IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Kaya Tawuran


Rasanya memang menyedihkan, pada akhir-akhir ini konflik, permusuhan, dan bahkan tawuran hingga mengakibatkan jatuhnya korban sampai meninggal. Kejadian yang sagat tidak menyenagkan dan bahkan memalukan itu, terjadi di berbagai kalangan. Tawuran tidak saja terjadi di kalangan para siswa, tetapi juga di kalangan mahasiswa, penduduk antar kampung, dan bahkan antara kelompok masyarakat tertentu dan aparat keamanan.

Dalam kadar tertentu, konflik juga terjadi di berbagai kalangan lainnya. Terakhir ini, konflik antara kepolisian dan KPK. Kejadian itu hampir saja meluas, oleh karena KPK mendapatkan dukungan dari masyarakat. Mereka menganggap bahwa, institusi yang dianggap strategis untuk melawat korupsi ini ditengarai ada pihak-pihak tertentu yang ingin melemahkan. Tentu masyarakat tidak ingin hal itu benar-benar terjadi.

Mungkin saja konflik itu sebenarnya juga masih terjadi di berbagai kalangan lainnya. Manakala hal itu betul-betul terjadi, maka sebenarnya bangsa ini dalam keadaan yang amat memprihatinkan. Apa artinya pertumbuhan tingkat ekonomi, manakala kehidupan rakyatnya diliputi oleh suasana seperti digambarkan itu. Kecukupan ekonomi memang penting. Akan tetapi, peningkatan ekonomi bukan sebuah tujuan. Ekonomi adalah sarana untuk meraih kehidupan yang lebih sejahtera, rukun, dan damai.


Kita lihat saja, tatkala terjadi konflik, maka jangankan harta kekayaan yang rusak, bahkan nyawa pun akan menjadi korban. Harta menjadi tidak ada gunanya ketika masyarakatnya tidak rukun. Rumah, harta kekayaan, dan bangunan lainnya dibakar sebagai bentuk pelampiasan kemarahannya. Seolah-olah harta itu tidak ada gunanya. Padahal, untuk mendapatkannya diperlukan waktu, tenaga, dan cara-cara yang tidak sederhana.

Akibat tawuran itu, semuanya seperti tidak ada nilainya. Oleh karena itu, mencegah konflik, permusuhan dan bahkan tawuran mestinya justru lebih diutamakan dari sekedar usaha mengumpulkan harta. Harkat dan martabat manusia harus ditempatkan pada posisi yang paling tinggi. Mestinya tidak boleh terjadi, hanya sekedar mengamankan harta kekayaan harus mengorbankan orang, siapun personnya. Manusia tidak boleh dikorbankan hanya untuk menyelamatkan harta kekayaan.

Suasana yang menggambarkan adanya saling menuduh, mencurigai, menjadikan target dan bahkan tawuran harus segera dihentikan. Sebaliknya, suasana saling mengenal, menghargai dan bahkan mencintai di antara sesama harus ditumbuh-kembangkan. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang religious hingga mampu menjunjung nilai-nilai luhur. Bangsa beradab sebagaimana yang dicita-citakan bukan bangsa yang penuh dengan konflik, suka bertengkar, dan bahkan bermusuhan hanya untuk memperebutkan harta kekayaan. Merenungkan kejadian akhir-akhir ini, saya segera teringat nasehat orang tua dulu, agar jangan sampai bertengkar hanya karena berebut harta.

Menurut pandangan orang tua saya dulu, betapa buruk orang-orang yang terlibat dalam pertengkaran. Beliau selalu mengingatkan bahwa orang yang bertengkar atau tawuran hanya untuk memperebutkan uang atau harta kekayaan, maka martabatnya akan sama dengan barang yang diperebutkan itu, tetapi setelah barang itu menjadi kotoran. Baik pihak yang menang dan yang kalah, -menurut nasehat orang tua saya, dianggap sama, yaitu bagaikan kotoran itu saja. Oleh karena itu, bangsa ini harus dijauhkan dari kegiatan yang memalukan itu, agar tidak disebut sebagai bangsa yang kaya tawuran. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait