IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Dahsyadnya Bahaya Penyakit Dengki


Dengki atau hasut adalah penyakit yang berada di dalam hati seseorang. Orang yang sedang berpenyakit dengki atau hasut itu tidak akan mengerti, bahwa dirinya sedang sakit. Penyakit itu tidak dirasakan oleh yang bersangkutan. Bahkan sebaliknya, dirinya merasa sehat dan justru orang lain yang dianggapnya sakit. Orang yang berpenyakit dengki menginginkan orang lain menjadi rugi, sedih, dan bahkan celaka.

Penyakit dengki bisa saja ada pada hati orang yang secara fisik, badannya sehat. Selain itu, semua orang berpeluang terkena penyakit tersebut, baik laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak, rakyat biasa, pegawai, buruh, majikan, dan bahkan juga penguasa, dan lain-lain. Berbeda dengan penyakit fisik, penyakit hati berupa hasut atau dengki yang akan merasa sakit, oleh karena terkena dampaknya adalah orang lain. Orang lain yang sedang sehat bisa menjadi sengsara, merasa sakit, atau celaka, oleh karena adanya orang yang berpenyakit hasut itu.

Suatu ketika, saya kedatangan tamu, seorang dari Saudi Arabia. Saya merasa heran, tamu dimaksud mengajukan pertanyaan yang menurut saya aneh, yaitu apakah di sini (kampus) tidak ada orang yang berpenyakit hasad atau dengki. Saya menyebutnya aneh, oleh karena saya belum pernah mendapatkan pertanyaan seperti itu. Lantas saya balik bertanya, kenapa pertanyaan itu disampaikan. Secara spontan, dia menjelaskan bahwa, di mana saja Kemajuan sulit diwujudkan oleh karena di berbagai tempat itu ada saja orang berpenyakit hasut atau dengki.


Seorang tamu dari Timur Tengah itu menjelaskan bahwa banyak masyarakat tidak maju, dan bahkan mundur, tidak terkecuali di lembaga pendidikan, oleh karena banyak orang berpenyakit hasut. Orang yang berpenyakit hasut atau dengki selalu tidak suka tatkala melihat orang lain beruntung, maju, selamat, memperoleh kemenangan, berhasil, sukses, dan sejenisnya. Sebaliknya, mereka merasa senang dan gembira tatkala mendapatkan kabar atau mengetahui orang lain susah, rugi, atau bahkan celaka.

Penyakit hati berupa dengki atau hasud itu secara fisik tidak kelihatan tetapi sangat membahayakan terhadap orang atau pihak lain. Kisah pembunuhan yang dilakukan oleh Qobil terhadap Habil, keduanya putra Nabi Adam, adalah karena penyakit hasut atau dengki itu. Kisah itu dapat dibayangkan bahwa betapa kejamnya, pada saat manusia masih dalam jumlah sangat terbatas, seseorang sampai hati membunuh saudaranya sendiri. Tindakan itu dilakukan oleh karena adanya penyakit yang bersemayam di hati Qobil.

Peringatan terhadap besarnya bahaya penyakit dengki atau hasat juga bisa ditangkap dari petunjuk Allah swt., di dalam al Qur'an, surat al Falaq, terjemahannya sebagai berikut : Katakanlah : ' Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya), dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki'. Surat pendek ini mengingatkan bahwa, dalam kehidupan ini ternyata banyak sekali ancaman pada diri setiap orang, dan tempat berlindung yang sebenarnya tidak ada yang lain, kecuali Tuhan sendiri. Disebutkan dengan jelas bahwa, hanyalah Allah saja yang sebenarnya menjadi tempat berlindung dari kejahatan orang yang berpenyakit hasat atau dengki yang amat berbahaya itu.

Betapa besarnya bahaya orang-orang dengki atau hasad hingga Aminah saat mengandung Rasulullah, ia bermimpi didatangi oleh seseorang dan kemudian orang itu berkata, bahwa sesungguhnya engkau sedang mengandung penghulu umat ini. Jika dia telah lahir ke bumi, maka ucapkanlah : ' Aku berlindung kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa dari keburukan semua pendengki, dan namakan dia Muhammad'. Kisah berupa mimpi yang dialami oleh Aminah, ibu Muhammad saw., bisa ditangkap sebagai petunjuk bahwa sedemikian besar bahaya penyangkit dengki atau hasud. Penyakit itu bisa merusak semua usaha kebaikan yang dilakukan oleh siapapun, termasuk utusan Allah, dan apalagi hanya sebatas manusia biasa. Oleh karena itu, sebagai upaya menghindarinya, kita dianjurkan untuk selalu memohon perlindungan, tidak kepada siapa-siapa, kecuali hanya dari Dzat Yang Maha Kuasa, ialah Allah swt. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait