IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Bermodalkan Jiwa, Semangat Dan Pikiran Besar Pak Malik Fadjar Berhasil Membangun Pendidikan


Saya sangat bersyukur, Pak Malik Fadjar hari ini tanggal 22 Pebruari 2009, telah genap berumur 70 tahun, tetapi masih tampak segar. Umur Pak Malik jauh melebihi gambaran kondisi fisiknya. Umpama Pak Malik Fadjar disebut berusia 60 an tahun rasanya masih pantas. Saya lihat sejak dulu, memang Pak Malik selalu istiqomah menjaga kesehatan, kecuali dalam hal merokok. Rupanya yang satu ini, beliau gagal menaklukkan. Tetapi, tidak tahu akhir-akhir ini, kabarnya sudah berhasil mengurangi.

Awet muda Pak Malik juga terlihat pada pikiran dan pandangan-pandangannya, terutama di bidang pendidikan dan wawasan politiknya. Tatkala beliau diajak bicara pendidikan dan politik masih terasa sangat segar. Pikiran-pikiran baru, dan bahkan pandangan ke depan masih sangat menarik. Jika agak lama sedikit beliau tidak hadir ke UIN Malang, banyak dosen muda menanyakannya. Semangat untuk mengembangkan pendidikan, tidak pernah kelihatan menurun. Bahkan kadang, justru selalu meningkat.

Saya mengenal Pak Malik Fadjar sejak masih menjadi mahasiswa. Sampai hari ini komunikasi saya dengan beliau belum pernah berhenti. Jika saya tahu, beliau hadir di Malang saya berusaha ketemu, sekalipun hanya bersalaman. Hanya, seringkali, karena kesibukan, saya sedang pergi, baru tahu bahwa Pak Malik Fadjar ke Malang, ketika Pak Malik sudah kembali lagi ke Jakarta. Akhirnya, saya sebatas tilpun, dan itupun harus mencari waktu yang tepat, agar tidak mengganggu beliau.

Secara intensif saya menjadi bawahan Pak Malik Fadjar tidak kurang dari 20 tahun. Sejak beliau menjadi sekretaris Fakultas di IAIN Sunan Ampel Malang. Sejak tahun 1976, ketika itu saya belum lulus dari IAIN, saya diberi tugas sebagai staf tata usaha di IAIN Malang, berstatus pegawai honorarium. Sekalipun jabatan Pak Malik Fadjar ketika itu sebagai sekretaris Fakultas, tetapi banyak orang merasakan posisi itu melebihi Dekannya. Terlihat beberapa dosen dan juga bahkan pimpinan, justru berdiskusi, berkumpul justru di ruang Pak Malik. Lebih aneh lagi, kalau ada demo, yang jadi sasaran juga bukan Dekan, melainkan justru Pak Malik. Para mahasiswa yang berdemo itu, mungkin tahu bahwa kekuatan kampus ini, adalah di ruang Pak Malik ini. Inilah sebabnya orang memahami bahwa Pak Malik bukan sebatas sekretaris biasa.

Selain bekerja sebagai pegawai honorarium, saya pada sore hari bekerja di Universitas Muhammadiyah Malang. Tatkala menjadi mahasiswa saya dikenal oleh banyak dosen. Selanjutnyha, saya ditawari pekerjaan di Universitas Muhammadiyah oleh Prof. Masyfuk Zuhdi (alm), yang kebetulan beliau sebagai rektornya. Saya dikenal baik oleh Pak Masyfuk Zuhdi, karena pernah berhasil memberi kursus matematika pada putranya. Ketika itu, Pak Malik belum banyak terlibat mengelola Universitas Muhammadiyah Malang, tetapi beliau sudah banyak memberikan sumbangan pikiran-pikirannya.

Beberapa tahun Pak Malik Fadjar meninggalkan Malang, studi ke Amerika Serikat. Sepulang dari studi itu, setelah memperoleh gelar Master, beliau diminta memimpin FISIP Universitas Muhammadiyah Malang. Tidak lama kemudian, beliau terpilih sebagai Rektor kampus ini pada tahun 1983. Saya yang ketika itu belum memiliki pengalaman sama sekali, ditunjuk mendampingi beliau sebagai pembantu rektor I. Saya juga tidak begitu paham, kenapa saya ditunjuk menduduki jabatan itu. Hanya memang ketika itu, UMM belum sebesar sekarang. Sekalipun lembaga ini bernama universitas, tetapi senyatanya masih kecil sekali sehingga belum diperhitungkan orang.

Universitas ini belum memiliki dosen tetap, pegawai tetap dan bahkan mahasiswanya tidak lebih dari 260-an orang. Kebanyakan mahasiswa itu juga berstatus sebagai sambilan saja. Mereka umumnya adalah berstatus sebagai pegawai kantor di beberapa instansi di Malang dan sorenya menjadi mahasiswa. Semakin lengkap kesederhanaan itu, jika dikemukakan bahwa perguruan tinggi ini belum memiliki gedung tersendiri. Baik kantor maupun ruang kuliah masih menggunakan gedung bersama dengan sekolah lanjutan, yaitu SPG, SMEA, STM, maupun SMA Muhammadiyah. Satu gedung kecil tua dan sederhana digunakan secara ramai-ramai bergantian. Lucu dan aneh sekali, semuanya merasa memiliknya. Saya merasakan, perguruan tinggi ini mungkin pada awalnya lebih tepat disebut sebagai universitas pengisi waktu luang. Semua yang ada di dalamnya -pimpinan, dosen dan mahasiswanya, berstatus sebagai sambilan.

Saya berhenti dalam arti sudah secara tidak langsung mendampingi Pak Malik Fadjar tahun 1997. Sejak tahun 1996 saya berhenti menjadi Pembantu Rektor I Universitas Muhammadiyah Malang. Namun demikian, sekalipun sudah tidak kurang dari13 tahun menjabat pembantu Rektor di bidang akademik, saya masih ditugasi sebagai Wakil Direktur Pascasarjana. Oleh karena Prof. Dawam Rahardjo, direkturnya berdomisili di Jakarta, dan hanya sekali-kali saja beliau ke Malang, maka sehari-hari saya melakukan tugas-tugas direktur hingga awal tahun 1998. Mulai tahun itu secara total saya harus meninggalkan UMM, karena mendapatkan SK dari Menteri Agama, menjabat sebagai Ketua STAIN Malang, yang saat ini kampus itu telah berubah menjadi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang.

Cerita aneh, lucu dan kadang menggelikan tentang awal pertumbuhan kampus Un iversitas Muhammadiyah Malang yang dipimpin oleh Pak Malik Fadjar sengaja saya ungkap untuk menggambarkan bahwa betapa beliau telah merintis, memulai dan bergumul dengan berbagai usaha yang keras dan ulet, akhirnya lembaga ini menjadi saksi hidup dan sekaligus menjadi buku besar, bagian dari riwayat hidup Pak Malik Fadjar bersama keluarga. Saya beranggapan, jika ada orang ingin belajar bagaimana membangun lembaga pendidikan dari nol hingga menjadi besar dan maju, maka sesungguhnya membaca riwayat hidup Pak Malik Fadjar rasanya lebih dari cukup. Saya berani mengatakan bahwa riwayat hidup Pak Malik Fadjar, bisa dijadikan metode pengembangan lembaga pendidikan, dan khususnya pendidikan Islam dan lebih khusus lagi adalah pendidikan Muhammadiyah di tanah air. Saya kira, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dan juga Fakultas Tarbiyah, untuk memperdalam wawasan pendidikannya seharusnya membaca Buku Riwayat Hidup Pak Malik Fadjar.

Pengalaman yang saya dapatkan dari ikut memimpin Universitas Muhammadiyah Malang, dalam waktu tidak kurang dari 15 tahun, (13 tahun sebagai pembantu Rektor I dan sekitar 2 tahun memimpin Pascasarjana), saya gunakan sebagai bekal memimpin kampus yang juga peninggalan Pak Malik Fadjar, yaitu STAIN Malang. Kata orang perguruan tinggi Islam negeri, yang pada umumnya memiliki tiga cirri utama, yaitu tahan hidup, sukar maju dan kaya masalah, alhamdulillah, berhasil dikurangi. STAIN Malang yang telah berubah menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, bersama teman-teman saya kembangkan, berdasarkan inspirasi yang saya dapatkan dari Pak Malik Fadjar, ketika selama itu saya mendampingi beliau. Atas dasar pengalaman seperti itu saya memiliki pandangan, bahwa Riwayat Hidup Pak Malik Fadjar sesungguhnya sangat tepat jika dijadikan buku wajib untuk dipelajari oleh mahasiswa Fakultas Pendidikan dan juga Fakultas Tarbiyah untuk memperkaya dan sekaligus mempertajam wawasan ilmu kependidikannya. Sudah barang tentu, untuk memperkaya lagi, nama-nama tokoh pendidikan di lingkungan Muhammadiyah, seperti Almarhum Mohammad Djasman al Kindi, Prof.Dr.Noeng Muhadjir, dan saya kira masih banyak lagi lainnya yang perlu diungkap agar lebih sempurna. Mereka yang lama dan telah berhasil mengembangkan lembaga pendidikan Muhammadiyah di tanah air ini perlu diketahui dan dijadikan bahan kajian.


