IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Membaca Perilaku Manusia Sehari Hari




Jika direnungkan, diamati, dan dirasakan  secara mendalam, ternyata kehidupan manusia benar-benar aneh. Tidak sebagaimana jenis  makhluk lainnya, manusia dilengkapi dengan akal  dan hati. Tubuh manusia yang tampak sehat, jika apa yang ada pada dirinya itu tidak terawat dan terarahkan, manusia akan tampak aneh sebagaimana dimaksudkan itu. 



Usia manusia  terbatas, tetapi tidak semua menyadari akan keterbatasan usianya itu. Seseorang yang sebenarnya sudah amat tua, tetapi belum mampu menyadari bahwa usianya sudah hampir habis. Sekalipun sudah memiliki beberapa rumah, ternyata mereka masih berusaha menambah lagi jumlahnya.  Atas usahanya itu, seakan-akan, mereka tidak akan meninggalkannya. 



Manusia juga mengerti bahwa dirinya belum paham tentang banyak hal, tetapi juga tidak mau belajar. Sekalipun mereka menganggap bahwa ilmu pengetahuan adalah penting, tetapi tidak selalu mau belajar. Bahkan ketika belajar sekalipun, yang diusahakan bukan agar memperoleh ilmu, melainkan sekedar mengejar simbolnya, yaitu berupa ijazah atau sertifikatnya.  Sekalipun belum mengerti atau memperoleh pengetahuan, mereka  bangga dengan ijazah dan gelar yang dimaksudkan itu.




Ada juga orang yang sedemikian gemar memikirkan dan berusaha meningkatkan kemampuan orang lain, sementara dirinya sendiri tidak mau menambah pengetahuannya. Selain itu, orang lain disuruh   berbuat baik, sementara dirinya belum sempat menjalankannya. Tampak semakin aneh, tatkala orang lain lebih pintar, juga tidak rela. Mereka merasa dilampaui, dirinya merasa dikalahkan, direndahkan, dan dianggap kurang dibanding orang lain.



Manusia menyukai hal yang bersifat simbolik, menipu, kepura-puraan, dan bahkan juga senang tatkala orang lain merasa susah dan bahkan celaka. Seakan-akan, manusia membuat program untuk kemanusiaan, padahal  apa yang dilakukan kadang sebenarnya hanya   bersifat semu.  Mereka puas ketika seolah-olah sudah melakukan kebaikan, sekalipun dilakukan hanya dengan cara menipu, atau melakukan sesuatu hanya sebatas seolah-olah, dan atau sekan-akan itu.



Bangsa ini sedang menjalankan pekerjaan besar, mulai dari merawat persatuan, memberantas kebodohan dan ketertinggalan, meningkatkan kualitas pendidikan, mengurangi kesenjangan, menjadikan semakin berwibawa, jujur,  dan adil. Pekerjaan mendasar itu seharusnya tidak boleh dilakukan sekedar bersifat semu, dan apalagi oleh para pemimpinnya. Jika demikian itu dilakukan, maka aib itu akan tampak,  dan tidak ada lain kecuali  harus dipenjarakan. 



Akibatnya, penjara bukan lagi dihuni orang miskin yang mencuri karena kelaparan, melainkan oleh para pejabat pemerintah, politikus, pimpinan perusahaan, dan lain-lain. Mereka menggunakan otaknya tanpa menyertakan pertimbangan hatinya. Manusia diciptakan sebagai makhluk yang terbaik, tetapi ternyata tidak selalu mampu mengemban amanah. Akibatnya, terperosok  pada tempat yang serendah-rendahnya, yaitu semakin pintar dan kaya ilmu,  tetapi oleh karena lupa diri, mereka hanya sekedar menjadi isinya penjara. Wallahu a’lam



Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait