Memayu hayuning bawono
Ambrasto dur hangkoro



Loading ...

IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Catatan Selintas Tentang 7 Menteri Agama


Saya menjabat sebagai pimpinan perguruan tinggi agama Islam Negeri sudah cukup lama, yaitu sejak tahun 1997. Setengah tahun, saya menjadi wakil Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang . Kemudian, bersamaan dengan perubahan Fakultas Tarbiyah menjadi STAIN Malang, saya dilantik menjadi ketuanya, yaitu pada tanggal 7 Januari 1998 hingga sekarang. Pelantikan itu dilakukan oleh dr. Tarmidzi Thahir, sebagai menteri agama ketika itu.

Oleh karena itu, selama menjabat sebagai pimpinan STAIN hingga menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, saya sedikit banyak telah mengetahui dan merasakan kepemimpinan dari beberapa menteri agama, berturut-turut mulai dari Pak Tarmidzi Thahir, Pak Quraisy Syihab, Pak A.Malik Fadjar, Pak Tholkhah Hasan, Pak Said Aqil al Munawwar, Pak Maftuh Basuni, dan terakhir, Pak Suryadharma Ali.

Saya merasakan masing-masing menteri agama tersebut memiliki obsesi yang berbeda-beda, sesuai dengan tuntutan dan tantangan pada masanya itu. Tanpa mengurangi rasa hormat dan juga subyektifitas yang ada pada saya, berikut saya kemukakan catatan singkat saya terhadap masing-masing menteri agama dimaksud.

Saya merasakan, Pak Tarmidzi Thahir, seorang dokter, tetapi memiliki perhatian yang sangat besar terhadap perbaikan manajemen. Seringkali saya mendengar pandangan beliau tentang pentingnya manajemen birokrasi yang seharusnya ditata secara baik. Sebagai kunci untuk menata birokrasi itu, menurut pandangannya, harus tersedia SDM. Sedangkan titik lemah di kementerian agama, diakui olehnya, adalah terletak di SDM ini. Oleh karena itu, ketika menghadiri pengukuhan guru besar Pak A. Malik Fadjar di IAIN Malang, secara spontan beliau mengatakan akan mengajak Pak Malik Fadjar ke Jakarta, dan kemudian tidak dalam waktu lama, mengangkatnya sebagai Dirjen Bimbaga Islam Departemen Agama.

Pak Quraisy Syihab menjabat menteri agama sangat singkat, hanya beberapa bulan saja, yaitu di akhir masa pemerintahan Presiden Soeharto. Beberapa bulan dilantik, terjadi gerakan reformasi. Pada keadaan seperti itulah Pak Quraiys Syihab memimpin kementerian agama. Belum sempat memberikan arahan, pikiran dan pandangannya untuk membangun kementerian agama, beliau sudah diganti, bersamaan dengan pergantian pemerintahan pada saat itu. Kesan saya, beliau memang menampakkan sosok sebagai seorang ilmuwan dan ulama'. Sosok sebagai seorang birokrat tidak saya lihat.

Masa jabatan Prof. Quraisy Syihab yang amat singkat itu, digantikan oleh Prof.A.Malik Fadjar. Saya memiliki pengalaman yang cukup lama mendampingi beliau, yaitu sejak menjadi sekretaris fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang dan kemudian menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Malang. Ketika menjadi menteri agama, kepemimpinannya saya rasakan tidak banyak berubah dari sebelumnya. Pak Malik Fadjar selalu mengajak menata organisasi secara obyektif, rasional, dijalankan secara profesional, menatap masa depan dengan penuh perhitungan, keberanian, dan tanggung jawab. Resiko harus dihadapi, sebab hidup ini memang penuh resiko. Dua hal penting yang dibangun , yaitu kepemimpinan dan managerial kementerian agama.

Pemerintahan Habibie digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid. Pada saat itulah Prof. Tholkhah Hasan menggantikan Prof. A.Malik Fadjar, sebagai menteri agama. Pak Tholkhah Hasan selain pernah menjadi rektor Universitas Islam Malang juga aktif di PBNU. Latar belakang itu rupanya mewarnai program-program yang dikembangkan, yaitu mengangkat citra pendidikan pesantren dan madrasah. Seringkali beliau menyuarakan pentingnya untuk lebih memperhatikan lembaga pendidikan swasta. Mirip dengan Pak Tarmidzi Thahir, beliau juga melihat kelemahan di kementerian agama adalah ketersediaan SDM, utamanya dari aspek kualitasnya. Secara khusus, saya pernah dipanggil oleh beliau di kantornya untuk membicarakan hal itu.

Pak Tholkhah Hasan, sama dengan Pak Malik Fadjar tidak terlalu lama menjabat sebagai menteri agama, dan kemudian digantikan oleh Prof.Dr. Said Aqil al Munawwar. Guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, - terasa sekali, ingin memberikan layanan yang terbaik kepada umat, siapa saja. Namun sayangnya, keinginan itu tidak dibarengi dengan bekal manajerial pemerintahan yang memadai. Orientasi beliau adalah, bagaimana agar orang lain mendapatkan kemudahan dari jabatan yang dimilikinya itu. Menurut informasi, tidak sedikit mahasiswa program Doktor yang datang dari mana saja, tatkala menghadap beliau dan mengungkapkan kesulitannya, segera dibantu.


Saya terkesan sekali atas cara kerja beliau. Manakala sesuatu sudah dianggap baik dan akan menguntungkan umat, maka beliau secara cepat melakukan dengan cara apapun, tanpa menghiraukan aturan dan atau ketentuan yang harus dijadikan pegangan. Sebagai contoh, tatkala beliau diajak bekerjasama dengan Menteri Pendidikan Tinggi Sudan, untuk bersama-sama membuat perguruan tinggi, maka beliau segera mengubah STAIN Malang menjadi UIIS (Universitas Islam Indonesia Sudan) sebagai implementasi kerjasama itu. Selanjutnya, tanpa lewat prosedur panjang, Universitas Islam Indonesia Sudan dimaksud diresmikan oleh kedua pejabat tinggi dua negara negara, yaitu Wakil Presiden Indonesia dan wakil Presiden Sudan atas prakarsa menteri agama. Padahal semestinya, legalitas perguruan tinggi negeri harus lewat Surat Keputusan Presiden. Tahap-tahap itu tidak dilalui, sehingga peresmian itu dianggap tidak berlaku.

Sebagai jalan keluarnya, beliau dengan berbagai cara berkenan mengusahakan agar UIIS berubah menjadi UIN Malang. Usaha itu ternyata berhasil. Pengalaman lainnya yang saya rasakan amat berani, yaitu ketika saya mengajukan permohonan dana untuk membeli tanah yang akan saya gunakan untuk pembangunan ma'had putri di STAIN Malang. Tanpa banyak pertimbangan, usulan yang saya bawa sendiri menghadap beliau, langsung disetujui, sehingga tanah dimaksud berhasil terbeli. Padahal tanah itu harganya cukup tinggi. Bahkan beliau mengatakan bahwa, usulan seperti itu harus segera ditindaklanjuti, karena menyangkut kepentingan umat yang sudah nyata-nyata jelas.

Prof.Dr. Said Aqil al Munawar, sebagai menteri agama, digantikan oleh Pak Maftuh Basuni. Saya mengenal beliau, baru tatkala Pak Maftuh Basyuni menjabat menteri agama itu. Di awal masa jabatannya, saya menghadap dan menjelaskan tentang perkembangan pendidikan Islam. Rupanya, beliau tertarik, dan berkenan hadir menenuhi undangan saya, untuk melihat lembaga pendidikan Islam di Malang yang saya sebut maju itu, yaitu MIN, M.TsN, MAN dan UIN Malang. Setelah melihat sendiri secara langsung, beliau mengemukakan kesannya, bahwa ternyata lembaga pendidikan Islam di Indonesia ada yang maju dan membanggakan.



