Suro diro joyo jayaningrat
Lebur dening pangastuti



Loading ...

IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Harapan Terhadap Hati Nurani


Kebetulan tanpa sengaja, saya ketemu dengan seseorang yang sedang terkena kasus di pengadilan. Orang dimaksud sekalipun sudah menjadi tersangka, tetapi ia tidak merasa bersalah. Ia menjadi tersangka oleh karena kesalahan prosedur administrasi dan juga perbuatan orang lain yang tidak mungkin diketahui sejak awal. Atas kejadian yang menimpa dirinya itu, ia pasrah, dengan mengatakan, semoga hati nurani masih bisa berbicara.

Dari mendengar keluhan itu, saya membayangkan bahwa ternyata orang tatkala menghadapi problem yang terkait dengan keadilan, kebenaran, dan kejujuran, maka harapannya bukan pada bunyi aturan, undang-undang, dan logika hukum, melainkan pada hati nurani. Suara hati nurani lebih dianggap sebagai sesuatu yang terbaik, bersih, benar, adil, dan jujur. Pertanyaannya adalah, apakah setiap hati nurani seseorang selalu bersih sebagaimana yang diharapkan itu. Jawabnya, tentu tidak.

Hal yang perlu direnungkan secara mendalam, bahwa dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, tidak semua orang menggunakan hati nurani. Sudah menjadi hal biasa, tatkala orang menyelesaikan masalah dan apalagi berambisi untuk menang dan lebih beruntung, mereka menggunakan undang-undang, peraturan, dan akal. Padahal siapapun tahu, bahwa piranti itu begitu mudah dibolak balik hanya sebatas untuk memperoleh kemenangan dan keuntungan belaka itu.


Tatkala kebenaran hanya mendasarkan pada peraturan, undang-undang, dan kekuatan akal, maka belum tentu kebenaran dan keadilan yang diperoleh bersifat obyektif dan apa adanya. Bisa saja keadilan yang dihasilkan itu hanya bersifat normatif. Bahwa bisa jadi, secara undang-undang, peraturan, dan akal sesuatu dianggap benar, tetapi kebenarannya itu hanya bersifat formal saja. Berbeda dengan ketika kebenaran itu juga mendasarkan pada hati nurani. Hasilnya akan lebih obyektif dan bersifat manusiawi. Sebaliknya, keadilan dan kebenaran yang didapatkan dari peraturan, undang-undang, dan atau kekutan akal belaka, maka hasilnya tidak jarang masih jauh dari harapan orang.

Atas dasar kenyataan itulah maka banyak orang berharap agar hati nurani para penguasa, pemimpin, dan apalagi para penegak hukum senantiasa hidup dan sehat. Siapapun yang hati nuraninya masih sehat, maka yang bersangkutan akan mampu melihat sesuatu secara jernih, jujur, adil, dan konprehesif. Itulah sebabnya, banyak orang lebih mempercayai suara hati nurani dibanding suara lainnya.

Sementara itu untuk menghidupkan hati nurani bukan perkara mudah. Banyak sekali orang yang hati nuraninya sakit dan bahkan mati. Seseorang yang hatinya sakit maka perilakunya akan selalu membuat orang lain terganggu, dan apalagi bagi orang yang hatinya telah mati. Bagi mereka itu, sesuatu yang baik malah dinilai jelek dan sebaliknya, yang jelek dinilai baik. Agar hati seseorang tetap hidup, maka yang bersangkutan harus bisa memeliharanya, misalnya harus selalu selektif dalam mengkunsumsi apa saja, yaitu memilih yang halal dan baik. Selain itu, harus selalu mendekatkan diri pada Allah, pada sesama manusia, dan selalu berpegang teguh pada ajaran-Nya. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Ternak Sapi Donggala