IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Meraih Keberhasilan Hidup


Semua orang menginginkan agar hidupnya sukses atau berhasil. Tentu, keberhasilan yang dimaksudkan itu bermakna luas. Keberhasilan yang dimaksudkan tidak saja sekedar berkecukupan ekonomi, atau menjadi seorang kaya, tetapi juga terhormat, hidupnya bermanfaat bagi orang lain, dan bahkan pantas menjadi tauladan.

Jika beberapa hal tersebut yang menjadi ukuran, maka hidup sukses dimaksud sangat tidak mudah diraih. Jangankan berhasil memberi manfaat dan juga pantas dijadikan tauladan, sekedar sukses menjadi orang kaya saja, ternyata juga tidak mudah.

Pada kenyataannya, hanya sedikit saja orang yang sukses memenuhi kebutuhan ekonomi. Sebagian besar lainnya, ternyata hidup mereka dalam keadaaan miskin. Rumah tidak punya, kendaraan tidak bisa dibeli, dan bahkan untuk menyambung hidup sehari-hari dirasakan tidak mudah.

Betapa sulitnya memenuhi kebutuhan ekonomi di zaman modern sekarang ini, maka siapa saja yang berhasil dianggapnya sukses. Yaitu, sukses melewati anak tangga pertama, ialah memenuhi salah satu kebutuhan dasarnya. Bagi orang yang miskin ilmu pengetahuan, ketrampilan, kemampuan berkomunikasi, dan atau pergaulannya, maka sekedar mendapatkan pekerjaan yang mendatangkan rizki ternyata tidak mudah.

Pada zaman dahulu, yakni ketika sumber alam masih melimpah, sekalipun tanpa ilmu pengetahuan yang memadai, orang bisa bekerja secara alami. Yakni, menjadi petani tradisional, nelayan, peternak, pedagang sederhana dan sejenisnya. Hal itu berbeda ketika hidup di zaman modern seperti sekarang ini. Tanpa ilmu pengetahuan, ketrampilan, kemampuan berkomunikasi, ketersediaan modal, dan seterusnya, mendapatkan dan apalagi meciptakan lapangan pekerjaan tidak mudah.


Bagi orang yang tidak memiliki bekal pengetahuan dan ketrampilan yang cukup, maka yang bersangkutan harus mau menerima jenis pekerjaan apa saja, misalnya menjadi buruh, bahkan harus pergi ke luar negeri, menjadi TKI dengan gaji yang tidak terlalu tinggi. Melihat kenyataan itu, sebagaimana disebut di muka, menjalani hidup ini teryata tidak mudah. Kelangsungan hidup harus dibayar mahal, yakni bekerja keras. Mempertahankan hidup bagaikan orang berperang, yaitu antara kalah dan menang.

Menghadapi tantangan kehidupan yang tidak mudah itu, Islam sebenarnya telah memberikan petunjuk yang cukup jelas. Petunjuk itu bisa ditangkap dari ayat-ayat al Qur'an, hadits nabi, maupun bacaan terhadap alam raya ini. Dalam al Qur'an, orang sukses harus memiliki keyakinan yang kokoh bahwa Dzat Pemilik dan Penguasa jagad raya ini akan memberikan rizki kepada siapapun yang mau bekerja secara shaleh atau benar.

Bekerja secara benar atau shaleh adalah bekerja yang mendasarkan pada ilmu pengetahuan, pengalaman, dan ketrampilan. Itulah sebabnya dalam al Qur'an dipertegas bahwa siapapun yang beriman dan beramal shaleh akan memperoleh kebahagiaan, baik di dunia maupun di akherat kelak. Ilmu adalah dasar beramal shaleh. Orang yang ingin sukses dalam bertani, maka harus bekerja atas dasar ilmu bertani. Orang yang berkeinginan sukses dalam mengelola tambang, maka harus berbekal ilmu pertambangan. Demikian pula seterusnya, dalam peternak, berdagang, dan lain-lain.

Islam juga menganjurkan agar manusia memperhatikan apapun yang ada di jagat raya ini. Manusia dianjurkan agar memperhatikan fenomena alam, hingga unta dijadikan, langit ditinggikan, bumi dihamparkan, dan gunung ditegakkan. Semua itu mengandung pelajaran yang amat berharga. Dalam skala kecil, terkait usaha ekonomi misalnya, manusia ditunjukkan hingga pada hal yang sederhana. Misalnya, tahap kehidupan kecambah. Tatkala kedelai disiram air, maka biji itu meledak. Bagian yang tumbuh pertama kali dari kecambah itu adalah akarnya, yakni piranti untuk mencari sari pati makanan dan sebagai penyangga agar mampu tumbuh dan berdiri tegak.

Melihat secara saksama proses pertumbuhan kecambah itu, bagi orang yang mau berpikir dan melakukan perenungan, maka akan berkesimpulan, bahwa kehidupan ini harus dimulai dari kegiatan berekonomi. Tanpa ekonomi, kehidupan ini tidak akan berkelanjutan dan apalagi berhasil mampu berdiri tegak dan kokoh. Tanpa disangga oleh kekuatan ekonomi, maka seseorang akan tergantung dan menjadi beban orang lain.

Jika kecambah saja, mengawali hidupnya, terlebih dahulu menumbuhkan akar sebagai sarana untuk mendapatkan sari pati makanan, maka apalagi seharusnya bagi manusia. Itulah sebabnya, Islam mengajarkan, bahwa memperoleh ekonomi yang halal menjadi penting. Sukses pada jenis atau tingkat apapun pasti diawali dari keberhasilannya dalam mencukupi kebtuhan ekonomi sehari-hari. Sementara itu, untuk mencukupi kebutuhan dimaksud harus berbekalkan keyakinan, ilmu pengetahuan, ketrampilan, akhlak mulia, dan kemauan bekerja yang benar atau beramal shaleh. Itulah sebenarnya pintu sukses, menurut perspektif Islam, dalam menjalani kehidupan ini. Walllahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait