IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Menghargai Kejujuran


Akhir-akhir ini menteri pendidikan nasional melontarkan gagasan tentang pentingnya pendidikaan karakter. Orang harus cerdas secara intelektual dan sekaligus unggul karakternya. Seorang yang hanya cerdas intelektualnya tanpa diikuti oleh keunggulan karakternya justru akan membahayakan diri yang bersangkutan dan bahkan juga orang lain. Demikian pula orang yang tinggi karakternya, tetapi tidak cerdas secara intelektual maka juga tidak akan banyak memberi manfaat, dan bisa jadi akan diombang-ambingkan oleh orang lain.

Membangun kecerdasan intelektual selama ini dilakukan dengan cara memberikan berbagai pelajaran melalui lembaga pendidikan. Para siswa diajari berhitung, membaca dan menulis, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan humaniora. Pengetahuan tersebut dikemas dalam berbegai tingkatan, dan diberikan sesuai dengan perkembangan para siswa, mulai tingkat dasar hingga menengah, dan bahkan perguruan tinggi.

Jika berkarakter disama artikan di antaranya dengan kejujuran, maka pertanyaannya adalah, apakah dengan pelajaran sebagaimana disebutkan di muka seorang siswa pada tingkatan tertentu, juga sekaligus telah berhasil terbangun sifat kejujurannya. Harapannya memang seperti itu. Para siswa setelah mendapatkan seperangat pengetahuan tersebut, selain intelektual mereka meningkat, kejujurannya juga bisa teruji. Namun pada kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak orang cerdas, berpendidikan tinggi, tetapi belum mampu berbuat jujur. Antara kecerdasan dan kejujuran ternyata tidak selalu tumbuh seiring dan atau sejalan.

Di dalam al Qur'an dapat ditemukan konsep ulul al baab. Pada ayat al Qur'an itu disebutkan bahwa ulul al baab adalah orang yang selalu berdzikir dan memikirkan ciptaan Allah baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi. Ayat itu jika dikaitkan dengan misi Rasulullah, yakni untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, maka akhlak sebanrnya terbangun oleh banyaknya berdzikir dan selalu memikirkan ciptaan Allah, baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi.

Berangkat dari ayat al Qur'an tersebut di muka, maka upaya penguasaan berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti ilmu pengetahuan alam, ilmu sosial, dan humaniora belum cukup untuk meraih derajad ulul al baab. Untuk meraih derajad mulia itu, bahkan harus didahului dengan selalu berdzikir tanpa batas waktu dan jumlahnya. Seseorang, sebatas mempelajari ilmu alam, ilmu sosial, dan humaniora belum cukup untuk menjadi jujur, berakarakter, dan berakhlak mulia.


Untuk menjadi orang yang berkharakter, jujur atau berakhlak mulia, selain selalu memikirkan ciptaan Allah b aik di langit maupun di bumi, maka harus diawali dengan selalu mengingat Allah atau berdzikir. Kegiatan berdzikir, atau mengingat Allah dilakukan pada setiap waktu, sehingga pikiran dan hatinya akan selalu terpelihara, dan sebaliknya terhindar dari melakukan apa saja yang merugikan dirinya dan juga orang lain. Orang yang melakukan keburukan, salah, dan dosa adalah karena yang bersangkutan tidak sedang berdzikir atau ingat pada Allah.

Seseorang yang dinyatakan berhasil meraih keunggulan intelektual, selama ini sudah tersedia alat ukurnya, yaitu berbagai pertanyaan atau soal ujian, baik ujian sekolah maupun ujian nasional. Soal-soal dalam ujian biasanya hanya bisa mengukur keluasan wawasan, kemampuan intelektual atau kecerdasan seseorang. Sedangkan untuk mengukur akhlak, karakter atau kejujuran belum dikembangkan secara m endalam. Memang sudah ada test-test yang dibuat oleh para ahli psikologi untuk mengetahui sikap atau attitude seseorang, tetapi belum sampai mampu mengukur karakter, atau akhlak secara mendalam. Mengukur tingkat kejujuran, karakter, dan akhlak seseorang tidak mudah dilakukan.

Selain itu, bahwa pengajaran karakter, kejujuran, dan akhlak tidak cukup ditempuh dengan menerangkan tentang akhlak baik dan akhlak buruk, atau penjelaskan tentang kejujuran dan bagaimana mengimplementasikan di tengah kehidupan. Pendidikan karakter atau kejujuran memerlukan ketauladanan, pembiasaan, dan penghargaan dari lingkungan, baik lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Demikian pula penilaian terhadap kejujuran dan karakter tidak cukup hanya melihat jawaban-jawaban siswa dari soal yang dibuat oleh guru. Untuk melihat kejujuran seseorang harus dilakukan dengan cara yang tepat, misalnya didasarkan atas hasil pengamatan yang mendalam dan menyeluruh.

Terkait dengan upaya membangun kejujuran, mestinya di tengah masyarakat di sekolah maupun di luar sekolah, dikembangkan tradisi menghargai bagi siapa saja yang berhasil mengembangkan sifat jujur. Pengakuan terhadap prestasi, bukan saja dilihat dari aspek akademiknya, melainkan juga dari sejauh mana, berdasarkan pengamatan yang saksama, menyeluruh dan mendalam, seseorang selalu berjuat jujur. Nabi Muhammad sejak awal dikenal oleh masyarakatnya sebagai sosok pribadi yang jujur, hingga dijuluki dengan sebutan al amien. Bahkan ketika para kabilah di sekitar Ka'bah bertikai dan berebut siapa yang berhak meletakkan hajar aswad, maka Muhammad pun dipanggil untuk menjadi hakim. Ia kemudian melakukannya dengan jujur dan adil.

Kaum yang masih jahiliyah ketika itu ternyata sudah bisa menghargai dan menganggap penting orang jujur dan adil. Oleh karena itu, mestinya di zaman ilmu pengetahuan sudah sedemikian maju seperti sekarang ini, bahkan di kala nilai-nilai kejujuran sedang didambakan oleh banyak orang, maka perlu menghargai atau memberi nilai lebih terhadap orang-orang yang dianggap mampu berperilaku jujur atau berkarakter. Namun sayangnya, yang selalu dipandang tinggi, justru uang dan atau harta. Maka, beginilah masyarakat jadinya, yaitu selalu berisik, dan bahkan konflik di mana-mana. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait

KUA dan Tarif Kehidupan



Beberapa waktu yang lalu, KUA menjadi sorotan publik. Ongkos nikah yang ditangani oleh Kantor Urus ...