IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Membangun Pikiran Dan Jiwa Besar


Pemimpin yang benar-benar pemimpin selalu dituntut menyandang pikiran dan jiwa besar. Besar kecilnya pikiran dan jiwa seseorang bisa dilihat dari batas-batas yang dipikirkannya. Orang besar selalu memikirkan orang banyak. Dia akan melupakan kepentingan diri sendiri, dan bahkan keluarganya. Seorang pemimpin yang hanya memikirkan kepentingannya sendiri, dan atau juga keluarganya, maka jangan disebut sebagai pemimpin yang berjiwa besar.

Selain itu, besar kecilnya jiwa seseorang bisa dilihat dari keluasan akunya. Ada aku kecil dan aku besar. Seorang disebut memiliki aku kecil apabila yang dilakukan selalu berorientasi pada kepentingan dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang disebut memiliki aku besar adalah manakala apa saja yang dipikirkan dan dilakukan selalu diorientasikan untuk kepentingan orang banyak.

Islam menganjurkan ummatnya agar menyandang aku besar. Ajaran itu bisa dilihat dari sumber ajaran Islam, yang mengatakan bahwa sebaik-baik seseorang adalah mereka yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain. Ukuran kebaikan itu adalah kemanfaatannya. Semakin banyak seseorang memberikan manfaat bagi orang lain, maka yang bersangkutan itulah pantas disebut sebagai orang yang terbaik.

Bahkan kalau ajaran tersebut di muka diperluas, hingga menjadi sebaik-baik kelompok, organisasi, dan bahkan negara, adalah kelompok, organisasi dan bahkan negara yang memberi manfaat bagi kelompok, organisasi dan negara lain, maka akan menjadi lebih semakin indah. Dengan demikian kelompok atau organisasi akan selalu berjuang agar berhasil memberi manfaat bagi kelompok atau organisasi lainnya.


Jika organisasi terbaik adalah yang memberi manfaat bagi organisasi lainnya, maka tidak semestinya terjadi persaingan, kompetisi, dan apalagi konflik di antara berbagai organisasi, apalagi sama-sama organisasi sosial keagamaan. Sebab masing-masing organisasi menginkan menjadi organisasi yang terbaik. Sedangkan agar menjadi yang terbaik, maka harus berusaha memberi manfaat bagi organisasi lainnya. Organisasi yang hanya berhasil memberi manfaat bagi anggotanya, maka belum disebut sebagai yang terbaik.

Sebagai contoh kongkrit, bahwa organisasi NU misalnya, ia disebut menjadi yang terbaik manakala organisasi sosial keagamaan ini telah berhasil memberi manfaat terhadap Muhammadiyah, Persis, PUI, Al- Wasliyah, Tarbiyah Islamiyah dan lain-lain. Begitu juga seterusnya, Muhammadiyah akan disebut sebagai organisasi Islam terbaik, manakala organisasi ini berhasil memberikan paling banyak manfaat bagi organisasi lain seperti NU, PUI, Tarbiyah Islamiyah, dan demikian pula seterusnya, organisasi-organisasi lainnya.

Mereka yang selalu berpikir dan berusaha memberikan manfaat paling banyak itulah disebut telah menyandang jiwa besar. Mereka tidak lagi memiliki aku kecil, tetapi akunya sudah besar, artinya yang dipikirkan tidak saja dirinya sendiri, kelompoknya sendiri, organisasinya sendiri, tetapi adalah kepentingan orang, kelompok dan banyak organisasi yang lebih luas. Apa yang dipikirkan oleh mereka sudah menembus batas-batas kepentingan dirinya, kelompoknya, dan bahkan juga organisasinya.

Namun jangan dikira berpikir dan berjiwa besar itu mudah. Oleh karena tidak mudah itu, maka kadangkala sekalipun seseorang sudah menjadi pemimpin besar, masih sempat-sempatnya memikirkan kepentingan anak, isteri, dan saudara-saudaranya sendiri. Jika demikian itu yang terjadi, maka sebenarnya jabatannya belum mampu membesarkan jiwa dan pikirannya. Jabatan yang disandangnya sudah besar, tetapi jiwa dan pikirannya masih kecil. Bukti bahwa akunya masih kecil, maka hingga yang diurus masih di seputar keluarga, saudara, dan golongannya sendiri.

Akhirnya, betapa indahnya Islam itu, ia menganjurkan ummatnya agar selalu berjiwa dan berikir besar. Kebaikan seseorang dilihat dari seberapa banyak telah berhasil memberi manfaat bagi orang lain, atau dalam tingkatan organisasi dan bahkan negara, adalah organisasi atau negara yang paling banyak berhasil memberi manfaat bagi organisasi, dan bahkan negara lain. Manakala ajaran tersebut berhasil dimiliki dan disandang oleh masing-masing orang, organisasi, dan bahkan negara, maka kiranya tidak akan terjadi saling berebut kemenangan. Sebab, disebut sebagai pemenang adalah tatkala yang bersangkutan telah berpikiran dan berjiwa besar, serta berhasil memberi manfaat yang terbanyak terhadap pihak-pihak lainnya. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait

Menjadi Kaya Terhormat



Menjadi kaya adalah harapan semua orang. Kaya kemudian menjadi sesuatu yang dicita-citakan. Orang ...

Ma'siyat Modern



Di antara beberapa spanduk yang dipasang di beberapa tempat strategis di bulan Ramadhan ini, adal ...