Sejak bertemu pertama kali, saya menangkap kesan, bahwa beliau sangat berambisi untuk membersihkan kementerian agama dari kesan buruk, yaitu adanya korupsi di lembaga pemerintahan yang semestinya menjadi tauladan itu. Tekatnya untuk membersihkan kementerian agama dikemukakan di mana-mana. Saya masih ingat, pada awal beliau menjabat, ketika berkunjung ke Mataram, NTB, beliau mempertegas akan memberantas korupsi. Untuk menjalankan rencananya itu , beliau terlebih dahulu akan membersihkan perangkatnya. Pak Maftuh Basyuni berpendapat bahwa memberantas korupsi sama dengan menyapu lantai. Sebelum lantainya disapu, maka sapunya harus dibersihkan terlebih dahulu.

Bidang yang menjadi sasaran untuk ditertibkan oleh Pak Maftuh Basyuni terlebih dahulu adalah manajemen penyelenggaraan haji. Kesan negatif tentang penyelenggaraan haji itu, mungkin telah diperolehnya, sejak beliau bertugas di Saudi Arabia. Di tengah-tengah semangat menertibkan birokrasi itu, saya pernah bercanda kepada beliau, bahwa untuk mempercepat perkembangan UIN Malang, saya banyak melakukan penyimpangan. Atas laporan itu, beliau meresponnya dengan positif, yaitu silahkan saja asalkan tidak merugikan orang lain, dan juga tidak membawa pulang milik negara. Tentu, saya menjadi sangat senang atas respon itu. Sebab manakala apa saja dijalankan terlalu kaku, maka menurut hemat saya, birokrasi tidak akan berjalan dan pelayanan masyarakat tidak akan bisa maksimal dan memuaskan.

Terakhir, saya masih menjabat sebagai rektor, ketika menteri agama dijabat oleh Bapak Suryadharma Ali. Beliau saya kenal sebagai seorang politikus, menjabat Ketua Umum PPP. Sebagaimana Pak Maftuh Basuni di awal jabatannya, Pak Suryadharma Ali juga saya undang untuk melihat UIN Malang. Kesempatan itu juga saya gunakan untuk memberikan gambaran tentang lembaga pendidikan di lingkungan kementerian agama. Atas undangan itu, beliau datang dan terasa mendapatkan kesan yang baik terhadap lembaga pendidikan agama.

Kesan singkat saya, bahwa Pak Suryadharma Ali ingin menunjukkan bahwa kementerian agama adalah juga merupakan instansi yang bersih dan mampu berprestasi sebagaimana kementerian lain yang mengurus pendidikan. Hanya kesan saya, kemauan baik itu tidak segera berhasil dimobilisasi, terbentur oleh, -lagi-lagi, dukungan SDM yang kurang memadai. Mendapatkan orang yang memiliki kemampuan managerial dan leaderhip sehingga berhasil menggerakkan potensi yang ada, di kementerian agama ini tidak terlalu mudah.

Catatan saya lainnya terhadap Pak Suryadharma Ali, bahwa umpama beliau ini tidak juga disibukkan memimpin partai politik, bagi saya, beliau akan menjadi menteri agama yang amat ideal. Latar belakang pendidikan beliau, yaitu lama belajar di pesantren, lulus IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tatkala mahasiswa menjadi aktifis, dan pernah menjadi menteri koperasi, hafal al Qur'an (16 juz), maka semua itu jelas memperkaya bekal yang dimiliki sebagai menteri agama. Saya merasakan pandangan beliau tentang Islam yang sedemikian luas. Pak Suryadharma Ali, di pesantren Jawa Tengah, pernah membuat statemen yang bagi saya sangat menarik, bahwa mestinya pesantren berani membuka kawasan ilmu yang semakin luas, yakni berani keluar dari tradisi selama ini. Membaca statemen itu, saya segera berkirim sms kepada beliau untuk mengapresiasi, dan ternyata juga segera dijawab. Mudah-mudahan, pikiran cerdas Pak Suryadharma Ali, berhasil mewarnai dan menggerakkan pikiran-pikiran maju yang sudah ditunggu sejak lama. Semogalah berhasil, masih ada waktu.

Iklan

Terbaru

Ternak Sapi Donggala