IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Kepedulian Pak Maftuh Basyuni Pada Pendidikan Islam


Pada tanggal 20 September 2016 yang lalu Pak Maftuh Basyuni, mantan Menteri Agama, berpulang menghadap Dzat Yang Maha Kuasa, wafat. Semoga beliau ditempatkan oleh Allah pada tempat terbaik dan mulia di surga-Nya. Selanjutnya, banyak pengalaman menarik yang saya rasakan ketika bertemu dengan beliau. Sementara orang mengatakan bahwa, sebagai seorang birokrat yang cukup lama, Pak Maftuh Basyuni tidak mudah diajak bicara. Beliau dipandang sebagai pejabat yang disiplin, jujur, dan berani menegakkan kebenaran, sehingga selalu membatasi dalam berkomunikasi. Sifat mulia tersebut memang benar dimiliki oleh Pak Maftuh Basyuni, tetapi menurut pengalaman saya, beliau sebenarnya sangat mudah diajak berbicara dan bahkan juga menyenangi humor yang menarik.

Selama memimpin UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang cukup lama, hingga melewati 7 masa jabatan menteri, saya selalu membangun komunikasi dengan para pejabat kementerian agama, mulai dari tingkat bawah hingga Menteri Agama. Hal yang saya rasakan aneh, setiap ada pergantian menteri, banyak orang mengintip, apakah pejabat baru itu berasal dari Muhammadiyah atau NU. Bagi mereka yang kebetulan menjadi bagian dari Muhammadiyah akan bergembira jika menteri baru dimaksud seorganisasi dengannya, dan begitu juga sebaliknya. Demikian pula, orang NU akan bergembira jika Menteri Agamanya orang NU. Hal demikian itu sudah lumprah, orang merasa gembira jika memiliki kesamaan latar belakang organisasi dengan tokoh besar, apalagi tokoh dimaksud seorang menteri.

Setiap ada pergantian menteri, sebagai Rektor UIN Malang yang sedemikian lama, saya selalu membangun sikap netral dan profesional. Bagi saya siapapun menteri baru, tidak pernah saya kaitkan dengan organisasi keagamaan semisal NU, Muhammadiyah, al Wasliyah, Tarbiyah Islamiyah atau lainnya. Kepada setiap menteri baru, saya selalu membangun komunikai sebaik-baiknya. Mungkin saja latar belakang organisasi menteri agama yang bersangkutan berpengaruh dalam mengambil kebijakan, tetapi menurut keyakinan saya, hal itu dapat dikalahkan oleh kekuatan komunikasi yang baik. Kekuatan komunikasi menurut keyakinan saya dapat mengalahkan segala-galanya tidak terkecuali ikatan primordial semacam kesamaan dalam organisasi social keagamaan.

Sebagai upaya membangun komunikasi dimaksud, setiap ada pergantian menteri, sebagai rektor perguruan tinggi Islam, saya segera datang untuk mengucapkan selamat dan memberikan informasi yang sekiranya diperlukan. Demikian pula ketika Pak Maftuh Basyuni diangkat menjadi Menteri Agama. Saya datang ke kantor beliau, mengucapkan selamat, memperkenalkan diri, dan memberikan gambaran tentang perguruan tinggi Islam, terutama tentang UIN Malang. Memang sebelumnya, saya belum pernah ketemu dengan beliau dan apalagi mengenalnya. Ketika itu saya hanya mengetahui bahwa jabatan beliau sebelum ditunjuk menjadi Menteri Agama adalah sebagai Duta Besar RI untuk Saudi Arabia, dan sebelumnya lama menjadi Kepala rumah tangga di kantor kepresidenan.

Pertama kali menghadap, setelah beberapa hari beliau diangkat sebagai menteri agama, kesan saya bahwa sedikit banyak beliau sudah mengenal UIN Malang. Dugaan saya benar, beliau telah mengetahui UIN Malang oleh karena salah satu dosen kampus yang sedang saya pimpin ini, sekalipun yang bersangkutan sudah pensiun dan bahkan sudah wafat, adalah salah seorang paman beliau, yaitu Prof. Masyfu' Zuhdi. Adanya hubungan keluarga dengan salah satu dosen UIN Malang tersebut itulah, komunikasi saya dengan beliau menjadi lancar. Bahkan ketika itu juga beliau meminta pendapat saya, yaitu kebijakan apa yang sekiranya diperlukan untuk memacu perkembangan perguruan tinggi Islam di Indonesia.


Pertanyaan tersebut saya anggap tidak terlalu serius, oleh karena saya sendiri baru mengenal beliau dan begitu juga sebaliknya. Maka, pertanyaan tersebut saya jawab dengan kalimat sederhana yang bersifat menghibur saja. Pertanyaan Pak Menteri tersebut memang mendasar, tetapi menurut hemat saya tidak akan mungkin jawaban yang saya berikan akan diingat oleh seorang yang baru saja mengenal, dan apalagi saya tahu, beliau bukan orang yang berlatar belakang perguruan tinggi. Saya menjawabnya dengan sederhana, yaitu bahwa agar perguruan tinggi agama maju, maka Pak Menteri Agama sebaiknya tidak meninggalkan tradisi yang ada. Mendengar jawaban itu, beliau menanyakan tradisi apa yang dimaksudkan itu. Saya masih menjawab dengan jawaban sederhana, yaitu bahwa tradisi itu hanya dua hal, yaitu ketika saya datang ke kantor Pak Menteri, saya diijinkan ikut numpang makan siang, dan yang kedua, selama ini menteri agama yang baru dilantik selalu berkunjung ke UIN Malang.

Mungkin saja oleh karena mengetahui bahwa saya mengenal paman beliau, yaitu Prof. Masyfu' Zuhdi, jawaban saya tersebut tidak menjadikan beliau marah, malah justru sebaliknya, beliau tertawa. Soal numpang makan di kantor menteri, beliau mengijinkan. Demikian pula terkait kunjungan ke UIN Malang, beliau menyanggupi. Akan tetapi pada waktu itu, beliau menanyakan apa yang kiranya penting atas kunjungan itu. Segera saya jawab, bahwa selama ini perguruan tinggi Islam yang dipandang amat dinamis adalah UIN Malang. STAIN Malang adalah satu-satunya perguruan tinggi Islam yang berubah menjadi UIN, dan dipandang oleh banyak orang cukup berhasil. Selain itu, saya menyampaikan kepada beliau bahwa dalam kunjungan itu, Pak Menteri Agama akan sekaligus dapat menyaksikan Madrasah berbagai jenjang, - MIN, M.Ts N, dan MAN, yang juga unggul, yaitu Madrasah Terpadu di Malang.

Tidak lama kemudian, kesanggupan berkjunjung ke Malang dipenuhi. Bersama Ibu Maftuh Basyuni, Pak Menteri Agama berkunjung ke UIN Malang dan sekaligus juga ke Madrasah Terpadu. Ketika sampai di UIN Malang, beliau segera saya ajak berkeliling kampus, termasuk mengunjungi ma'had yang berada di dalam kampus itu. Ketika berkunjungan ke ma'had, beliau menyapa para santri. Pada waktu itu, tanpa direkayasa, sekalipun Menteri Agama menyapa dengan Bahasa Indonesia, mahasiswa atau santri Ma'had menjawab dengan menggunakan Bahasa Arab. Oleh karena Pak Maftuh Basyuni lama berada di Saudi Arabia, maka jawaban mahasiswa segera direspon dengan menggunakan Bahasa Arab pula.

Ketika meninggalkan lokasi Ma'had, saya merasakan ada sesuatu yang amat menarik, yaitu tentang komentar Pak Menteri Agama. Beliau mengatakan bahwa : ' ternyata perguruan tinggi Islam di Indonesia sudah sedemikian bagus. Saya tidak menyangka perguruan tinggi Islam sudah berkembang seperti ini. Melihat kenyataan seperti ini, saya kepingin juga menjadi rektor. Ternyata dengan adanya ma'had, mahasiswa yang mengambil jurusan umum sekalipun bisa berbahasa Arab dengan baik. Kampus ini saya rasakan menjadi sedemikian indah dan sekaligus membanggakan'. Pada waktu itu, beliau juga menanyakan berapa anggarannya dulu yang diperlukan untuk membangun ma'had ini. Pertanyaan itu saya jawab, : 'Mohon maaf, saya sudah lupa oleh karena anggaran itu bukan berasal dari uang negara, atau APBN, melainkan merupakan sumbangan dari berbagai sumber yang berhasil saya peroleh'.

Mendengar jawaban tersebut beliau tampak semakin laget, bahkan juga saya tambahkan bahwa program pengajaran Bahasa Arab yang dilaksanakan lima jam pada setiap hari bagi seluruh mahasiswa hingga saat itu juga tidak disediakan anggaran dari Kemneterian Agama. Alasannya, kegiatan tersebut dipandang sebagai program khusus, dan atau bukan sebagai program nasional. Melihat secara langsung dan mendengarkan penjelasan tersebut, beliau selaku Menteri Agama mengaku optimis bahwa perguruan tinggi Islam sebenarnya dapat dikembangkan lebih jauh. Melihat kenyataan di UIN Malang, Pak Menteri Agama mengaku bertekad akan serius mengembangkan pendidikan Islam, selain membenahi pengelolaan haji, dan manajemen kementerian agama secara keseluruhan agar tidak dikesankan, di kementerian agama banyak penyimpangan, termasuk korupsi. (bersambung)

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait