IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Manajemen Perjuangan


Berjuang selalu dimaksudkan untuk meraih sesuatu, dan dilakukan dengan cara yang tidak mudah. Banyak hambatan dan atau rintangan dalam setiap perjuangan. Manakala sesuatu yang ingin diraih itu tidak harus melalui cara yang sulit dan atau tidak banyak rintangan, maka bukan disebut berjuang, tetapi cukup mengambil. Siapapun sekedar mengambil sesuatu bisa melakukannya.

Mengambil biasanya tidak sama dengan berjuang. Disebut mengambil manaka barangnya sudah tersedia. Melaksankannya juga mudah. Mengambil uang di bank misalnya, paling-paling hanya sekedar harus membawa buku tabungan, mengetahui nomor rekening, bisa mengisi struk pengambilan uang, dan membawa kartu penduduk atau identitas lainnya. Semua orang bisa melakukannya, asalkan mau dan memang punya uang di bank.

Berbeda dengan mengambil, berjuang adalah lebih sulit. Oleh karena itu tidak semua orang mau melakukannya. Orang berjuang biasanya harus dibarengi dengan kemauan berkorban dan bahkan juga harus mau menanggung resiko. Berjuang membesarkan lembaga pendidikan Islam, membangun pesantren, atau serupa itu lainnya, tentu tidak semudah mengambil barang sebagaimana dicontohkan di muka. Berjuang membangun lembaga pendidikan Islam swasta misalnya, maka yang bersangkutan harus mampu menggalang partisipasi masyarakat, mendapatkan dana, menyediakan sarana dan prasarana, ijin pendirian, dan lain-lain.

Berjuang sebagaimana contoh sederhana tersebut tentu tidak mudah dilakukan. Sekedar menggalang partisipasi misalnya, maka harus mengetahui cara-cara mendekati masyarakat, menggerakkannya, dan memerankan masing-masing orang secara tepat. Salah sedikit saja dalam memperlakukan orang, maka bisa jadi akan berpengaruh luas. Orang yang semula mau berpartisipasi, oleh karena kesalahan sederhana saja, sangat mungkin berubah, jadi menjauh.


Masih dalam contoh sederhana membangun lembaga pendidikan swasta, pekerjaan lainnya yang juga tidak mudah adalah mengumpulkan dana. Betapa banyaknya lembaga pendidikan swasta di pedesaan yang tidak mampu berkembang, oleh karena keterbatasan dana yang diperlukannya itu. Dana selalu sulit dicari, sekalipun untuk kepentingan umum, semisal pendidikan. Maka pemrakarsa berdirinya lembaga pendidikan swasta harus berjuang habis-habisan, sekalipun juga belum tentu berhasil.

Kesulitan itu sebenarnya juga dialami oleh para pimpinan lembaga pendidikan yang berstatus negeri. Para Rektor IAIN di beberapa kota yang ingin mengubah status kelembagaannya menjadi bentuk universitas, misalnya, maka juga harus mau berjuang. Usaha itu juga tidak mudah dilakukan. Mereka harus menyusul proposal, melakukan loby dengan pemerintah daerah, dan juga pejabat di beberapa kementerian di Jakarta. Usaha itu, tentu tidak gampang. Bagaimana cara meloby berpagai pihak juga tidak tersedia pedomannya. Oleh karena itu, sebagai pejuang harus pintar menyusun strategi, siasat, memanfaatkan momentum, dan bahkan kalau perlu, berani keluar dari aturan yang ada.

Berjuang yang hanya dilakukan dengan cara menunggu, atau berharap belas kasih orang lain, biasanya tidaki akan berhasil. Apalagi, zaman sekarang ini adalah masanya orang saling berkompetisi atau bahkan berebut. Maka, siapa saja yang ingin mendapatkan sesuatu yang bernilai tinggi, tetapi sehari-hari hanya sekedar menunggu dan atau berharap belas kasih orang lain, maka apa yang ditunggu atau diharapkan tidak akan datang.

Seorang perjuang harus berani bekerja keras, tidak takut resiko, pintar dalam bersiasat, menyusun strategi, memanfaatkan momentum, dan bahkan juga mahir berkomunikasi. Hal seperti inilah yang saya sebut sebagai manajemen perjuangan. Manakala sikap dimaksud itu tidak dipunyai, maka alternatifnya adalah jangan berjuang, tetapi cukup menjadi penunggu saja. Namun sayangnya, sekarang ini sudah bukan waktunya, orang berharap sukses hanya sekedar dari menunggu, melainkan sebaliknya, yaitu harus berjuang. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait