IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Bangsa Ini Sedang Memerlukan Jembatan


Jembatan, ya jembatan. Adalah sarana penghubung antara tempat satu ke tempat lain. Biasanya, dua tempat yang dipisahkan oleh sungai, agar orang lewat tidak perlu menyeberang, maka dibuatlah sarana penghubung, yang kemudian disebut jembatan. Panjang atau pendek jembatan itu tergantung besar atau kecilnya sungai yang dilewati. Saat ini, jembatan ada yang berukuran besar dan panjang. Di beberapa tempat, seperti di Sumatera dan Kalimantan, karena banyak sungai besar, maka telah dibangun jembatan- jembatan besar, seperti di atas Sungai Musi, Sungai Mahakam, Sungai Barito dan lain-lain. Sebentar lagi akan selesai dibangun jembatan Suramadu, yang mengubungkan antara Surabaya dan Madura.

Akhir-akhir ini di kota-kota besar juga dibangun jenis jembatan lain, yakni jembatan penyeberangan. Jembatan jenis ini digunakan untuk menghubungkan dua tempat yang dipisahkan oleh jalan raya. Dulu orang menyeberangi jalan adalah hal biasa. Menyeberangi jalan, dulu tidak berbahaya sebagaimana sekarang ini. Sekarang jalan-jalan tertentu, terutama di kota-kota besar menjadi padat. Jika banyak orang melintas, selain mengganggu kendaraan yang lewat, menyebabkan kemacetan dan, juga akan beresiko terjadi kecelakaan.

Bangsa ini sesungguhnya sudah sangat memerlukan jembatan, dalam pengertian lainnya lagi. Yakni jembatan yang menghubungkan antara mereka yang miskin yang jumlahnya sangat besar di negeri ini, dengan mereka yang sekalipun jumlahnya kecil tetapi sudah kaya raya. Kesenjangan ini tidak boleh dianggap sederhana, jika dibiarkan akan sangat membahayakan bagi bangsa di masa depan.

Sementara orang menyebut bangsa ini sebagai bangsa miskin, sesungguhnya sebutan itu tidak seluruhnya benar. Sebab di antara penduduknya, secara ekonomi ada yang kaya raya. Kita lihat misalnya di kota-kota besar, terdapat bangunan hotel-hotel yang menjulang tinggi, pabrik-pabrik besar, pertokoan, mall ada di mana-mana. Pengusaha-pengusaha perkebunan, tambang, transportasi laut, darat dan udara, perdagangan, semua berkembang dan melahirkan orang-orang kaya. Sarana ekonomi raksasa itu, dimiliki oleh orang-orang Indonesia. Tentu mereka itu menjadi kaya raya.

Namun memang, dengan mudah kita menyaksikan rumah-rumah reyot di pinggir sungai, bawah jembatan, bersebelahan dengan rel kereta api, dan juga di pinggir-pinggir jalan, semua kelihatan kumuh, dibangun dengan bahan yang sangat sederhana. Di rumah-rumah sederhana, yang kadang tidak pantas dilihat sebagai rumah manusia itu, tentu penghuninya adalah orang-orang miskin dengan berbagai kekurangan dan penderitaannya. Mereka itu adalah orang-orang tertinggal, tersisih, miskin dan menderita. Umumnya, mereka itu adalah kaum urban, nekat berpindah dari desa ke kota dengan harapan bisa memperbaiki nasip. Atau juga orang yang lahir di kota, tetapi tidak memiliki ketrampilan dan modal usaha, sehingga hidup mereka seadanya seperti itu.

Melihat kenyataan itu, di negeri ini secara ekonomis dan sosial sesungguhnya telah terjadi kesenjangan, gap atau jurang pemisah yang sedemikian jauh, antara si miskin dengan si kaya. Orang miskin sebagaimana orang kaya ada di mana-mana, baik di kota maupun di desa. Jika kita lihat di Jakarta misalnya, di tepi jalan dari Bandara Sukarno Hatta menuju kota, di kanan dan kiri jalan, terdapat perkampungan kumuh yang menjadikan sedih dan prihatin tatkala melihatnya. Jumlah mereka sedemikian banyak, karena itu sangat tidak mungkin kalau para pemimpin bangsa ini tidak pernah melihatnya.

Kemiskinan sangat parah juga ada di pedesaan. Saya sendiri lama hidup di desa, tetapi tidak pernah menyaksikan sebagaimana cerita kawan saya, yang justru bekerja di Jakarta. Ketika menghadiri pesta pernikahan salah seorang stafnya di sebuah desa pinggir pantai di luar Jawa, menyaksikan orang-orang yang sangat miskin. Cerita itu isinya sangat menyedihkan. Pesta belum usai, di luar rumah pesta itu, sudah berkumpul puluhan orang miskin yang berharap mendapatkan bagian dari sisa-sisa makanan pesta tersebut.

Fenomena seperti itu, bagi masyarakat setempat yang umumnya miskin, beberapa saja yang berkecukupan, sudah menjadi pemandangan biasa. Akan tetapi bagi teman yang baru kali itu menyaksikan peristiwa itu, menjadi sedih dan haru. Ia bertanya pada dirinya sendiri, inikah bangsa kita, yang telah lama memiliki dokumen dengan kalimat-kalimat indah yaitu Pancasila dan UUD 1945. Dokumen itu di antaranya mengatakan bahwa kesejahteraan social bagi seluruh rakyat Indonesia. Lebih dari itu, bagi yang muslim, sebut teman tadi, kita sehari-hari juga membaca dan hafal Surat al Ma'un. Di sana disebutkan bahwa salah satu kelompok pendusta agama adalah orang-orang yang tidak memperhatikan anak yatim dan juga tidak mau memberi makan orang miskin.


Jurang, gap atau kesenjangan itu kadang sangat jauh antara kelompok orang-orang yang berlebih dengan orang-orang yang miskin. Kesenjangan itu ada di mana-mana, ada di kota dan juga di desa-desa. Di kota besar, misalnya di Jakarta sekalipun, kita dengan mudah menyaksikan beberapa orang kaya di tengah lautan kemiskinan. Demikian juga di pedesaan, terdapat pemilik tanah yang kaya, mereka hidup di tengah-tengah orang miskin sebagai buruh tani. Para buruh ini hanya sebatas memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, tidak mencukupi, mereka miskin dan benar-benar miskin.

Kemiskinan menurut ajaran apapun harus dihilangkan. Kemiskinan tidak saja menjadikan sebab penderitaan yang bersangkutan, tetapi secara ekonomi juga tidak menguntungkan. Masyarakat miskin bukan menjadi potensi ekonomi, terlebih-lebih terhadap ekonomi modern. Contoh yang amat mudah, ialah tidak mungkin orang miskin dijadikan pasar benda-benda mahal. Membangun universitas modern dengan biaya tinggi tidak akan mendapatkan calon mahasiswa dari komunitas itu, kecuali disediakan beasiswa untuk mereka.

Oleh karena itu, Islam sebagai agama yang ingin mengantarkan umatnya menjadi selamat dan sejahtera, memberikan bimbingan agar selalu berusaha mengentaskan kemiskinan. Dalam Islam ada konsep zakat, infaq, shodaqoh, hibah dan lain-lain. Dijelaskan bahwa tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah. Islam menganjurkan agar umatnya selalu kerja berkualitas atau beramal sholeh. Kaum muslimin oleh kitab suci dan tauladan Rasulnya selalu didorong agar bekerja apa saja yang menghasilkan rizki, sampai-sampai mencari kayu bakar, lalu menjualnya dipandang jauh lebih baik daripada menganggur, supaya tidak jatuh miskin dan apalagi membebani orang lain.

Kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin harus semakin dihilangkan. Konsep untuk mendekatkan si kaya dan si miskin sesungguhnya telah ada. Islam memiliki konsep yang jelas. Jika mau, sebagaimana dilaksanakan di Iran dengan menjalankan khumus. Yakni mengambil dua puluh persen dari sisa pendapatan setiap tahunnya kepada setiap orang, usaha dan pendapatan ekonomi apapun, kemudian di antaranya selain yang langsung diberikan kepada fakir miskin untuk kepentingan konsumtif, digunakan untuk membuka lapangan kerja baru sebagai pintu menghilangkan kemiskinan, ternyata hasilnya baik sekali. Demikian juga di Indonesia, sesungguhnya sudah banyak contoh, bagaimana memobilisasi zakat, yang ternyata jika dimanage dan diorganisasi secara baik, dalam batas-batas tertentu, ternyata berhasil mengentaskan kemiskinan.

Jika konsep dan kemauan sudah ada, maka yang diperlukan saat ini adalah jembatan yang kuat dan kokoh, untuk menghubungkan antara dua wilayah yang berbeda tersebut, yaitu antara kelompok miskin dan kelompok kaya. Hubungan kedua kelompok itu sudah ada, tetapi kadang justru bersifat eksploitatif, yaitu justru lebih memiskinkan bagi yang sudah miskin. Oleh karena itu negeri ini, memang memerlu pemimpin yang sangat kuat, seperti kisah kehidupan Umar bin Khotob. Khalifah ini dalam sejarahnya dikenal sebagai penguasa yang berani melakukan langkah-langkah strategis, dan bahkan berijtihad untuk mengentaskan kemiskinan. Khalifah Umar bin Khotob juga selalu memposisikan diri sebagai jembatan yang kuat dan kokoh antara dua kelompok yang berada pada keadaan yang berbeda itu.

Demikian juga negeri ini sesungguhnya sedang memerlukan sosok pemimpin yang mau dan berani menjadi jembatan itu. Kekuatan penghubung itu sesungguhnya sudah lama ditunggu-tunggu. Setiap lahir pemimpin baru dari hasil proses demokrasi, diharapkan menjadi jembatan, dan bahkan menghilangkannya agar kesenjangan itu tidak selalu menjadi pemandangan hidup, menyedihkan sehari-hari. Harapan itu sedemikian besarnya, tetapi setiap diperoleh pemimpin baru di negeri ini, ternyata bukan peran-peran sebagai jembatan yang dimainkan, melainkan justru menjadi pilar tambahan kekuatan bagi yang sudah kuat. Para pemimpin tidak berpihak pada rakyat yang seharusnya dilindungi, malah justru membela dan melindungi mereka yang telah kuat.

Contoh sederhana tentang hal tersebut, di berbagai kota para pedagang kecil dengan dalih agar tidak mengganggu keindahan kota, mereka dilarang berjualan, bahkan dikejar-kejar agar menyisih. Contoh sederhana lainnya, di tempat-tempat yang semula digunakan sebagai pusat berjualan pedagang kecil, maka atas seiijin pejabat setempat, dibangunlah pusat-pusat ekonomi modern, mall misalnya, yang berakibat mematikan usaha rakyat miskin yang sudah lama berjalan.

Penguasa yang seharusnya melakukan peran sebagaimana dilakukan Umar bin Khotob, -khalifah yang kuat dan berani menjadi jembatan itu, justru berpihak dan bahkan melindungi yang kuat. Sebuah pemandangan yang sangat eronis, kepemimpinan yang lahir, dipilih dan diangkat oleh orang-orang miskin, -melalui demokrasi ini, ternyata justru berpihak kepada orang yang melemahkan kaum miskin itu sendiri. Semogalah hiruk pikuk perebutan kekuasaan yang saat ini sedang berlangsung di negeri ini, dimenangkan oleh calon pemimpin yang berani menjadi jembatan, sebagaimana yang telah ditauladankan oleh sahabat Nabi, Umar bin Khotob, hingga kesenjangan itu suatu saat tidak semakin melebar. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait