IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Membangun Lembaga Pendidikan Yang Islami


Setiap sekolah yang beridentitas Islam, ingin mengantarkan peserta didiknya menjadi anak sholeh-sholikhah atau berkepribadian Islami. Hanya saja, betapa beratnya tugas ini harus diemban. Sebab, ternyata belum semua lembaga pendidikan yang beridentitas Islam mampu melahirkan lulusan yang diidamkan itu. Banyak informasi, yang menyebutkan bahwa orang tua mengeluhkan terhadap anaknya lantaran perilakunya kurang menggembirakan. Padahal ia sudah menyekolahkannya di lembaga pendidikan Islam.

Beban berat ini, kiranya tidak terlalu sulit dipahami, sebab betapa kompleknya lingkungan di luar kehidupan keluarga dan sekolah pada saat ini. Sekalipun di sekolah dan juga di lingkungan keluarga para siswa telah dibiasakan berperilaku santun, tetapi ternyata di luar kedua lingkungan itu mereka memperoleh contoh kehidupan yang berlawanan dengan nilai-nilai yang dikembangkan di sekolah atau di keluarga. Problem inilah yang saat ini dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam atau madrasah.

Hasil yang belum sepenuhnya dicapai oleh semua lembaga pendidikan Islam saat ini menjadikan anak sholeh-sholihah atau berpribadi Islami sedemikian mahalnya. Orang tua yang telah menyadari persoalan besar itu, mau saja mengirimkan anaknya ke lembaga pendidikan di mana saja yang dianggap berkualitas sekalipun dengan biaya mahal. Sementara orang mengatakan bahwa, dulu memenuhi kebutuhan fisik (pakaian, makanan bergizi, obat-obatan) dirasa berat, tetapi ternyata hal itu saat sekarang tidak seberat mendidiknya. Persoalan yang dihadapi saat ini oleh hampir semua lembaga pendidikan Islam adalah bagaimana sesungguhnya menemukan pola pendidikan atau pembentukan kepribadian Islami itu.

Perdebatan seringkali terjadi, tidak saja berada di seputar bagaimana menemukan pola pendidikan Islami, tetapi lebih dari itu, adalah menyangkut tentang apakah yang dimaksud dengan pribadi Islami itu sendiri. Sementara orang mengatakan bahwa berkepribadian Islami adalah kepribadian seseorang yang mampu menunjukkan ke-Islamannya secara kaffah, meliputi aqidah, muamalah dan akhlak. Sedangkan yang lain lebih menekankan pada aspek-aspek substantif yaitu menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam Islam itu sendiri, seperti misalnya kejujuran, kebenaran, kerapian, kebersihan, amanah dan seterusnya. Pemahaman yang berbeda seperti ini juga memunculkan bentuk penampilan pola pendidikan yang berbeda.


Untuk menjawab persoalan bagaimana pembentukan kepribadian itu, setidaknya tersedia dua pendekatan. Pendekatan pertama, yaitu dapat ditemukan dalam bererapa literatur psikologi. Pandangan itu mengatakan bahwa kepribadian biasanya dibentuk oleh beberapa kekuatan, yaitu antara lain oleh keturunan, kekuatan kebudayaan, kelas sosial, afiliasi kelompok, dan juga hukum keluarga. Pribadi seseorang, menurut teori ini, dibentuk oleh beberapa kekuatan itu. Sedangkan pendekatan kedua, bersifat doktrinal-trasendental, yaitu mengikuti petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Bahwa iman atau hudan sesungguhnya adalah pemberian dari Dzat Yang Maha Pemberi. Oleh karena itu, tugas-tugas mendidik seyogyanya mengikuti cara yang telah dilakukan oleh maha guru pendidikan, ialah Rasulullah Muhammad saw. Tugas rasul sebagai seorang guru adalah membacakan ayat-ayat-Nya, dan mensucikannya, dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (baca Surat al Jum'ah : 2)

Posisi guru pada alternatif jawaban pertama amat lemah dalam membentuk pribadi seseorang, termasuk pribadi Islami. Kekuatan guru hanya satu di antara beberapa kekuatan lainnya yang sama-sama memiliki pengaruh dalam membentuk kepribadian itu. Oleh karena itu, jika ternyata mengalami kegagalan adalah menjadi wajar. Sedangkan jawaban alternatif kedua, posisi guru yang lemah diperkokoh oleh kekuatan lain ialah do'a (tazkiyah). Mengikuti alternatif kedua ini, ternyata, dalam membangun pribadi seseorang tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan lahir, tetapi juga harus disempurnakan dengan hal-hal yang bersifat transendental.

Masih mengikuti ayat al Qur'an surat al Jum'ah tersebut, bahwa membangun kepribadian Islami atau anak sholeh-sholihah, tidak cukup diserahkan kepada salah seorang, guru agama, misalnya. Petunjuk al Qur'an mengatakan bahwa, bagian daripada mendidik adalah lewat membacakan ayat-ayat-Nya, sehingga hal itu pasti melibatkan seluruh guru yang ada . Tegasnya bahwa seluruh pekerjaan guru pada hakekatnya adalah secara bersama-sama membangun kepribadian Islami itu. Bahkan tidak sebatas itu saja, lingkungan sekolah, pergaulan guru-murid, maupun antar murid pada hakekatnya adalah bagian penting dalam membangun kepribadian Islami itu.

Persoalan yang biasa ditemui dan harus dipecahkan bersama adalah bagaimana membangun budaya sekolah yang kondusif hingga melahirkan pribadi peserta didik yang disebut Islami itu. Namun dalam kenyataannya, sekedar membiasakan kegiatan ritual sehari-hari, semisal sholat berjama'ah di sekolah yang dijalankan oleh seluruh guru tanpa kecuali, ternyata juga masih dirasa sulit, kecuali beberapa madrasah atau lembaga pendidikan Islam tertentu saja. Oleh karena itu, mencari pola pembentukan pribadi Islami memang tidak mudah. Namun, jika diteliti lebih mendalam lagi, ternyata awal persoalan itu bersumber dari pimpinan dan para pendidik sendiri. Mereka belum tentu sanggup menjadi uswah secara benar, dan apalagi juga harus istikomah. Wallahu a'lam

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait