Ojo gumunan
Ojo getunan
Ojo kagetan
Ojo aleman



Loading ...

IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Bangsa Yang Masih Terbelenggu


Bangsa ini sudah lebih dari 60 tahun merdeka. Karena itu sudah memiliki umur panjang, lebih dari setengah abad. Pengalaman juga sudah banyak. Pernah dipimpin oleh enam orang presiden secara bergantian. Di antara ke enam presiden itu, ada yang berlatar bekalang sipil, tentara, kyai, dan bahkan juga ilmuwan. Rasanya sudah komplit.

Siapapun mengatakanbahwa negeri ini sangat kaya sumber daya alam sekaligus sumber daya alam. Tanahnya subur, luas, banyak macam tambang, hutan yang luas, lautan, dan posisinya sangat strategis. Demikian juga jumlah penduduknya cukup besar, yaitu lebih dari 230 juta jiwa. Mereka secara intelektual dan apa saja lainnya tidak kalah dibanding warga negara lain.

Tetapi anehnya, dilihat dari kehidupan ekonominya belum terlalu maju secara merata. Memang banyak orang yang telah sukses di bidang ekonomi. Kita lihat misalnya, terutama di kota-kota besar, perumahan mewah ada di mana-mana. Jumlahnya semakin hari semakin bertambah. Selain itu di jalan-jalan kita lihat banyak mobil dan bahkan bermerk mewah berseliweran, hingga menjadikan jalan-jalan macet. Belum lagi pesawat terbang, jumlahnya sudah sekian banyak, dan selalu dipenuhi penumpang.

Namun berbalik dengan gambaran tersebut, masih banyak orang yang sulit mencari lapangan pekerjaan, gaji buruh rendah, terdengar keluhan bahwa biaya pendidikan mahal. Selain itu kita lihat di mana-mana ada perumahan kumuh, yang jumlahnya jauh lebih banyak dari rumah mewah. Juga seringkali masih didapat data bahwa jumlah orang miskin masih puluhan juta. Di kota-kota masih banyak orang mengemis di pinggir jalan, dan bahkan di desa mungkin juga sama.

Beberapa bulan yang lalu, saya menghadiri undangan untuk kegiatan seminar di Sudan. Saya sangat kaget setelah diberi informasi dari pihak kedutaan, bahwa setahun terakhir ini tidak kurang dari 800 orang Indonesia datang ke negeri itu, bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Rasanya aneh, negeri Sudan yang dikenal sama-sama tidak kaya, udaranya pun panas, tanahnya tidak sesubur Indonesia, tetapi masih memiliki daya tarik bagi orang luar negeri, datang ke sana. Mereka itu datang dari negeri yang subur, dan hanya sebagai pembantu rumah tangga.

Melihat kenyataan itu, pertanyaannya adalah apa sesungguhnya yang membelenggu bangsa ini hingga belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi rakyatnya. Mengapa ekonominya tidak segera maju. Pertanyaan sebaliknya, mengapa belum banyak terdengar, bahwa telah banyak orang asing datang ke Indonesia mencari pekerjaan tingkat rendahan. Sekalipun ada, dan ternyata jumlah itu cukup banyak, mereka itu adalah para pengusaha, penanam modal, pedagang, tenaga ahli, yang secara ekonomi berkelebihan.


Sementara orang berpendapat bahwa kelambatan kemajuan bangsa ini disebabkan oleh karena telah sekian lama dijajah oleh Belanda. Pada umumnya bangsa yang dijajah oleh Belanda sulit tumbuh dan berkembang. Namun mestinya juga harus diingat bahwa Belanda pergi dari tanah air ini sudah sekian lama. Sehingga rasanya, jawaban itu seperti dicari-cari dan sulit dibenarkan. Apalagi, generasai sekarang ini sudah tidak ada yang secara langsung mengalami dijajah, dan kalaupun tokh ada sudah sangat sedikit.

Jika demikian, maka belenggu macam apa yang menghimpit bangsa ini hingga sulit bergerak maju. Tentu jawabnya bisa bermacam-macam, misalnya faktor pendidikan, wilayah dan penduduk yang besar, modal, kultur dan lain-lain. Semua itu bisa diuji kebenarannya. Jika belenggu itu adalah faktor pendidikan, misalnya, maka bukankah lembaga pendidikan di negeri ini sudah sedemikian banyak, hampir merata di seluruh tanah air. Bahkan mungkin perguruan tinggi di negeri ini, terbesar jumlahnya di seluruh dunia. Jumlah perguruan tinggi di negeri ini sudah ribuan.

Kalau penyebab itu misalnya adalah struktur organisasi pemerintahan, bukankah berbagai hal kehidupan telah ada lembaga yang mengurus. Urusan pendidikan telah ditangani oleh kementerian pendidikan. Demikian pula urusan lain, maka telah ada kementerian social, kementerian koperasi, kementerian agama, kementerian perdagangan, kementerian pertanian, kementerian pertambangan, kementerian tenaga kerja, dan bahkan ada kementerian yang mengurus secara khusus daerah tertinggal. Maka semua sudah tersedia pihak-pihak yang bertanggung jawab dan mengurusnya.

Oleh karena itu, bangsa ini sesungguhnya masih terbelenggu oleh berbagai kekuatan yang menghimpitnya. Belenggu itu tentu tidak satu, tetapi banyak. Sehingga bangsa ini bisa dikatakan masih kaya dengan belenggu yang menghambat kemajuan. Bolehlah orang mengatakan, bahwa salah satu belenggu itu adalah adanya korupsi di mana-mana. Namun selain itu masih banyak lagi jumlahnya, baik bersifat makro atau pun mikro pada tataran individual.

Mengenali berbagai belenggu itu saya rasa penting. Islam dibawa oleh Nabi Muhammad saw., pada fase awal juga mengingatkan tentang belenggu kemajuan itu. Beberapa ayat al Qurán yang diturunkan pada fase awal adalah juga terkait dengan belenggu yang mengganggu kemajuan. Al Qurán menyebutnya dengan istilah al-Mudatsir, artinya orang-orang yang berselimut. Al Qurán menyeru terhadap orang-orang yang berselimut, agar segera bangkit dan segera memberi peringatan. Selanjutnya, sebagai bagian dari upaya keluar dari belenggu, umat Islam agar segera membersihkan pakaiannya (jiwa raganya), meninggalkan sikap-sikap subyektif, dan perilaku merusak atau angkara murka.

Akhirnya, dengan membaca beberapa ayat di awal surat al Mutdatsir tersebut, apa yang dimaksud sebagai belenggu penghambat kemajuan itu semakin tampak. Di antaranya, memang pada umumnya manusia itu tidak sadar bahwa dirinya sedang terbelenggu. Al Qurán secara tegas menyeru dengan kata al Mutdatsir, artinya orang yang berselimut, atau orang yang membelenggukan diri. Membaca beberapa ayat al Qurán yang diturunkan pada fase awal tersebut, menunjukkan bahwa belenggu itu tidak lain adalah ada pada diri atau bangsa sendiri. Jiwa dan pikiran bangsa inilah yang sesungguhnya sedang terbelenggu. Karena itu, harus dibangkitkan secara bersama-sama. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Ternak Sapi Donggala