IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Maulud Nabi Menginagtakan Bagaimana Membangun Bangsa


Pada setiap Bulan Rabiul Awal, banyak umat Islam memperingati hari kelahiran Nabi Besar Muhammad saw. , dengan berbagai cara atau tradisi. Tentu kegiatan itu banyak sekali manfaatnya. Di antaranya, kita diingatkan tentang bagaimana membangun bangsa agar tujuan itu tercapai dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Muhammad saw., sebagai seorang utusan Allah dalam sejarahnya telah berhasil membangun peradaban Islam yang luar biasa. Hanya dalam waktu 10 tahun, beliau berhasil membangun masyarakat Madinah. Masyarakat Arab yang dikenal belum mengenal peradaban tinggi, hingga disebut sebagai masyarakat jahiliyah, ternyata berhasil dibalik keadaannya, menjadi masyarakat yang beradab, adil, damai, tenteram, dan sejahtera.

Kiranya bangsa Indonesia yang pada saat sekarang ini sedang berusaha bangkit, agar menjadi bangsa yang beradab, maka peringatan maulud nabi Muhammad saw., merupakan momentum yang tepat untuk melihat kembali sejarah keberhasilan itu. Masyarakat Indonesaia sekarang ini, sekalipun menghadapi banyak problem, kiranya tidak separah masyarakat yang dihadapi oleh Rasulullah ketika membangun Madinah. Bangsa Indonesia pada saat ini sudah berada pada zaman ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki tradisi dan berkeinginan maju, sehingga keadaannya tidak sesulit dalam membangun masyarakat Arab dan jahiliyah.

Beberapa hal yang dilakukan hingga berhasil dalam membangun masyarakat adalah, Nabi sehari-hari memberi contoh dalam menjalankan kehidupan yang benar. Apa yang disampaikan atau diajarkan kepada umatnya, maka itulah yang sebenarnya dilakukannya. Antara ucapan dan tindakan menyatu pada diri Nabi, sehingga utusan Tuhan itu disebut sebagai uswah hasanah. Muhammad mengajarkan al Qur'an yang diterimanya melalui Malaikat Jibril kepada umatnya. Keindahan akhlak atau perilaku nabi menggambarkan isi al Qur'an itu sendiri.


Selain itu, dalam membangun masyarakat Madinah, Nabi mempersatukan kelompok yang memiliki latar belakang yang berbeda. Kaum Muhajirin dan kaum Anshar dipersatukan oleh Nabi. Bahkan, Nabi juga membangun komunikasi dengan kelompok-kelompok lain yang ada di Madinah, seperti kaum Nasrani, Yahudi, dan lain-lain. Komunikasi dimaksud hingga melahirkan dokumen yang disebut dengan Piagam Madinah. Dokumen itu dipegangi bersama untuk membangun masyarakat yang ideal. Kata kunci untuk melahirkan masyarakiat yang damai, adil, dan sejahtera adalah adanya kesediaan membangun persatuan dan kebersamaan yang kokoh.

Hal yang sangat penting dan mendasar lainnya adalah menanamkan betapa pentingnya ilmu pengetahuan, membangun kualitas manusia, menegakkan keadilan, selalu mendekatkan pada Allah melalui berbagai kegiatan ritual, dan menanamkan konsep yang sedemikian ideal, yaitu beramal shaleh. Tradisi ilmu dikembangkan melalui masjid dan majlis-majlis ilmu. Orang yang berilmu pengetahuan lebih dihargai dibanding lainnya. Kualitas manusia ditingkatkan baik dari aspek spiritual, akhlak, dan atau perilakunya.

Rasulullah memposisikan keadilan pada tempat yang amat utama. Siapapun yang salah asalkan sudah terdapat bukti yang mencukupi, maka akan dikenai hukuman. Hukum tidak pandang bulu, kepada siapapun diperlakukan. Bahkan, Rasulullah dalam suatu riwayat pernah mengatakan bahwa : 'andaikan Fatimah binti Muhammad mencuri maka saya sendiri yang akan memotong tangannya'. Statemen ini menggambarkan bahwa siapapun bagi yang salah akan dikenai hukuman yang sama.

Begitu pula dalam kegiatan ritual, shalat misalnya, selalu dijalankan di masjid dan berjama'ah. Nabi tidak pernah shalat tidak berjama'ah dan shalat fardhu itu selalu ditunaikan di masjid. Betapa pentingnya kebersamaan harus selalu dijalankan. Kegiatan kebersamaan itu dimulai dari aktivitas ritual yang ditunaikan sehari-hari. Membangun masyarakat harus dilakukan secara bersama-sama. Kebersamaa atau berjama'ah menjadi kunci keberhasilan dalam menunaikan apapun. Terkait dengan profesionalitas, Islam menggunakan konsep 'beramal shaleh', yaitu bekerja secara benar dan tepat. Kegiatan apapun manakala dikerjakan secara benar dan tepat maka akan mendatangkan hasil maksimal.

Hal-hal demikian pentingnya itu kiranya akan tersadarkan kembali melalui peringatan Maulud Nabi. Oleh karena itu, diskusi tentang peringatan maulud nabi, semestinya bukan terletak pada boleh atau tidaknya, melainakan bagaimana agar dengan peringatan itu kecintaan kepada Nabi Muhammad sebagai panutan umat dalam menjalani kehidupan ini semakin meningkat. Di tengah-tengah krisis ketauladanan seperti sekarang ini, maka mengingat kembali riwayat hidup, pesan-pesan, dan ketauladanan Nabi Muhamad, justru merupakan keharusan dan sangat utama dilakukan. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait

Bangsa Pemarah



Akhir-akhir ini, tidak sedikit terjadi kasus konflik, bentrok, permusuhan di tengah-tengah masyara ...