IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Hai'ah Tahfidz Al Qur'an Adalah Nama Lembaga Baru Di Uin Maliki Malang




Hai'ah Tahfidz al-Qur'an adalah nama lembaga baru di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Lembaga ini mewadahi para mahasiswa, dosen, dan karyawan yang memiliki kesibukan tambahan khusus yaitu menghafal al-Qur'an. Selama ini ternyata peminat penghafal al-Qur'an di kampus UIN Maliki semakin lama semakin banyak jumlahnya. Atas dasar kenyataan itu, maka perlu dibentuk lembaga yang khusus memberikan pelayanan dan juga pengembangannya.

Sementara orang mengangggap bahwa para mahasiswa yang menghafal al-Qur'an prestasi akademiknya tidak akan unggul, karena waktu dan energinya terkuras untuk kegiatan menghafal kitab suci itu. Anggapan ini ternyata sama sekali tidak benar. Beberapa mahasiswa yang meraih prestasi unggul di UIN Maliki Malang ternyata justru dari mereka yang menghafal al-Qur'an.

Sejak diresmikan menjadi universitas, dari sebelumnya berupa sekolah tinggi,yaitu pada tahun 2004, UIN Maulana Malik Ibrahim yang kemudian disingkat UIN Maliki Malang sudah tiga kali menyelenggarakan wisuda sarjana. Setiap kali wisuda sarjana yang diikuti sekitar 600 an orang, ternyata yang meraih Indek Prestasi tertinggi adalah wisudawan penghafal al Qur'an.


Para penghafal al-Qur'an tersebut tidak selalu mahasiswa yang berasal dari program studi agama, semisal Fakultas Tarbiyah atau Fakultas Syari'ah, melainkan juga berasal dari Fakultas Sains dan teknologi, Psikologi, Humaniora dan lainnya. Memang struktur kurikulum yang dikembangkan oleh UIN Maliki Malang tidak memisahkan antara mereka yang hanya khusus mengkaji al Qur'an dan hadits dengan mereka yang mengkaji sains. Semua mahasiswa dari jurusan apapun diwajibkan belajar Bahasa Arab, selain Bahasa Inggris, dan demikian pula mendalami al-Qur'an

Terkait dengan kegiatan menghafal al Qur'an ini, dalam skala yang jumlahnya banyak, saya pernah melihat di Teheran. Yang saya anggap menarik di sana ialah bahwa para penghafal al Qur'an di negeri itu, kebanyakan memulainya sejak usia diri. Mulai umur empat tahun, anak-anak sudah diperkenalkan dengan hafalan al Qur'an. Sehingga wajar jika pada usia 8 atau 9 tahun, mereka sudah hafal al-Qur'an. Selanjutnya, pada usia remaja, para penghafal al-Qur'an ini belajar sains dan teknoplogi seperti fisika, kimia, matematika, biologi maupun bidang-bidang ilmu lainnya.

Di Indonesia, sebenarnya tradisi menghafal al Qur'an juga telah banyak dilakukan. Hanya saja, kegiatan itu tidak terpublikasikan secara luas, sehingga tidak dikenal banyak orang. Kegiatan itu biasanya dilakukan di pondok pesantren yang dibimbing oleh para kyai. Saya sendiri, baru beberapa tahun terakhir ini tahu, bahwa di Malang Selatan, terdapat pesantren yang khusus mengajar anak-anak sejak usia dini menghafal kitab suci al Qur'an. Dengan kegiatan itu berhasil menjadikan anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) sudah hafal al Qur'an 30 juz. Hal ini sama yang terjadi dan saya lihat sendiri di Iran, sebagaimana yang saya sebutkan di muka.

Kegiatan menghafal al-Qur'an juga tumbuh di lingkungan UIN Maliki Malang. Kegiatan itu pada awalnya tidak terorganisasi secara resmi. Semula atas bimbingan beberapa dosen yang kebetulan hafal al-Qur'an 30 juz, para mahasiswa atas kesadaran mereka sendiri menghafal kitab suci ini di kampus. Kegiatan itulah kemudian pada saat ini diberi wadah dalam organisasi resmi, artinya masuk dalam struktur universitas, bernama Hai'ah Tahfidz al-Qur'an.

Lembaga yang baru dibentuk secara resmi ini diharapkan berhasil mendorong lebih banyak lagi para mahasiswa, dosen, dan karyawan UIN Maliki Malang untuk mengkaji dan menghafal al- Qur'an. Sehingga ke depan, UIN Maliki Malang diharapkan menjadi bagian dari gerakan upaya membudayakan atau membumikan al Qur'an di kampus dan juga tengah-tengah masyarakat luas. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Sumber Perilaku



Hingga kini kiranya belum banyak orang yang mempertanyakan secara serus, apakah sebenarnya ya ...




Terkait