Ojo ketungkul marang kalungguhan
Kadonyan lan kemareman



Loading ...

IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Kegiatan Membaca Al Qur'an




Kegiatan membaca sedemikian penting dalam al Qur'an. Sampai-sampai, ayat yang pertama kali diturunkan, dalam sejarah turunnya al Qur'an, adalah perintah membaca. Lewat membaca orang akan menjadi tahu, mengerti dan bahkan paham tentang sesuatu yang dibacanya. Pengertian membaca ini, tentu tidak saja dalam pengertian terbatas, membaca tulisan yang sudah ada, misalnya membaca tulisan dalam buku atau sejenisnya. Membaca bisa dalam pengertian luas, semisal membaca fenomena alam atau sosial yang terbentang luas di mana dan kapan saja.

Allah dalam al Qur'an memerintahkan membaca atas nama-Nya terhadap apa saja yang telah diciptakan. Perintah membaca, segera diikuti oleh pengenalan terhadap sifat Allah yang mulia, yaitu Maha Pencipta. Dua hal ini, kiranya dapat membawa alam pikiran kita pada pengertian bahwa betapa dua hal itu menjadi sangat penting dalam kehidupan ini, yaitu membaca dan mengenal ciptaan sekaligus siapa Pencipta itu sensungguhnya.


Merenungkan terhadap isi ayat tersebut, ternyata tampak dengan jelas, bahwa siapapun yang melakukan lebih banyak kegiatan membaca, maka akan memperoleh keunggulan dalam kehidupan ini. Bangsa-bangsa barat, yang mengutamakan kegiatan membaca terhadap ciptaan Allah, ternyata lebih dulu menguasai ilmu pengetahuan. Selanjutnya, mereka mengembangkan dan mengimplementasikan dalam bentuk teknologi. Ditemukannya berbagai fasilitas kehidupan, alat-alat transportasi dan informasi yang sedemikian canggih, misalnya adalah merupakan hasil dari kegiatan membaca atau riset ini. Teknologi pesawat udara, misalnya yang semakin tahun menjadi semakin canggih, adalah juga merupakan contoh hasil dari kegiatan membaca itu. Mereka melakukan kegiatan itu, secara terus menerus tanpa henti. Dengan begitu selanjutnya, mereka juga selalu menyempurnakannya, sehingga selalu berhasil dapat menyesuaikan dengan tuntutan kebutuhan dan perkembangan zaman.

Sebaliknya, bangsa-bangsa yang tidak memperhatikan kegiatan membaca, maka akibatnya mereka selalu tertinggal di belakang. Mereka tidak pernah berada di depan, memimpin perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan tidak sedikit mereka yang tertinggal. Ada istilah 'gaptek', kependekan dari gagap teknologi. Artinya, mereka selalu ketinggalan zaman. Mereka tertinggal oleh orang lain, karena terlambat dalam mengikuti perkembangan. Aneh, sebatas mengikut saja tertinggal, apalagi mencipta. Ketertinggalan itu sesungguhnya sebagai akibat lemahnya tradisi atau budaya membaca.

Negara-negara maju biasanya menyediakan anggaran yang cukup bagi lembaga penelitian dan pengembangan. Mereka membangun pusat-pusat penelitian dan teknologi sedemikian canggih. Demikian pula perguruan tingginya, disediakan pendanaan yang cukup. Kebijakan itu diambil agar lembaga itu bisa melakukan peran-peran penelitian, hingga dihasilkan temuan-temuan baru. Sedemikian penting kegiatan riset ini, sehingga tidak jarang untuk melihat kemajuan yang diraih oleh suatu bangsa, maka salah satunya, diukur dari berapa besar anggaran yang disediakan untuk keperluan penelitian dan pengembangan ini.

Indonesia sebagai negeri yang berpenduduk muslim terbesar di dunia, belum terlalu peduli pada riset dan pengembangan ini. Padahal, seperti diungkapkan di awal tulisan ini bahwa ayat al Qur'an yang pertama kali diturunkan adalah perintah membaca yang diikuti oleh pengenalan terhadap salah satu sifat Allah yang mulia ialah Yang Maha Pencipta. Andaikan umat Islam, berhasil menangkap pesan itu, membaca atau riset, dan kemudian segera mengembangkannya, apalagi selalu membarengi kegiatannyaitu dengan niat, motivasi dan bahkan kegiatannya itu selalu mengatas-nama Tuhan Yang Maha Pencipta, maka hasilnya tidak akan disalah-gunakan, hingga justru berakibat merusak kehidupan ini. Umat Islam, bukannya seperti saat ini, selalu tertinggal karena sesungguhnya, satu di antaranya, lemah dalam tradisi membaca atau riset ini. Umat Islam, oleh para pimpinannya seringkali masih diajak untuk berbeda dan berpolemik terhadap hal yang sederhana, yang seungguhnya kurang produktif, tetapi sangat menyita energi, misalnya dalam menentukan jatuhnya hari raya, jumlah roka'at dalam sholat tarweh dan lain-lain. Sudah waktunya, al Qur'an dilihat secara lebih komprehensif agar pesan-pesannya ditangkap secara luas dan mendalam, hingga berhasil dijadikan bekal untuk meraih keberhasilan, menjadi ummat terbaik di muka bumi ini. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Ternak Sapi Donggala