IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Islam Dan Pendidikan Karakter


Seringkali terdengar protes atau setidaknya rasa kesal dari kalangan masyarakat, bahwa mengapa orang yang sehari-hari menunaikan ibadah shalat, zakat, puasa, dan bahkan pernah menunaikan ibadah haji, tetapi perilakunya belum menggambarkan makna dari kegiatan ritual tersebut. Lantas disimpulkan bahwa, ibadah ritual tidak selalu memberi dampak pada perilaku terpuji sehari-hari. Selain itu, seringkali terdengar ungkapan pula bahwa pada setiap tahun jama'ah haji meningkat, akan tetapi kasus-kasus korupsi tidak pernah surut. Bahkan, banyak pejabat yang berhaji dan umrah berkali-kali, tetapi perilaku korupnya tidak bisa berhenti.

Gambaran sebagaimana dikemukakan itu menunjukkan bahwa seolah-olah antara kegiatan ritual terpisah dari kegiatan lain sehari-hari yang lebih luas. Pertanyaannya adalah, adakah yang salah dari pemahaman Islam selama ini. Sudah banyak orang mengenalnya, bahwa Islam selalu mengajarkan tentang kejujuran, amal shaleh, menghargai sesama, disiplin waktu dan juga harus benar dalam mendapatkan rizki. Seorang Islam tidak diperkenankan mengambil harta milik orang lain tanpa hak. Untuk mendapatkan harta, seorang muslim harus selektif, yaitu yang halal lagi baik dan membawa berkah.

Sebenarnya misi rasulullah yang utama adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Maka artinya, seorang mulim dalam melakukan apa saja harus didasari oleh akhlak mulia itu. Dalam berekonomi, politik, mengembangkan pendididikan, hukum, bermasyarakat dan lain-lain harus didasarkan pada akhlak yang luhur. Selalu dibayangkan bahwa, tidak akan mungkin seorang muslim melakukan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinannya itu.

Namun sementara ini yang seringkali terjadi, bahwa masih terdapat pemisahan yang sedemikian tajam antara persoalan agama dan persoalan kehidupan lain pada umumnya. Agama dianggap sebagai variabel tersendiri, terpisah dari kegiatan kehidupan pada umumnya. Maka yang lahir adalah kehidupan pribadi yang tidak utuh. Seolah-olah antara ke pasar sebagai upaya mencari rizki dianggap berbeda dari ketika ke masjid untuk shalat berjama'ah. Ke masjid dianggap mencari bekal ke akherat, sementara ke pasar dianggap untuk mendapatkan rizki untuk mencukupi kegiatan di dunia.

Cara berpikir dikotomis seperti itulah kira-kira yang menjadikan Islam tidak dipandang sebagai ajaran yang utuh dan komprehensif hingga melahirkan perilaku yang terbelah itu. Maka akibatnya, antara kegiatan ritual dan kegiatan sosial menjadi tidak menyatu. Akibatnya kemudian muncul istilah shaleh ritual, shaleh sosial dan shaleh intelektual. Perbedaan-perbedaan itu pula yang seolah-olah ajaran Islam bisa dipilah-pilah seperti itu.

Lewat renungan yang lama dan mendalam, saya mendapatkan rumusan bahwa Islam sedikitnya membawa lima misi besar untuk mengantarkan ummat manusia agar menjadi selamat dan sekaligus bertbahagia, baik di dunia maupun di akherat. Saya memandang bahwa Islam bukan sebatas agama, melainkan juga peradaban. Islam sebenarnya sebuah ajaran yang memiliki kekuatan pengubah dan sekaligus memberikan petunjuk dan arah, agar manusia dalam hidupnya mendapatkan derajat mulia. Orang yang demikian itu adalah memiliki karakter yang unggul. Dengan demikian, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad bahwa, Islam datang di muka bumi adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia atau karakter yang unggul.

Adapun kelima misi besar yang dibawa oleh Islam itu adalah sebagai berikut. Pertama, Islam menjadikan ummatnya kaya ilmu. Ilmu yang dimaksudkan di sini lingkupnya sangat luas, yaitu bersumber pada ayat-ayat qawliyah dan sekaligus ayat-ayat kawniyah. Islam menganjurkan ummatnya untuk mempercayai yang ghaib, tetapi juga harus memikirkan ciptaan Allah baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi. Mestinya sebagai implementasi dari konsep itu, kaum muslimin dituntut mengkaji ilmu fisika, kimia, biologi, matematika, psikologi, sosiologi, sejarah dan lain-lain. Dalam mempelajari ilmu ilmu dimaksud, sebagai pembeda dari kaum lainnya, harus mengawali dengan menyebut nama Allah, yaitu bismirabbika. Selain itu, kegiatan tersebut harus sampai pada kesadaran yang mendalam tentang keagungan asma Allah. Disebutkan dalam al Qur'an iqra' warabbuka al-akram. Artinya kegiatan itu hingga berhasil membangun kesadaran tentang keharusan memuliakan Allah. Dengan demikian mestinya, ummat Islam kaya ilmu pengetahuan.

Kedua, Islam menjadikan ummatnya meraih prestasi unggul. Sebagai makhluk yang berprestasi unggul, setidak-tidaknya memiliki empat ciri, yaitu (1) berhasil mengenal dirinya sebagai pintu mengenal tuhannya, (2) bisa dipercaya sebagaimana dicontohkan oleh Muhammad sebagai anutannya adalah seorang yang dikaruniai gelar al amien, (3) bersedia untuk mensucikan dirinya, baik menyangkut pikirannya, hatinya dan raganya. Seorang muslim tidak selayaknya mengambil harta atau mengkonsumsi makanan yang tidak halal, dan (4) seorang muslim di manapun berada selalu memberi manfaat bagi orang lain. Itulah manusia unggul yang diajarkan oleh Islam.


Ketiga, Islam membangun tatanan sosial yang adil di tengah-tengah masyarakat manapun. Keadilan dalam Islam dianggap sebagai sesuatu yang harus diwujudkan. Terdapat banyak sekali ayat-ayat al Qur'an yang memerintahkan ummatnya agar berbuat adil. Bahwa sebelum nabi Muhammad diutus sebagai rasul, masyarakat Arab terdiri atas kabilah atau suku-suku yang beraneka ragam. Antar suku saling berebut sumber-sumber ekonomi, pengaruh atau kekuasaan. Mereka yang kuat akan memenangkan perebutan itu, hingga menguasai sumber-sumber kebutuhan hidup.

Dalam perebutan itu, mereka yang kalah, yaitu rakyat biasa bukannya ditolong melainkan justru ditindas dan bahkan dijadikan budak. Perbudakan sebagai sumber ketidak adilan ketika itu, berkembang luar biasa. Orang disamakan dengan binatang, yaitu dijual belikan di pasar-pasar. Harkat dan martabat manusia menjadi tidak ada harganya, sebagai akibat nafsu berkuasa dan menguasai sumber-sumber ekonomi itu. Dalam kondisi seperti itu, Nabi Muhammad datang untuk membangun tatanan sosial yang adil dan bermartabat itu.

Keempat, Islam memberikan tuntunan tentang bagaimana kegiatan ritual seharunya dilakukan oleh setiap muslim. Kegiatan ritual yang dimaksudkan itu, seperti berdzikir, shalat, puasa, haji dan lain-lain-lain. Kegiatan itu sangat penting untuk membangun kekuatan spiritual bagi mereka yang menjalankannya. Melalui kegiatan ritual itu, maka terbangun komunikasi antara manusia dengan Dzat Yang Maha Pencipta. Dengan kegiatan ritual itu pula maka terbangun sikap mulia seperti rendah hati, sabar, ikhlas, amanah, peduli sesama, saling mencintai dan lain-lain.

