IMAM SUPRAYOGO

Foto Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Professor at UIN Maliki Malang



Andaikan Berguru Langsung Pada Nabi


Berikut ini, saya hanya berandai-andai, membayangkan dan sebatas berkhayal, andaikan bisa berguru langsung kepada Nabi. Tentu hal itu tidak akan mungkin terjadi. Rasulullah sudah wafat sejak sekitar 1400 tahun yang lalu. Orang mulia, tidak punya dosa, dan sangat dicintai oleh Allah swt., juga bukan orang Indonesia, tetapi lahir di Makah, bermukim di Makah dan kemudian hijrah ke Madinah. Rasul terakhir ini wafat di Madinah, setelah berjuang menyampaikan misi kerasulannya dan berhasil membangun masyarakat di sana.

Muhammad dalam sejarah kemanusiaan, bukan satu-satunya utusan Allah atau seorang rasul. Ia adalah rasul yang terakhir dari 25 Rasul. Karena itu, ia disebut sebagai khotamul anbiya'. Muhammad saw dikukuhkan sebagai penutup para nabi dan rasul. Menurut keyakinan yang bersumber dari ajaran Islam, ada dua puluh lima utusan Allah, sedangkan Muhammad adalah rasul yang terakhir. Tidak ada rasul lagi setelah kerasulan Muhammad saw.

Perjuangan Muhammad saw., sebagai rasul diteruskan oleh para sahabat, kemudian para tabi'in dan tabi'it tabi'in, dan kemudian dilanjutkan oleh para ulama' dari masa-ke masa, menyebar ke seluruh belahan dunia. Jumlah ulama' yang tersebar itu, dari waktu ke waktu selalu bertambah jumlahnya hingga tidak pernah ada yang mampu menghitungnya. Para ulama' itu lahir dan juga kemudian menyebar luas ke berbagai penjuru dunia.

Berbagai ulama yang sedemikian banyak dan tersebar dalam wilayah yang amat luas, maka perbedaan pemahaman terhadap ajaran yang dibawa oleh Muhammad saw tidak mungkin dicegah. Akibatnya terjadi golongan atau aliran-aliran pemahaman tentang Islam yang bersifat cabang. Perbedaan-perbedaan itu, ternyata dapat dilihat dari berbagai aspeknya. Ada orang yang melihat dari sudut pandang keulama'annya, maka muncul ulama' kalam, ulama fiqh, ulama' tasawwuf, ulama' tarekh, ulama' ilmu tafsir, ulama' hadits, dan masih banyak lagi lainnya.


Sudut pandang lain, orang juga mengkategorisasi sehingga muncul nama-nama ulama', yang dikaitkan dengan domisili masing-masing. Misalnya, muncul istilah ulama' Makkah, ulama' Madinah, Ulama' Mesir, Ulama' Iran, Ulama' Baghdad, Ulama' Basyrah', Ulama' Kuffah, Ulama' Sudan, ulama' Indonesia dan seterusnya. Dilihat dari aqidah dan juga terkait dengan fiqh, maka muncul ulama' sunny dan ulama' Syi'i. dan seterusnya.

Perbedaan-perbedaan itu sesungguhnya bersifat alamiah belaka. Masing-masing ulama yang menyebar ke seluruh penjuru dunia, tentu menghadapi berbagai persoalan yang berbeda-beda. Perbedaan itu terjadi, bisa karena faktor internal ulama sendiri maupun lingkungan yang mengitarinya. Faktor internal misalnya, terkait dengan pribadi dan juga tingkat pemahaman ulama yang bersangkutan. Faktor eksternal, perbedaan itu lahir misalnya karena tantangan alam yang berbeda, komunikasi, budaya, bahkan politik dan lain-lain.

Andaikan semua kaum muslimin bisa berguru langsung kepada Nabi Muhammad, umpama terjadi perbedaan, salah paham, kurang mengerti, dan seterusnya, maka secara langsung bisa mengklarifikasi kepadanya, persis sebagaimana dilakukan oleh para sahabat nabi. Akan tetapi bagi umatnya, yang sudah sekian abad ditinggal oleh Rosulullah dan menyebar ke wilayah yang sedemikian luas, maka semua itu tidak mungkin mendapatkan peluang sebagaimana yang didapat oleh para sahabat nabi tersebut. Akan lahirnya perbedaan-perbedaan itu, ternyata sudah diprediksi oleh Rasulullah sendiri, dan itupun tidak mengapa, dan bahkan akan menjadi rakhmat.

Berpikir sederhana seperti ini, maka boleh saja orang bertukar pikiran, berdebat, dan bahkan beradu argumentasi untuk mencari kebenaran, tetapi yang harus selalu dihindari adalah saling menyalahkan dan menganggap dirinya yang paling benar. Lebih-lebih lagi, jika perdebatan itu kemudian berakhir dengan saling menyakiti, dan memutus-mutus tali silaturrahmi antar sesame kaum muslimin, tentu tidak dibolehkan.

Nabi memberikan nasehat dan tauladan agar semua kaum muslimin selalu bersatu dan saling menjalin tali silaturrahmi, saling memperkukuh, dan bertolong menolong antar sesama. Sebagai bentuk kecintaan terhadap Nabi Muhammad saw., maka seharusnya semua kaum muslimin selalu menjadikan nasehat dan tauladannya sebagai pegangan pada setiap waktu sepanjang hidupnya. Wallahu a'lam.

Iklan

Terbaru

Resiko Kemakmuran



Istilah resiko kemakmuran, saya peroleh dari seorang kyai. Memang terasa aneh, kyai membuat i ...




Terkait

Penghuni Surga



Siapapun berkehendak, agar kelak di akherat nanti masuk surga. Sebaliknya, tidak ada seorang pun ...