IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Keharusan Bersikap Kritis Terhadap Kualitas Data Lapangan


Ada sementara orang, maunya agar dipercaya, mereka berusaha memamerkan data yang diperoleh dari lapangan. Mereka mengira, orang segera mempercayainya hanya karena data yang dibawa-bawa itu. Padahal tidak semua data bisa dipercaya. Terhadap data, orang masih boleh mempertanyakan, apakah data itu valid atau tidak, bisa dipercaya atau reliabel atau tidak. Jawabannya, tergantung pada siapa yang mengambil data itu, dari mana data itu diperoleh, dan bagaimana cara memperolehnya. Data juga harus diuji atas kebenarannya.

Data dianggap tidak bisa dipercaya oleh karena kualitas atau kompetensi orang yang mengumpulkan atau membawa data itu. Orang-orang yang tidak kompeten, tidak berpengalaman, suka berbohong, dikenal tidak jujur, diperoleh atas dasar kepentingan tertentu, maka data yang berhasil dikumpulkan tidak akan dipercayai. Oleh karena itu bisa saja seseorang mengaku-aku memiliki data, tetapi orang lain berhak melihat dulu kualitasnya, siapa yang mengambilnya dari lapangan. Manakala orang yang mengambil data itu bukan kompetensinya, maka bisa saja data dimaksud juga tidak bisa dipercaya. Kualitas data tergantung dari siapa yang mengumpulkannya.

Selain itu, kualitas data juga sangat tergantung dari cara mengambilnya. Dalam ilmu sosial, pengambilan data bisa lewat observasi, wawancara atau interview, atau mengambil dari dokumen yang tersedia, dan atau masih ada lainnya. Pemilihan teknik pengambilan data itu juga tergantung jenis datanya. Data tentang persepsi masyarakat terhadap sesuatu peristiwa tertentu bisa dilakukan dengan menggunakan interview atau wawancara. Akan tetapi data tentang harga dari penjualan barang yang transaksinya sudah dilakukan dalam waktu yang cukup lama, maka tidak akan begitu saja bisa dipercaya manakala diperoleh lewat interview. Data sejenis itu akan dianggap sakheh atau benar jika diperoleh dari dokumen yang masih ada. Kuitansi pembayaran akan lebih dipercaya dari sekedar kata-kata, informasi, atau cerita orang.


Kualitas data juga sangat tergantung dari siapa sumbernya. Orang yang tidak mengetahui tentang suatu persoalan, atau mengetahui namun kejadian itu sudah sedemikian lama sehingga mungkin orang sudah lupa, atau sumber data itu suka bohong, bersikap subyektif, dan lain-lain sebab, maka informasi atau data yang diberikan bisa saja diragukan kebenarannya. Bahkan orang yang segera percaya terhadap omongan atau keterangan orang yang tidak jelas, tanpa selektif, akan keliru. Sebab, data yang diberikan bisa menyesatkan. Oleh karena itu, terhadap data itu sendiri harus selektif dan mengambil atau mendapatkannya harus penuh kehati-hatian. Sebab bisa jadi, atas dasar data yang tidak bisa dipercaya, orang lain bisa menjadi celaka. Orang tidak korupsi dicari-cari datanya agar pantas disebut sebagai koruptor, misalnya.

Untuk mengurangi kekhawatiran terhadap validitas dan reabilitas data, maka biasanya orang melakukan trianggulasi, ialah menguji data itu dengan berbagai cara. Misalnya menambah jumlah orang yang diinterview atau diwawancara, menambah waktu pengambilan data, memperbanyak jumlah data yang diperlukan, mengumpulkan data dari berbagai macam sumber dan teknik yang bisa ditempuh, dan atau pengujian lainnya. Semua itu dilakukan agar data yang diperoleh dari lapangan benar-benar valid dan reliabel. Sebab pada kenyataannya, tidak semua orang segera mempercayai data yang tersedia. Dan, sikap seperti itu boleh-boleh saja. Orang tidak harus segera percaya pada data yang tersedia, kecuali sudah diuji terlebih dahulu.

Saya sengaja membuat tulisan sederhana ini untuk sekedar mengingatkan, bahwa data tidak selalu bisa disebut valid dan bisa dipercaya, sekalipun diperoleh dari lapangan. Data itu masih tergantung pada siapa yang mengumpulkannya, bagaimana cara mengumpulkan, keseuaian antara jenis data dan cara mengumpulkannya, dan lain-lain. Orang juga boleh-boleh saja percaya atau tidak terhadap data yang dibawa oleh seseorang. Orang yang kritis tentu tidak segera mempercayai data yang ada. Sebab, bisa jadi, atau sangat mungkin, data yang dimiliki oleh seseorang tidak selalu bisa dijamin kebenarannya.

Saya sebagai orang yang lama belajar penelitian dan bahkan juga terbiasa dengan kegiatan penelitian, tidak sulit menilai apakah data itu bisa dipercaya atau tidak. Boleh-boleh saja, seseorang mengatakan bahwa dirinya memiliki data yang cukup banyak, tetapi saya juga berhak untuk menilainya. Saya kira hal itu juga dialami oleh orang-orang yang memiliki pengalaman dan terbiasa berpikir ilmiah. Para dosen, peneliti, dan orang-orang yang terbiasa dalam kegiatan ilmiah tidak mudah percaya tatkala disuguhi data yang diperoleh oleh orang-orang yang tidak berkompeten. Oleh karena itulah, maka siapapun, tidak terkecuali mahasiswa, masih harus banyak belajar lagi. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait