IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Calon Presiden


Bangsa ini patut bersyukur dan bergembira, di tengah persoalan bangsa yang sedemikian banyak, komplek, dan berat, ternyata masih ada orang-orang yang siap bersedia dipilih menjadi presiden. Padahal tugas itu adalah amat berat. Pemimpin bangsa ini diharapkan oleh sekitar 240 juta jiwa agar menjadi semakin sejahtera, semuanya diperlakukan secara adil, mudah mencari rizki, dan bahagia hidupnya.

Sejak memasuki tahun 2014, dalam perjalanan ke mana saja asalkan masih berada di wilayah Indonesia, pasti menemukan gambar-gambar atau foto orang-orang yang bersiap sedia dipilih menjadi presiden. Oleh karena wilayah Indonesia sedemikian luas, maka bisa dibayangkan, berapa jumlah gambar atau foto yang sudah dipasang di tempat-tempat strategis di berbagai wilayah itu. Promosi itu belum termasuk yang dilakukan lewat koran, TV, radio, dan lain-lain. Janganlah bertanya tentang berapa jumlah biaya yang telah dikeluarkan, maka pasti mahal hingga sulit dibayangkan.

Bagi orang awam, setidaknya seperti saya ini, akan selalu bertanya, mengapa untuk mendapatkan amanah yang sedemikian berat, orang mau dan bahkan bersedia mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Biaya promosi dengan memasang foto atau gambar-gambar dan menggerakkan banyak orang, sebagaimana dikemukakan di muka, tentu bukanlah murah dan mudah. Pasti mahal dan sulit sekali. Apalagi, jumlah itu sedemikian besar. Maka, di balik perjuangan yang amat mahal dan sulit itu, tentu ada sesuatu yang bersifat mulia atau agung yang ingin diraih dari posisi sebagai kepala negara itu.

Jabatan presiden memang sangat mulia. Selama lima tahun di antara penduduk yang berjumlah sekitar 240 juta jiwa hanya ada satu orang yang menjadi presiden. Semua orang pasti mengenal nama itu. Tidak saja ketika sedang menjabat, melainkan pada tahun-tahun berikutnya selama bangsa atau kehidupan ini masih ada. Seorang presiden, namanya menjadi abadi. Lihat saja, sejarah bangsa-bangsa di dunia, namanya tetap dikenang sepanjang zaman. Nama Ir. Soekarno, Soeharto, Habibie, KH Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Soesilo Bambang Yudhoyono, dan nanti siapa lagi, akan selalu membarengi nama Indonesia ini. Menyebut Indonesia akan juga menyebut nama-nama presidennya.


Kebanyakan orang, kalau bisa, menginginkan namanya disebut, dikenal, dan diakui oleh banyak orang, bahkan kalau perlu, oleh seluruh bangsanya. Dalam kehidupan ini kemasyhuran menjadi penting dan oleh karena itu diperjuangkan. Sebenarnya secara jujur, semua orang menginginkan menjadi presiden. Jangankan mereka yang sudah dewasa, anak-anak kecil saja, jika ditanya tentang cita-citanya, mereka akan menjawab ingin menjadi presiden. Oleh karena itu, cita-cita menjadi presiden sebenarnya adalah milik semua orang. Persoalannya adalah, mereka ada yang merasa mampu dalam berbagai aspeknya, dan sebagian lain merasa tidak mampu. Umpama perasaan mampu dan cakap itu dimiliki oleh banyak orang, maka jumlah calon presiden, yang sudah banyak itu akan bertambah lagi.

Menjadi presiden adalah orang yang beruntung. Tidak saja dikenal dan masyhur namanya, tetapi juga berpeluang bisa berbuat baik kepada sekian banyak orang. Lebih dari 240 juta jiwa penduduk bangsa ini mengharapkan kebaikan, kebijakan, pikiran cerdas, akhlak mulia yang disandang oleh pemimpinnya. Manakala hal itu benar-benar bisa dipenuhi, maka artinya cita-cita menjadi manusia terbaik, yaitu manusia yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain, telah berada di depan mata, atau telah tercapai. Orang terbaik, tidak saja akan dimuliakan di dunia, melainkan juga akan mendapatkan tempat terbaik di akherat kelak. Oleh karenanya, manakala niat menjadi presiden semulia seperti itu, maka berjuang untuk menduduki posisi itu adalah sesuatu yang sangat mulia pula.

Hanya saja, dalam kehidupan ini selalu tidak sepi dari godaan, pengaruh, atau bisikan yang menyesatkan. Kadang antara benar dan salah tidak terlalu kelihatan secara jelas. Sesuatu yang dianggap benar, adil, jujur, memakmurkan dan mensejahterakan rakyat, namun ternyata yang terjadi justru sebaliknya, yaitu mensengsarakan banyak orang, dan dianggap dholim. Oleh karena itu, Tuhan mengajari agar siapapun selalu memohon kepada Tuhan, meminta petunjuk bahwa sesuatu yang dianggap benar memang benar, dan sebaliknya, sesuatu yang dianggap salah memang salah. Sebab ternyata, tidak sedikit pemimpin bangsa yang jatuh, namanya tidak dihargai dan dimuliakan, melainkan justru sebaliknya, yaitu dihujad dan disumpah serapah oleh rakyatnya sepanjang masa.

Bangsa ini beruntung telah memiliki cita-cita atau gambaran masa depan yang jelas, yaitu ingin menjadikan bangsa ini ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, berkemanusiaan yang adil dan beradab, bersatu, berkerakyatan yang dipimpimpin oleh hikmah kebijaksanaan, serta berkeadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Siapapun presiden itu, manakala selalu mengajak dan mendidik rakyatnya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, berbuat adil, jujur, dan berperilaku mulia, berjuang untuk mempersatukan dan mensejahteraan semua rakyat, maka cita-cita agar menjadi presiden atau pemimpin bangsa yang ideal akan tercapai. Namun sebaliknya, manakala presiden yang bersangkutan hanya ingin masyhur, yang namanya selalu dikenang, tetapi membiarkan ketidak-adilan terjadi, dan tidak memikirkan kesejahteraan rakyatnya, maka sekalipun berbiaya mahal, cita-cita mulia itu akan semakin jauh dari kenyataan. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait