shalat tidak sempurna jika hanya dijalankan sambil lalu, tergesa-gesa, secara sembarangan, atau seenaknya saja. Shalat harus dilaksanakan secara sempurna, baik niatnya, bacaannya, gerakannya, dan lain-lain. Tanpa terpenuhinya persayaratan itu semua, maka shalatnya tidak sempurna dan juga tidak khusu'.

Banyak sekali orang mengaku gelisah oleh karena tidak pernah merasakan shalatnya hingga khusu'. Perasaan yang demikian itu bukan berarti bahwa yang bersangkutan tidak menghendakinya, tetapi oleh karena memang tidak mampu melaksanakannya. Sudah berusaha khusu', tetapi ternyata masih saja gagal. Tatkala memulai shalat, setelah berniat dan kemudian membaca takbiratul ikhram, ternyata yang bersangkutan mengaku segera teringat apa saja, yang semua itu tidak ada hubungannya dengan kegiatan shalat.

Sedemikian sulit shalat secara khusu' itu dijalankan, sehingga ada orang yang mengakui, bahwa dirinya termasuk orang yang tidak mudah mengingat-ingat sesuatu, akan tetapi jika sedang shalat, maka apa saja dengan mudah segera teringat. Akhirya, pada waktu menjalankan shalat, bukan nama Tuhan yang diingat, melainkan banyak hal yang semula dilupakan itu. Seolah-oleh untuk mengingat sesuatu, caranya adalah segera saja menjalankan shalat, maka sesuatu yang dilupakan itu akan segera diingat kembali.

Seringkali para mubaligh atau penceramah mengkritik orang yang tidak khusu' dalam menjalankan shalatnya. Kritik dimaksud sedemikian mengena, mungkin saja oleh karena, mereka sendiri sehari-hari juga mengalaminya. Tentu mendapatkan kritik itu, orang juga tidak akan segera berhasil meraih kekhusu'an. Sebab, tidak khusu' dalam shalat itu bukan atas kesengajaan, tetapi sebaliknya, adalah memang sulit dihindari. Sebenarnya yang diperlukan bukan kritik, tetapi adalah cara yang seharusnya ditempuh untuk mendapatkan kekhusu'an itu.


Memang ada saja pihak-pihak tertentu, sengaja menyelenggarakan latihan shalat khusu' bersama-sama. Akan tetapi pada kenyataannya, usaha itu tidak selalu berhasil. Setelah pelatihan, shalat khusu' itu berhasil dialami, akan tetapi tidak lama kemudian juga gagal kembali. Kekhusu'an selain memerlukan latihan, juga membutuhkan waktu dan tempat yang bisa melahirkan suasana khusu' itu. Shalat di Raudhah, di Masjid Nabawi, atau di Masjid al Haram, dekat Ka'bah, sekalipun harus berdesak-desakan, orang akan berhasil menjalankannya secara khusu'. Atau, shalat di tengah malam, oleh banyak orang, dirasakan lebih khusu' dibanding shalat pada waktu-waktu lainnya.

Seseorang disebut bahwa shalatnya khusu' apabila sejak dimulai kegiatan ritual itu hingga berakhir, seluruh pikiran, hati, dan juga perhatiannya hanya terkonsentrasi pada Tuhan. Pada waktu sedang shalat, maka semua hal terkait dengan selain kegiatan itu berhasil dilupakan, baik terkait pekerjaan, harta kekayaan, keluarganya, jabatannya, beban hidupnya, dan lain-lain, hingga terhadap yang sekecil-kecilnya. Orang yang berhasil meraih kekhusu'an dalam shalat, maka artinya mampu melupakan semua hal lain di luar shalatnya. Yang bersangkutan hanya berkonsentrasi pada shalatnya itu.

Jika dalam menjalankan shalat, seseorang masih ingat tentang aliran, organisasi atau madzhab teman atau tetangga, puasanya, doa-doa yang boleh dibaca dan sebagainya, maka sebenarnya ketika itu shalat yang bersangkutan juga tidak khusu'. Demikian pula, ketika seseorang sedang shalat, sedangkan yang diingat adalah apakah keber-Islaman tetangga atau temannya sudah kaffah, dan apalagi juga masih memikirkan tentang pengikut madzhab selain yang diikutinya tersesat atau tidak, maka jelas bahwa ketika itu, shalat mereka sendiri tidak khusu'.

Oleh karena itu, terkait kegiatan ritual, siapapun seharusnya berkonsentrasi untuk mengurus dirinya sendiri. Berhasil mengurus kekhusu'an dirinya sendiri saja sebenarnya sudah hebat. Sebab pekerjaan itu adalah tidak mudah, dan belum tentu berhasil diraih. Suasana khusu' adalah merupakan bagian dari pekerjaan hati. Maka, siapapun tidak akan mampu memberikan penilaian secara tepat. Bahkan, apakah dalam menjalankan shalat seseorang benar-benar khusu' atau tidak, yang bersangkutan sendiri saja juga belum tentu mengetahui. Itulah sebabnya, sesama muslim tidak boleh saling mengklaim bahwa dirinya paling benar atau juga paling khusu'. Sebab, kekhusu'an itu tidak mudah diketahui dan apalagi diraih. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Ternak Sapi Donggala