IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Mengubah Jalan Hidup Lewat Pendidikan Tinggi


Selama ini orang sedemikian percaya, bahwa dengan belajar di perguruan tinggi maka kehidupan masa depan terjamin akan menjadi lebih baik. Keyakinan seperti itu juga sudah terbukti, yakni banyak orang yang berpendidikan tinggi, ternyata berhasil mengubah nasibnya. Semula hanya sebagai anak petani dengan lahan terbatas di pedesaan sehingga penghasilannya pas-pasan, namun setelah lulus perguruan tinggi, ternyata seseorang berhasil memperoleh pekerjaan yang layak dan akhirnya sukses memperbaiki nasibnya.

Banyak pilihan ilmu yang bisa dipelajari di perguruan tinggi. Seseorang bisa memilih sesuai dengan minat dan bakatnya. Terhadap banyaknya pilihan itu, seseorang bisa memilih jenis ilmu yang dianggap mudah mendatangkan uang. Beberapa jenis ilmu dimaksud misalnya, kedokteran, ekonomi, teknik, dan sejenisnya. Masyarakat luas terlanjur yakin bahwa berbekalkan jenis ilmu dimaksud akan mudah untuk mencari kerja. Sementara itu jenis ilmu lainnya, seperti ilmu pendidikan, ilmu bahasa, seni, agama, dan sejenisnya tidak akan memberi peluang lapangan kerja yang luas, dan apalagi penghasilan yang memuaskan.

Mungkin saja anggapan tersebut ada benarnya. Akan tetapi apa yang digambarkan itu tidak selalu bisa dibuktikan. Tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang tergolong hebat, dan demikian pula jurusan yang dipilihnya dianggap masih laku di lapangan kerja, tetapi pada kenyataannya hitungan itu tidak selalu tepat. Ada saja, sarjana lulusan perguruan tinggi yang tidak diperhitungkan dan bahkan juga jurusan pilihannya tidak diperebutkan oleh banyak orang, tetapi ternyata yang bersangkutan justru memperoleh peluang pekerjaan yang jauh lebih banyak mendatangkan rizki.

Hal yang perlu disadari bahwa, mengubah nasib melalui perguruan tinggi, bukan hanya terletak pada perguruan tinggi dan bidang ilmu pilihannya, ''-sekalipun hal itu penting, tetapi sebenarnya ada kekuatan lain yang juga ikut berpengaruh terhadap jalan hidup seseorang. Beberapa hal yang dimaksudkan itu adalah menyangkut aspek kepribadian seseorang. Pada kenyataannya bahwa keberhasilan seseorang dalam menjalani hidup tidak semata-mata tergantung dari jenis ilmu yang disandangnya, melainkan juga banyak ditentukan oleh faktor di luar itu.


Kemampuan bersillaturrahmi, jiwa atau mental sukses dan mental pemenang, integritas, dan juga akhlak terpuji, semua itu adalah sangat penting dan bahkan menentukan keberhasilan seseorang di dalam menjalani hidupnya. Mungkin saja seseorang hanya lulusan perguruan tinggi yang tidak diperhitungkan oleh banyak orang, dan juga ilmu yang dipelajari tidak terlalu dianggap menarik, akan tetapi dengan prestasi itu ternyata berhasil mengubah mentalnya, hingga yang bersangkutan berhasil meraih prestasi, bahkan melebihi sesamanya.

Setelah lulus dan menyandang gelar sarjana, yang bersangkutan memiliki kepercayaan diri yang luar biasa besarnya. Selain itu, dengan gelar akademik yang disandangnya, maka jiwanya menjadi merdeka. Ia bermental bebas, berani, dan bersikap terbuka. Ijazah dan ilmunya berhasil membebaskan dirinya dari perasaan terbelenggu, rendah diri, rasa takut, khawatir, takut, bisa berkomunikasi dengan siapapun. Atas dasar kepercayaan diri dan kebebasan jiwanya itu, maka dia berani berbuat sesuatu yang bermanfaat, tidak saja untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk orang lain.

Pada kenyataannya tidak semua lulusan perguruan tinggi berhasil membangun jiwa dan mental sebagaimana secara sederhana diuraikan di muka. Mereka memang menguasai ilmunya. Akan tetapi, ia gagal di dalam membangun kepribadian atau jiwanya itu. Memang pada kenyataannya tidak sedikit lulusan perguruan tinggi, sekedar mengkomunikasikan ilmunya tidak berhasil. Sementara orang mengatakan bahwa yang bersangkutan itu pintar tetapi kepintarannya hanya untuk kebutuhan dirinya sendiri. Sarjana seperti ini biasanya kurang cakap ketika menjadi pemimpin, dan bahkan termasuk memimpin dirinya sendiri.

Oleh karena itu, perguruan tinggi bisa disebut sebagai sarana untuk mengubah jalan hidup seseorang, jika institusi pendidikan itu berhasil mengubah mindset, cara berpikir, cara memandang dunianya, akhlak, termasuk cita-cita dan semangat untuk meraihnya. Sebaliknya, perguruan tinggi juga bisa merugikan, tatkala tidak mampu mengubah aspek penting tersebut bagi siapa saja yang belajar di tempat itu. Bahkan, kerusakan lebih jauh juga bisa ditimbulkan oleh perguruan tinggi, tatkala tidak mampu memberikan pengaruh positif hingga menyebabkan mahasiswanya mengalami disorientasi dalam bentuk misalnya, melakukan banyak protes, demonstrasi yang tidak jelas arahnya, dan lain-lain. Dalam keadaan seperti itu, lembaga pendidikan justru menjadi jalan menuju kegagalan hidup. Tentu, semua orang tidak menginginkan hal itu terjadi. Walllahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait

Mengajarkan Pancasila



Ada pengakuan jujur dari peserta seminar nasional yang membahas tentang pemikiran dan langkah ny ...