Kegiatan ritual dalam Islam sedemikian penting, sehingga untuk mendapatkan kesempurnaannya menjadikan banyak orang berdebat tentang bagaimana kegiatan ritual itu dijalankan secara tepat. Maksudnya adalah baik, agar kegiatan yang dilakukan persis sama dengan yang dilakukan oleh Rasulullah. Namun keinginan yang berlebihan itu, menjadikan banyak pihak rela berdebat dan bahkan bertikai sehingga mengakibatkan ummat berpecah belah menjadi berbagai aliran atau kelompkim untuk mencari cara yang paling tepat dalam menjalankan kegiatan ritual itu. Berbagai aliran dan organisasi sosial keagamaan yang ada di mana-mana adalah selalu terkait dengan perbedaan-perbedaan dalam menjalankan kegiatan ritual.

Padahal sebenarnya, perbedaan dalam kegiatan ritual sudah ada atau telah terjadi sejak zaman Rasulullah. Perbedaan itu ternyata juga terjadi dalam berbagai kasus. Misalnya, dalam pelaksanaan shalat. Sementara sahabat merasa cukup, shalat dengan tayammum tatkala tidak ada air. Namun sahabat lain berpandangan bahwa harus disempurnakan lagi tatkala ditemukan air. Perbedaan juga terkait dengan pelaksanaan ibadah haji, dan lain-lain. Setiap menghadapi persoalan yang terkait dengan perbedaan pelaksanaan ritual itu, nabi selalu bersikap arif, yaitu mengedepankan persatuan. Jika ada perbedaan, Nabi membenarkan apa yang telah dilakukan oleh para sahabatnya. Dengan cara itu maka, persatuan dan kesatuan di antara para sahabat selalu berhasil dipelihara.

Kelima, adalah konsep amal shaleh. Amal secara sederhana bisa diartikan bekerja, sedangkan shaleh artinya adalah lurus, benar, tepat atau sesuai. Maka amal shaleh sebenarnya bisa diartikan, bekerja secara profesional. Dengan beramal shaleh maka artinya adalah bahwa setiap perbuatan kaum muslimin harus dilakukan secara baik, sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki. Suatu pekerjaan yang ditangani secara profesional akan mendatangkan hasil maksimal.

Umpama misi Islam itu berhasil diimplementasikan oleh ummatnya, sehingga ummat Islam menjadi kaya ilmu, meraih pribadi unggul, berada pada tatanan sosial yang adil, menjalankan kegiatan ritual secara sempurna untuk membangun spiritual dan pekerjaan selalu ditunaikan secara profesional, maka ummat Islam akan meraih kemajuan yang luar biasa. Namun sayangnya, dari kelima misi Islam tersebut, oleh sementara kaum muslimin, baru ditangkap pada aspek ritualnya. Sedangkan aspek lainnya belum dipandang sepenuhnya sebagai bagian dari Islam. Oleh karena itu, menjadi wajar manakala selama ini, ummat Islam masih belum meraih kemajuan sebagaimana yang selama ini diharapkan. Sebab, Islam baru dipandang sebagai kegiatan ritual belaka.

Oleh karena itu, agar Islam menjadi kekuatan untuk membangun karakter bangsa secara utuh, maka ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad harus dipahami secara utuh pula. Islam harus dipahami sebagai ajaran yang setidaknya, membawa kelima misi besar sebagaimana dikemukakan di muka. Islam semestinya tidak saja dipahami sebagai agama, melainkan juga sebagai konsep tentang peradaban unggul. Konsep tersebut harus diperkenalkan melalui pendidikan secara terus menerus, agar ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., benar-benar menjadi kekuatan untuk membangun karakter bangsa secara sempurna, dan tidak lagi dipahami hanya sebagiannya saja, sebagaimana yang kebanyakan terjadi selama ini. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait

Miskin Akhlak



Setiap waktu kita mendengar orang merasa sedih karena kemiskinan. Kemiskinan dianggap sebagai ses ...