Dalam usianya yang genap 70 tahun, Pak Malik Fadjar telah meninggalkan bekas-bekas tapak kaki di dunia pendidikan yang bisa dilihat secara jelas oleh siapapun. Di tingkat nasional, semua orang mengetahuinya, bahwa Pak Malik Fadjar telah melakukan peran-peran strategis. Beliau pernah menjabat sebagai Direktur Jendral Kelembagaan Islam. Pada saat itu beliau dikenal telah menata perguruan tinggi Islam secara mendasar. Selain berhasil mengenalkan kultur berkerja di birokrasi yang seharusnya inovatif, kreatif, efisiensi dan efektivitas, Pak Malik juga telah melakukan penataan fakultas-fakultas cabang yang berinduk ke IAIN menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri atau STAIN. Sejumlah 33 STAIN berdiri di Indonesia, adalah merupakan salah satu prestasi Pak Malik Fadjar ketika beliau menjabat sebagai Dirjen Kelembagaan Agama Islam.

Karier Pak Malik Fadjar berlanjut menjadi Menteri Agama. Pak Malik sempat berhenti tatkala Presiden dijabat oleh KH Abdurrahman Wachid. Selanjutnya, ketika Presiden Megawati Soekarnoputri, Pak Malik Fadjar ditunjuk menjadi Menteri Pendidikan Nasional. Banyak hal yang dilakukan oleh Pak Malik ketika beliau menjabat, baik sebagai Menteri Agama maupun sebagai Menteri Pendidikan Nasional. Kebijakan mendasar, lagi-lagi terkait dengan pendidikan Tinggi Islam di Indonesia, Pak Malik memberikan rekomendasi perubahan status dua Perguruan Tinggi Islam Negeri menjadi universitas, yaitu IAIN Sunan Kalijaga menjadi UIN Sunan Kalijaga dan STAIN Malang menjadi UIN Malang, yang sekarang bernama UIN Maulana Malik Ibrahim.

Selain karya-karya yang bersifat fisik sebagaimana disebutkan di muka, Pak Malik Fadjar telah memberikan sesuatu yang tidak kurang pentingnya dalam membangun pendidikan. Sesuatu yang saya maksudkan, yang nilainya sangat tinggi dan bahkan tidak pernah terukur besarnya, ialah jiwa, semangat dan pemikiran-pemikiran yang sifatnya inovasi dan modernisasi pengembangan pendidikan pada umumnya dan pendidikan Islam pada khususnya.

Sekian banyak nilai, jiwa, semangat dan pemikiran Pak Malik Fadjar tentang pendidikan, sehingga tidak akan mungkin saya menyebutnya secara sempurna. Dalam tulisan singkat ini, saya akan menyebutnya beberapa saja, sebagai contoh, sebagai berikut.

Pertama, yang sangat mengesankan pada saya, Pak Malik selalu menangkap Islam hingga nilai-nilainya paling dalam. Nilai-nilai itu dijadikan sebagai acuan atau pedoman dalam kehidupan. Beliau seringkali mengatakan bahwa semestinya ber-Islam itu adalah menjaga kesehatan, disiplin, bersih, menghormati sesama, menunaikan amanah, cerdas, mampu melihat jauh ke depan. Islam kata Pak Malik Fadjar mengajari semua itu. Dengan ber-Islam semestinya kita tidak boleh dendam, dengki iri hati dan seterusnya. Islam menjadikan umatnya sehat jasmani dan rohani. Keberagamaan seseorang semestinya melahirkan iman yang kokoh, amal sholeh dan akhlakul karimah. Nilai-nilai itu hendaknya diimplementasikan sampai pada hal-hal yang kecil, misalnya dalam menerima tamu, melayani orang, dan pada siapapun harus dilakukan sebaik-baiknya.

Kedua, Pak Malik Fadjar saya kenal sebagai orang yang sangat mencitai dunia pendidikan. Kecintaan itu bisa dilihat dari, selain cara kerjanya yang gigih, ulet, tanggung jawab, adalah kesediaannya berkorban untuk pendidikan. Berjuang dan berkorban untuk pendidikan telah dijalankan dan dicontohkan oleh Pak Malik Fadjar secara baik. Banyak orang mau bekerja keras untuk pendidikan, tetapi belum tentu bersedia berkorban. Pak Malik Fadjar memberikan kedua-duanya. Jika al Qur'an menyerukan agar berjuang dengan jiwa dan harta, sebagaimana berbunyi : jaahiduu bi amwalikum wa anfusikum, maka itu telah dijalankan secara baik oleh Pak Malik Fadjar untuk mengembangkan pendidikan.

Ketiga, berani menghadapi segala resiko atas keputusan yang diambilnya. Saya masih ingat Pak Malik Fadjar selalu berani mengambil keputusan yang penuh resiko. Beliau berpedoman pada hasil pikirannya sendiri , yaitu dengan mengatakan, bahwa di dunia ini selalu berhadapan dengan berbagai resiko. Duduk saja, kata Pak Malik akan beresiko. Jika lama-lama akan terkena penyakit ambiyen. Karena itu, sebesar apapun resiko yang harus dihadapi, jika keputusan itu akan membawa kemajuan, maka harus diambil..Seorang pemimpin selalu dihadapkan pada resiko, dan apapun resiko itu bentuknya harus dihadapi. Beliau selalu pesan jangan lari dan meninggalkan tanggung jawab.

Keempat, memiliki integritas yang tinggi pada pencapaian cita-cita dan tanggung jawabnya. Peristiwa yang tidak pernah saya lupakan terkait dengan betapa besar integritas Pak Malik pada lembaga yang dipimpinnya. Suatu saat, saya sampaikan bahwa Pak Malik harus hadir di Kppertis Wil. VII Surabaya. Pagi-pagi beliau saya jemput untuk saya dampingi menghadiri undangan itu. Saya lihat beliau tampak kurang sehat. Saya usul kepada beliau, agar saya saja mewakili. Beliau menolak, sekalipun dalam kondisi sakit tetap berkenan hadir. Sampai di Sidoarjo, sakit perut beliau semakin parah, hingga saya harus membelikan celana pengganti. Dalam keadaan seperti itupun beliau tetap meneruskan niatnya hadir di Kopertis Wil. VII Surabaya, hingga semua masalah terselesaikan. Peristiwa berat semacam itu tidak saja sekali dua kali dialami Pak Malik. Tidak terkecuali, ketika beliau harus merangkap menjadi Rektor UMM dan UMS. Setiap minggu beliau harus pulang pergi dari Malang ke Surakarta. Dilihat dari jarak tempuh hingga antara 6-7 jam, beliau jalani dalam waktu yang sangat lama. Ini merupakan gambaran yang sangat jelas, betapa Pak Malik Fadjar memiliki integritas, komitmen dan tanggung jawab yang tinggi dalam bidang pendidikan.

Kelima, Saya merasakan beliau memiliki jiwa pendidik yang amat besar, luas dan mendalam. Pendidikan menurut pandangan beliau harus berorientasi pada kehidupan anak masa depan. Sehubungan dengan pandangan itu, Pak Malik Fadjar seringkali menyitir pandangan Ali bin Abi Tholib. Selain itu, pendidikan menurut pandangan beliau, tidak cukup hanya mendasarkan pada kurikulum, apalagi yang lebih sempit dari itu. Beliau selalu menyadarkan akan besar dan luasnya kehidupan ini, yang hal itu tidak mungkin dirangkum dalam sebuah kurikulum, atau bahan ajar yang sempit. Pendidikan harus kaya akan nuansa, kata beliau. Para pelajar dan apalagi mahasiswa harus disediakan space yang luas agar mereka mengembangkan kreasi, imajinasi dan pikiran-pikiran cerdasnya. Para siswa dan mahasiswa jangan diberlakukan sebagaimana orang buta yang harus dituntun-tuntun ke sana dan kemari. Cara seperti itu, menurut pandangan Pak Malik justru akan membunuh kreativitas dan petumbuhan jiwa dan nalar anak didik, karena itu harus dihindari.

Beberapa butir yang saya kemukakan tentang Pak Malik Fadjar ini, hanyalah sebagian kecil dari sekian luas pandangan beliau, tentang pendidikan. Selama tidak kurang dari 20 tahun, saya mengikuti Pak Malik Fadjar, banyak hal yang saya dapatkan. Bagi saya, beliau tidak sebatas atasan, tetapi lebih dari itu di mata saya beliau adalah tutor, mentor, sahabat, orang tua dan sekaligus adalah guru saya. Karena itu saya bersyukur, Pak Malik Fadjar dikaruniai oleh Allah usia panjang dan peluang-peluang untuk berkarya dalam memperkukuh keimanan, ketaqwaan dan melakukan amal sholeh yang sekaligus dihiasi dengan akhlakul karimah. Pada hari ini, tanggal 22 Pebruari 2009, Pak Malik Fadjar berulang tahun, genap berusia 70 tahun, dan sekaligus memasuki masa pensiun sebagai PNS. Saya bersyukur, merasa sangat beruntung, dipertemukan oleh Allah dengan Pak Malik Fadjar, seorang yang sangat rasional, inovatif, kreatif dan mampu menangkap Islam dari nilai-nilainya yang amat dalam. Selamat ulang tahun yang 70 Pak Malik, saya ikut bersyukur dan berbahagia, semoga Allah mengaruniai kesehatan dan usia yang lebih panjang lagi. Amien.

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait