IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Diskusi Tidak Formal Dan Juga Terbatas



Saya pernah ngikuti
diskusi tidak formal dan juga terbatas oleh beberapa orang sambil
melepas lelah. Pembicaraan itu terfokus pada persoalan banyaknya kyai
yang ikut aktif dalam politik. Di tengah pembicaraan itu muncul
keluhan bahwa saat ini kyai waro' semakin sulit didapat. Pasalnya,
banyak kyai sudah suka bertemu dengan para calon pejabat dan bahkan
sudah bertandang ke kediaman pejabat segala. Kyai seperti ini oleh
sebagian masyarakat sudah dianggap kurang selayaknya diikuti. Kyai
mestinya jangan terlalu dekat dengan penguasa, apalagi mendekat dan
bahkan mendukung salah satu kandidat penguasa saja mestinya dihindari.
Kyai sebagai ulama semestinya, menurut pikiran yang berkembang dalam
diskusi itu, yang dipandang lazim oleh masyarakat, adalah didatangi oleh
siapa saja, termasuk oleh calon penguasa. Orang yang dituakan dalam
soal agama ini, seharusnya menjadi sumber kearifan, lewat ilmu, petuah
dan nasehat-nasehatnya.Kyai yang bersedia datang ke pejabat, dan juga melakukan kegiatan yang
dapat ditengarai sebagai upaya mendukung salah satu kandidat dalam
pemilihan kepala daerah atau bahkan kepala negara dipandang tidak
netral. Padahal kyai, menurut pendapat kebanyakan orang, seharusnya
netral. Sangat disayangkan jika kyai menjadi rebutan oleh beberapa
partai atau kandidat penguasa di berbagai tingkatan. Semestinya yang
diperebutkan dari para kyai adalah ilmu dan kearifannya, dan bukan
sekedar pengaruhnya. Tugas ulama atau kyai semestinya sebagai lentera
atau obor yang menerangi bagi semua orang yang berada di tengah
kegelapan. Sebagai lentera atau obor itu harus adil, tidak memilah dan
memilih. Sinar lampu yang dipegangnya tidak hanya diarahkan pada satu
bagian tertentu, melainkan kepada seluruh penjuru siapa pun yang
memerlukan lampu penerang itu.Sehubungan dengan suasana politik di alam demokrasi akhir-akhir ini,
sebatas memposisikan diri saja, kyai tampak serba tidak mudah mengambil
sikap. Melibatkan diri pada aktivitas politik dipandang salah. Sedang
jika tidak peduli juga dianggap keliru, karena dianggap mereduksi
wilayah agama hanya sebatas menyentuh aspek ritual saja. Bagaimana
peran ulama atau kyai, sesungguhnya ada contoh menarik, yaitu di Iran.
Ulama’ di Iran dalam politik selalu menempatkan diri pada posisi
netral. Tugas ulama adalah melakukan kajian di bidang ilmu pengetahuan,
termasuk pengetahuan agama. Hasil kajian itu disampaikan seluas-luasnya
ke seluruh warga masyarakat. Jika ulama ini sudah tertarik pada dunia
politik, mereka harus melepaskan kedudukannya sebagai seorang ulama. Di
Iran ulama memiliki identitas secara gradual mulai mullah, hujatullah
sampai yang tertinggi adalah ayatullah. Para ulama ini hidupnya dijamin
oleh marjaknya masing-masing. Dana itu diperoleh dari khumus yaitu
sejumlah dana yang diambil dari kaum muslimin secara ikhlas dan tertib.
Khumus adalah dana yang bersumber dari masyarakat yang dipungut sebesar
20 % dari penghasilan bersih masyarakat. Ulama di Iran tidak perlu
susah mencari nafkah. Tugas mereka sehari-hari melakukan kegiatan yang
terkait dengan ilmu serta memimpin kehidupan keagamaan. Peran seperti
itu menjadikan mereka dihormati dan dimuliakan oleh seluruh rakyat tanpa
terkecuali.Masih menyangkut tentang peran ulama di Iran, bahwa mereka hingga diakui
sebagai ulama harus melewati beberapa tahap pendidikan keulamaan.
Predikat sebagau ulama’ bukan sekedar diperoleh setelah lulus dari
pendidikan formal tertentu, kemudian disebut sebagai hujatullah apalagi
ayatullah. Masing-masing tingkat keulamaan juga mudah dikenali,
setidak-tidaknya lewat pakaian yang sehari-hari dikenakan. Sebagai ulama
selalu mengenakan pakaian khas yang tidak dipakai oleh masyarakat pada
umumnya. Menyangkut pakaian ulama’ ini, di Indonesia biasanya
mengenakan sarung, baju dan jas, sandal dan surban. Kecuali bagi yang
sudah dekat-dekat dengan penguasa, lebih-lebih yang sudah masuk menjadi
anggota legislatif, sekalipun masih juga disebut kyai, menggunakan baju
seragam legislatif atau baju sapari.Selanjutnya yang diprihatinkan oleh beberapa orang dalam diskusi
tersebut, ulama sebagaimana di Iran itu sudah jarang didapat. Kyai atau
ulama yang dipandang masih memiliki kekuatan spiritual, ucapannya masih
dianggap berbobot karena memuat kadar kebenaran yang tinggi, tidak
memiliki kepentingan apa-apa, kecuali menjaga kebenaran yang hakiki,
dan sifat-sifat mulia lainnya di Indonesia ini sudah semakin sulit
dicari. Dulu, dikenali terdapat beberapa kyai khos, tetapi kyai khos
itupun sekarang sudah semakin kurang dikenal lagi. Kyai semacam itu oleh
masyarakat Indonesia, dan Jawa khususnya masih sangat diperlukan. Kyai
yang masih beristiqomah menjaga obyektivitas, kearifan dan selalu
mendekatkan diri pada Allah dan sebisa-bisa meninggalkan kehidupan dunia
yang fana dan yang oleh sementara orang disebut kyai waro’, saat ini
sudah semakin langka. Karena mereka sudah banyak yang aktif atau terjun
di dunia politik. Padahal masyarakat sudah terlanjur percaya bahwa
tatkala kyai sudah dekat dengan urusan politik, maka ke waro’annya
menjadi berkurang dan bahkan luntur. Apakah yang demikian itu benar,
terserahlah pada penilaian pembaca. Saya hanya bisa mengatakan wallohu
a’lam.

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait