IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Menunggu Islam Menjadi Kenyataan Sehari Hari


Bagi orang Islam tidak akan mungkin bisa menunjukkan sisi-sisi lemah ajaran agamanya. Begitu juga akan sulit menunjukkan celah kekurangan perilaku rasul yang menjadi anutannya, yaitu Muhammad saw. Al Qur'an dan hadits nabi sedemikian indah isinya. Jika dua sumber ajaran Islam itu berhasil dijalankan dalam kehidupan sehari-hari oleh siapapun, akan mendatangkan kebahagiaan dan keselamatan, tidak saja di akherat kelak, tetapi juga di dunia ini.

Memang ada saja sementara orang yang merendahkan Islam. Bahwa Islam hanya dianggap sebatas berhasil mengantarkan seseorang meraih ketenangan hidup. Padahal masih menurut pendapat mereka pula, ketenangan yang dimaksudkan hanyalah bersifat semu. Hidup di dunia tidak hanya membutuhkan ketenangan, tetapi adalah kenyataan-kenyataan yang harus dihadapi dan diselesaikan. Sedangkan Islam dianggap belum memberikan konsep untuk menghadapi persoalan hidup itu.

Komentar seperti itu muncul karena melihat Islam bukan dari ajarannya, melainkan mereka melihat Islam dari perilaku semetara kaum muslimin. Memang tidak sedikit kaum muslimin, yang perilaku, kharakter, atau wataknya masih jauh dari ajaran Islam itu sendiri. Islam yang sedemikian luas dan mulia, oleh sementara umatnya sendiri, baru ditangkap dan dijalankan dari aspek-aspek tertentu, dan bahkan kehidupan mereka sehari-hari masih jauh dari konsep ideal ajaran Islam itu sendiri.

Pengamalan Islam selalu dilakukan secara bertahap, sebagian demi sebagian. Pada kenyataannya tidak ada orang yang berhasil mengamalkan Islam sepenuhnya. Mungkin hanya nabi saja yang berhasil menjalankan Islam secara sempurna itu. Selainnya, Islam hanya dijalankan sebagian-sebagiannya. Mungkin banyak orang menangkap Islam, hanya dari aspek tertentu, misalnya aspek ritualnya, dan bahkan ritual itupun juga belum dijalankan secara sempurna.

Kegiatan ritual Islam, antara lain dijalankan agar berdampak pada kehidupan sosial. Misalnya dengan sholat, agar seseorang berhasil menghindarkan diri dari perbuatan keji dan mungkar. Namun demikian, bisa jadi dampak itu juga belum bisa diperoleh secara sempurna. Sekalipun sehari-hari seseorang sudah menjalankan ritual dengan tertib, tetapi juga masih belum berhasil menghindarkan diri dari perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan. Misalnya, mereka masih berlaku kasar terhadap suami/isteri dan anaknya, sekali-kali masih berbohong, merasa sakit hati tatkala orang lain dan atau tetangganya mendapatkan nikmat, kurang bersyukur, dan seterusnya.

Islam memang sedemikian agung dan indah, hingga hampir tidak ada orang yang mampu menangkap keagungan dan keindahan itu secara sempurna. Islam yang sedemikian besar, mulia, dan tinggi tidak akan bisa secara sempurna ditangkap oleh hati dan pikiran manusia yang serba sempit dan berkekurangan. Keadaan manusia yang serba berkekurangan seperti itu menjadikan Islam tampil sempit, sebagaimana sempitnya pikiran dan hati masing-masing pemeluknya.


Gambaran di muka, baru menjelaskan tentang Islam tatkala dilihat dari aspek ritualnya. Padahal ajaran Islam meliputi aspek-aspek lain yang lebih luas, dari sebatas tuntunan ritual itu. Islam memberikan gambaran tentang wilayah kehidupan intelektual atau ilmu yang sedemikian luas yang harus dicari dan digali. Selain itu, Islam mengajarkan tentang watak, karakter, perilaku atau akhlak sebagai seorang muslim, serta bagaimana kehidupan sosial dibangun. Islam juga mengajarkan tentang konsep amal saleh atau berbuat yang terbaik.

Terkait dengan ilmu pengetahuan, Islam memberikan gambaran yang sedemikian luas. Dalam al Qur'an diperkenalkan tentang ciptaan Allah baik di langit maupun di bumi. Melalui al Qur'an diperkenalkan kepada manusia tentang kehidupan dunia dan akherat. Melalui kitab suci itu pula, diberikan informasi tentang jagad raya ini serta seisinya, meliputi bumi, bulan, matahari, bintang, langit yang berlapis tujuh, laut dan samudera, gunung-gunung, manusia, kehidupan binatang dan tumbuh-tumbuhan. Semuanya itu terhampar secara terbuka agar dikaji oleh manusia. Namun ditegaskan, bahwa sebanyak apapun ilmu yang berhasil ditangkap atau digali oleh manusia, maka semua itu masih merupakan bagian yang amat kecil saja dari ilmu Allah.

Islam melalui al Qur'an dan hadits nabi, dengan demikian, memberikan pandangan yang sedemikian luas kepada manusia. Atas dasar pandangan itu semestinya, kaum muslimin adalah kaum yang memiliki jangkauan pikiran yang luas dan besar, hati yang lapang dan, serta jiwa yang kuat dan besar. Dengan memeluk Islam, semestinya seseorang menjadi mulia dan berderajat tinggi, melebihi umat lainnya.

Akan tetapi pada kenyataannya, kebesaran dan kemuliaan itu belum sepenuhnya diraih oleh umat Islam secara keseluruhan. Umat Islam sementara ini belum berhasil memenuhi perintah ajarannya, untuk menggali ilmu pengetahuan seluas-luasnya. Bahkan umat Islam masih tertinggal dari umat lain, misalnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Sementara umat Islam, masih sibuk berdebat soal ritual. Padahal ritual tidak perlu diperdebatkan, melainkan semestinya segera diamalkan. Tetapi pada kenyataannya, umat masih sebatas itu, walaupun mereka tahu bahwa hal itu akhirnya hanya berujung pada perpecahan, sehingga umat Islam menjadi lemah.

Sebagai contoh sederhana lainnya, terkait dengan kehidupan sehari-hari, umat Islam juga belum berhasil pengembangan ekonomi. Sebagai akibatnya, masih terjadi kemiskinan di mana-mana, kesenjangan ekonomi di kalangan umat, pengangguran, ketidak pedulian terhadap yang miskin, yatim dan papa. Padahal terkait dengan hal itu, Islam memberikan tuntunan yang amat jelas. Umat Islam harus peduli terhadap orang miskin dan anak yatim. Mengabaikan hal itu dianggap sebagai telah mendustakan agamanya

Islam menganjurkan agar kaum muslimin mau berbagi atau berinfaq, bersedekah, zakat, dan semacamnya. Akan tetapi pada kenyataannya, sebagian besar umat Islam masih merasa berat untuk melepaskan sebagian hartanya untuk kepentingan orang lain yang membutuhkan. Ajaran Islam yang terkait dengan harta atau ekonomi ini, sesungguhnya sedemikian jelas. Akan tetapi lagi-lagi, ternyata sebagian besar umat, -sekalipun mampu, masih banyak yang belum mengamalkannya. Oleh sebab itu, hingga sampai menjadi kenyataan sehari-hari, keindahan Islam itu, ternyata masih harus ditunggu lebih lama lagi. Sampai kapan ? Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait